• Kisah Hujan

    Hati, tubuh, jiwa, bisa terganti. Namun tulisan-tulisan kita (kemarin) akan selalu abadi. Entah dimana, di negerinya sendiri.

  • Menerka Hujan

    Percayakah kamu kalau saat hujan turun doa kita lebih bisa terkabul? Jadi kenapa tidak mengubah rindu menjadi doa, lalu semoga semuanya baik saja :)

  • Firasat Hujan

    Di Kota Hujan, kadang karena terlalu dingin, jadi terasa perih.

  • Sajak Hujan

    Puisi-puisiku berlari dalam hujan menuju rindu paling deras; kamu.

  • Senandung Hujan

    Ada senandung Tuhan, dalam tiap tetes hujan. Hujan akan tetap menjadi hujan, nikmat Nya yang tak bisa di dustakan.

  • Kota Hujan

    Hujan tahu kapan harus membasahi kota ini. Hujan juga tahu kapan harus berhenti.

  • Hujan dan Kopi

    Karena aroma secangkir kopi juga sebuah cinta.

  • Dongeng Hujan

    Ada yang percaya bahwa di dalam hujan terdapat lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang rindu. Senandung rindu yang bisa meresonansi ingatan masa lalu.

Tentang Menulis

Jumat, 25 Maret 2016

Bagi sebagian orang, menulis bukan lah tentang merapihkan kenangan. Tapi lebih kepada merapihkan tulisan.
Mungkin bagimu akan berbeda.
Tentu saja tak mengapa,
asal jangan pernah kau paksakan tulisanku menjadi bagian dari ekspektasimu tentang duniaku.
Tolong mengerti, ya :)


Menuju kurang lebih enam tahun mencoba menulis, tidaklah pernah sesingkat perjalanan dari rumah menuju kampus. Rapih, tanpa tercerai berai lewat lisan. Kadang lelah, tapi seringnya malah banyak tingkah.
Ini hanya soal waktu.

Buat saya, menulis dan membaca tentang seseorang, adalah permainan menebak teka-teki. Tentang gaya penceritaan yang berpindah-pindah membuat saya membaca dan menulis, sembari menebak hubungan antar karakter. Tapi bukan berarti, setiap orang akan terhakimi karena tulisan dan bacaannya, bukan?

Saya pernah berlari-lari kecil menyusuri selasar trotoar. Saya berlari-lari kencang menyusuri pinggiran jalan.
Kau tahu mengapa?
Saya hanya menuruti orang-orang di sekitar yang terbirit-birit menghindari hujan.
Jika hujan adalah cinta, maka semua orang tentu tidak akan berlari secepat mungkin untuk menghindari jatuhnya.
Sayang, hujan tak sama dengan cinta.
Jatuhnya hujan tidak seperti jatuhnya cinta.
Jika hujan datang,
semua menghindar, mengutuk, lalu mencari perlindungan.
Tak ada yang berani hujan-hujanan bukan?
Kecuali anak kecil yang tak tahu apa itu sakit. Kecuali mereka yang tak takut apa itu basah. Kecuali mereka yang tak tahu apa itu dingin.
Hujan datang dengan waktu. Sama seperti menulis tentang rinai dan basahnya.
Semua orang bisa menyukai tulisan seseorang dengan mudah, atau bahkan membencinya. Tapi tidak semua orang mampu menyimpan teduh, dan berhenti bertanya tentang, "mengapa sekarang begini dan begitu?".

Adakah yang salah dengan perubahan cara berpikir dan pilihan seseorang?
Kamu tidak pernah benar-benar tahu tentang apa yang dialami dan dirasakan oleh seseorang dalam hidupnya. Maka kamu pun tidak pernah berhak menghakiminya dengan perspektif maupun ekspektasimu sendiri, kan? Semua manusia itu sungguh rumit, Maha Hebat Allah mampu memahami setiapnya. Dan kamu, tentu saja tidak :)

Beberapa orang sudah berada di zona nyamannya masing-masing. Merasa tidak ada masalah yang signifikan dengan perubahan orang lain. Perubahan itu progressif, dan progressif itu relatif. Maju ke depan, bukan stagnan, apalagi mundur perlahan. Setiap orang akan selalu diberi kesempatan itu, ya kesempatan untuk berubah. Tapi, ada yang hatinya bertindak sebagai penerima, ada pula yang bertingkah sebagai penolak. Ada yang sibuk menjustifikasi perubahan orang lain, ada pula yang sibuk berbenah. Kamu yang mana?

Ah, ya. Kelak saya masih ingin menulis tentang dinginnya salju di daratan Eropa atau pun negara-negara Asia. Setelah enam tahun menulis, ternyata saya masih belum bisa pegang salju. Haha. Jangan hakimi tulisan saya, ya. Kalau bisa bantu saya sih, boleh. Eh. 



"Ternyata, kita lebih sering mencintai pikiran kita tentang seseorang, daripada orangnya sendiri.” - Kilah.









Read More - Tentang Menulis

Pecandu Luka

Selasa, 01 September 2015


"Kamu tau kenapa perempuan lebih senang diam ketika lukanya semakin dalam?
Karena kesedihan tidak pernah punya suara."





Sebuah catatan kecil (jelang) September,


Hujan: “Sebegitu melelahkannya ternyata. Seharian penuh memaksakan diri untuk tertawa.”

Senja: “Hahaha. Ternyata kamu masih pintar bermain kamuflase dengan luka.”

Hujan: “Iya.”

Senja: “Sudah kubilang kan, belajarlah menikmati senja. Sederhana saja, aku akan menggenggammu ketika malam begitu gulita.”

Hujan: “Iya, sudah. Aku belajar melukis jingga pada setiap senja. Aku mulai berani melangkah dalam gelap.”

Senja: “Lalu sekarang, coba hentikan cangkir-cangkir kopimu perlahan. Sederhana saja, aku akan mengajarimu minum teh dengan meletakkan gula pada tiap tegukannya.”

Hujan: “Iya. Belakangan, aku semakin jarang minum kopi. Terimakasih, ya. Tapi kamu tahu sesuatu?”

Senja: “Apa?”

Hujan: "Sekarang kamu juga jauh lebih pintar.”

Senja: “Pintar apa?”

Hujan: “Pintar melukaiku.”



*Kamu tahu kenapa aku kurang suka waktu senja? Karena pada senja, kita selalu banyak menitipkan luka.

Read More - Pecandu Luka

Elegi

Jumat, 14 Agustus 2015
Mengapa kita menutup mata ketika kita tertidur,
ketika kita menangis, ketika kita membayangkan,
dan ketika kita merasakan ketakutan?
Itu karena beberapa hal terindah di dunia ini tidak terlihat.
Begitu pun hal-hal yang terlalu melukai.
Mereka tak pernah benar-benar terlihat,
tetapi selalu bisa dirasakan sedalam-dalamnya.

Beberapa hal yang tak terlihat itu nyatanya mampu membuatmu begitu ingin pergi. Mungkin ke gunung tertinggi, atau bahkan ke lautan terdalam.



- meskipun terkadang, kau tidak penah benar-benar ingin pergi. Hanya membutuhkan sebuah genggaman tangan, yang memintamu tetap bertahan.


Sebuah catatan pagi, 14 Agustus 2015.
Read More - Elegi

Hey, kamu tahu?

Minggu, 26 Juli 2015

Hidup adalah tentang pilihan; tentang membentukmu menjadi seseorang dengan apa-apa yang kau pilih. Tentang seperti apa kau ingin dikenali, tentang dengan cara apa kau ingin menuju Tuhanmu. Tentang bagian mana dalam hidupmu yang ingin mereka ketahui. Tentang masa depan seperti apa yang membuatmu nyaman.

Kamu tahu, aku belum memutuskan. Aku hanya sedang mencoba menentukan pilihan. Jadi jangan bercanda dan merasa yakin untuk menjadi yang terpilih, ya :)
Kelak, ketika hatimu terluka karena pilihanku atau pun karena pilihan seseorang. Ketika kemudian kamu menjadi begitu kecewa bahkan untuk sekedar bertemu. Ketika air matamu mengalir begitu saja mengingat apa yang telah terucap. Ketika rasa perihmu mengalahkan rasa cintamu.

Mungkin kamu hanya perlu melapangkan hati yang sempit, melapangkan dengan seluas-luasnya, dan menyiapkan sebuah ruang untuk memaafkan. Melepaskan segala rasa sakit dan kecewa, dan kemudian mencoba berdamai dengan dirimu sendiri.

Tentang orang yang melukai, mungkin dia sedang gamang pada kebahagiaannya sendiri. Jadi tentu saja, dia yang menyayangimu dengan tulus tidak akan melibatkanmu dalam kegamangannya yang sendu.



Ingat ya, kamu tahu, aku belum memutuskan. Aku hanya sedang mencoba menentukan pilihan. Jadi jangan bercanda dan merasa yakin untuk menjadi yang terpilih :)


 


...dan sejujurnya, terkadang perempuan memang butuh waktu untuk sendiri, lalu ia akan memilih miniatur rute perjalanan singkat yang sedang ingin dituju. Semacam pusat perbelanjaan, kedai kopi, atau tempat perawatan. Hahaha. Abaikan.

 

 


 

 

 


 
Read More - Hey, kamu tahu?

Tentang Senja

Rabu, 24 Juni 2015

Yogyakarta, Ramadhan hari ke 6 at 02;15 am.


Sebuah perjalanan, bagaimana pun bentuknya, akan memberi persepsi baru tentang hidup.

Pukul tiga, aku tergesa gesa. 
Segera kurapikan meja, membersihkan jendela, lalu memastikan tak ada debu yang menempel di sana. Aku harus bergegas sebelum pukul lima, sebelum senja menampakan jingganya, sebelum kamu tiba terlebih dahulu di sana.

Lalu senja itu kita bicara dalam diam, hanya kita yang mengerti.
Aku. Kamu. Menikmati waktu.
Aku. Kamu.
Sepotong senja.
Tentang aku, secangkir kopi, dan sebuah ingatan.
Seperti biasa, meski di langit mana pun senja kita tetaplah begitu.
Senja yang teramat sederhana. Tapi selalu kusuka.
Karena senja tak pernah berdusta soal warna. Katamu.

Ah ya, aku sudah bilang padamu belum? Sekarang, aku sedang belajar untuk tidak lagi minum kopi saat senja tiba.


Beberapa hal mungkin tak pernah kamu dengar dariku. Bahwa cinta pernah kumiliki serupa debar yang tak pernah bisa kujelaskan mengapa. Aku hanya sanggup berjanji tidak akan melukaimu. Itu saja.
Namun ternyata benar, setiap manusia berhak untuk merasa lelah tanpa dipaksa bangkit, berhak untuk merasa sedih tanpa dipaksa senyum. Segala luka akan sembuh pada waktunya. Karena Tuhanku senantiasa mencintaiku lebih dari yang aku perlu :)

Untuk setiap tawa yang Kau hadirkan dalam keseharian, Tuhanku, terima kasih banyak ya.
Untuk semua teman baik serta menyenangkan yang Kau datangkan dari mana saja, Tuhanku, beribu ucapan terima kasih pun rasanya tidak akan pernah cukup.
Untuk segala doa yang terus menerus merengkuhku dari jauh, untuk semua kebaikan yang selalu berebut datang kepadaku,
juga untuk semesta yang tak pernah alpa tersedia, aku sungguh-sungguh mengucap terima kasih.
Untuk segala doa dari seseorang rahasia yang menemaniku belakangan, terima kasih telah mempertemukan kami dipersimpangan jalan sehingga kami bisa saling mengerti.

Maka nikmat Tuhanmu mana lagi yang dapat kau dustakan?
Jawabannya tentu saja tidak ada, Tuhanku.
Tidak akan pernah ada.
Terima kasih banyak karenanya.


 Permisi. Kau masih ingat hati yang dulu kau hancurkan?
Ternyata ia selamat dan bertambah kuat.
Tapi maaf, bukan lagi untukmu :)



*dedicated to; my best friend Diana from Sudra caste. Huahahaha.
Read More - Tentang Senja

Gerbong Kereta

Rabu, 08 April 2015
Pada suatu hari, aku menemukanmu;
di sisi gerbong kereta.

Kedua tanganmu bertumpu pada meja kecil di tepian bangku, menyangga sebuah dagu dan sepasang mata yang menatap keluar jendela, pada sebuah perjalanan dalam ribuan perjalanan di pikiranmu.
Sebuah perjalanan panjang yang ditumbuhi pepohonan rindang, tiang listrik yang tampak berjalan, angin semilir, dan padang rumput yang bergoyang-goyang.

Suara berisik roda kereta yang beradu pada rel besi panjang, hiruk pikuk para penjaja yang memaksa masuk, dan teriakan peluh menjadi terabaikan oleh teduh di peluhmu.

Semenjak itu, 
aku ingin mengenalmu. 
Aku ingin membuka satu gerbong kereta khusus tentangmu; yang namanya adalah namamu, dengan gelas kertas berisikan kopi pekat pada tiap tepian jendela kacanya. 
Dan di bangku panjangnya, ada sebagian dari hidupku dengan kata-kata yang tersusun rapi tentang perasaan yang rumit. 
Lalu di luar kereta, akan membentang berhektar ladang yang dihiasi lampu pijar temaram pada malam-malam yang menjelang.

Tentu saja. Masih di gerbong kereta khusus tentangmu; yang namanya adalah namamu.


Read More - Gerbong Kereta

Penyihir

Kamis, 26 Maret 2015



Siang begitu terik.
Secangkir moccacino panas di dalam cubicle tetap menjadi pilihan yang terbaik untukku.
Tapi buatmu, selalu espresso lah yang paling pantas menemani berlalunya hari.
Selera yang masih tetap berbeda, seperti biasa. Mungkin karena sedalam apapun cara kita menyesap secangkir kopi; tetaplah sesapan itu terkadang harus terhenti, untuk kemudian diteguk kembali dengan perlahan atau pun tergesa, dengan kedalaman rasa yang berbeda.

Terkadang aku ingin menjadi penyihir saja. Penyihir yang punya ribuan mantra; menyulap setiap hati yang terluka menjadi bahagia, menyulap kita untuk terbang lebih tinggi di angkasa, menyulap setiap impian untuk kemudian menjadi nyata.

Lalu ketika kelak kopi-kopi kita menua menjadi ampas kopi yang berkerak pada setiap dasar cangkirnya, maka sebagai penyihir aku akan mengubahnya kembali hangat dan penuh cerita senja. Bahkan ketika cangkir itu menumpahkan kopinya karena tangan-tangan rusuh kita, aku pun dengan mudah akan mampu mengubahnya menjadi utuh seperti sediakala.


Ah. Aku sedang tidak ingin menjadi seorang pendidik, aku sedang ingin menjadi penyihir saja.

*Sepertimu; ketika menyihirku menjadi tegar dan dewasa, tentu saja :)

Read More - Penyihir

-thought under the rain-

Rabu, 18 Maret 2015


Di antara banyak kesempatan yang hidup sudah berikan,
ada kalanya kamu sedang tidak ingin peduli;
apakah saat ini kerudungmu berantakan, kulitmu mulai memucat,
atau sepatu kesayangan basah terendam hujan.
Apakah letih masih ditemukan dalam kebersamaan,
apa perjalanan cinta kelak mencapai ujung jalan;
dan apakah kamu akhirnya bahagia bersama sang pangeran.

Tapi diam-diam sesuatu tetap menggelitik pelan.
Di antara sekian banyak ketidakpedulian yang berusaha kau abaikan,
kamu tahu hati kecilmu tetap merindukan keajaiban,
menghidupi kembali cinta yang dibiarkan tergeletak di pojokan.

Lalu kamu mengijinkan seseorang untuk melukis harapan-harapan.

Tentang keberanian untuk menghampiri terang,
yang biasanya cuma diintip diam-diam;
padahal di sana lah tiap bagian darimu disempurnakan.
Tentang iman bersayap yang membuat langit terbuka,
tentang jiwa yang hidup ketika berani bahagia.


...dan kemudian di bawah hujan, kamu berpikir;
untuk kembali peduli.
Read More - -thought under the rain-

Sesederhana itu...

Jumat, 13 Maret 2015
"Mencintaiku tentu tak perlu menjadi sesuatu.
Cukup menjadi dirimu.
Dengan balutan cinta yang menyatu di segala waktu.
Sesederhana itu."


Maka ketika terkirim sebuah cinta, tentu cinta yang sederhana saja.
Karena kurasa ia adalah seseorang teristimewa,
sebab Tuhan telah memintanya menjaga seorang wanita; yang biasa saja.


*dan kemudian tulisan pertama di bulan Maret; setelah semua luka, tawa, air mata, juga melupa. Entahlah.
Read More - Sesederhana itu...

Kapan kita ke mana?

Kamis, 11 Desember 2014
Buatku tak ada yang berubah. Musim tetaplah begitu; kemarau berkepanjangan atau penghujan yang lebih deras dari kumpulan gerimis di bawah mata. Semua masih sama. Matahari terbenam akan selalu menjadi penanda; ke mana aku harus pulang.
Ada perjalanan yang kamu tidak perlu mengerti ujungnya.

Ada perjalanan yang entah dalam benak.
Ada perjalanan yang hanya menginginkan untuk mencoba.
Ada perjalanan yang memaksa sendirian saja.
Ada perjalanan yang menuntun berdua.
Ada perjalanan yang menyakiti.
Ada perjalanan yang meragu.
Ada perjalanan yang memberi kepastian bersama waktu.
Ada perjalanan yang memacu sendu.
Ada perjalanan yang menggelegak tawa.
Ada.

Pasti ada.

Kapan kita ke mana?



*Yang mesti diwaspadai dalam sebuah perjalanan bukanlah waktu, tapi langkah kaki. Waktu akan terus melaju, sementara langkah kaki kapan saja bisa terhenti. Entahlah ~
Read More - Kapan kita ke mana?