• Kisah Hujan

    Hati, tubuh, jiwa, bisa terganti. Namun tulisan-tulisan kita (kemarin) akan selalu abadi. Entah dimana, di negerinya sendiri.

  • Menerka Hujan

    Percayakah kamu kalau saat hujan turun doa kita lebih bisa terkabul? Jadi kenapa tidak mengubah rindu menjadi doa, lalu semoga semuanya baik saja :)

  • Firasat Hujan

    Di Kota Hujan, kadang karena terlalu dingin, jadi terasa perih.

  • Sajak Hujan

    Puisi-puisiku berlari dalam hujan menuju rindu paling deras; kamu.

  • Senandung Hujan

    Ada senandung Tuhan, dalam tiap tetes hujan. Hujan akan tetap menjadi hujan, nikmat Nya yang tak bisa di dustakan.

  • Kota Hujan

    Hujan tahu kapan harus membasahi kota ini. Hujan juga tahu kapan harus berhenti.

  • Hujan dan Kopi

    Karena aroma secangkir kopi juga sebuah cinta.

  • Dongeng Hujan

    Ada yang percaya bahwa di dalam hujan terdapat lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang rindu. Senandung rindu yang bisa meresonansi ingatan masa lalu.

S P E K T R U M (I wanna play with shadows)

Sabtu, 10 Desember 2011
Pada lautan air mata kita belajar,
untuk kepedihan yang mendidik kita agar tak gentar.........
Bertahan menjadi akar, dan bersemi pada keteguhan yang mekar.
Begitulah sejarah menuntut kita untuk melangkah kembali,
meniti tangga hari, berdiri, dan bangkit untuk kemudian berlari...

Kau tahu jiwa tentang yang bernyanyi? Ia selalu bermesraan di sepertiga malam. Ia terkadang berbisik. Terkadang merintih. Terkadang merangkai kata. Hanya untuk memenuhi hasrat cintanya. Pada apa yang digariskan Tuhannya. 
Kau tahu tentang jiwa yang menari? Ia selalu terdiam pada siang yang terik. Mengusap peluh perlahan, dan berjanji untuk mimpi yang terbaik. Hanya untuk menyeka air mata saudaranya yang tercabik, atau sekedar memenuhi hasrat rindunya. Pada apa yang diisyaratkan Tuhannya.

#Menulis tentang Dinda...

          Gadis manis dengan dua lesung pipit bersemi di pipi kanan dan kirinya. Tubuhnya kurus, matanya bersinar jeli, dan suaranya melengking tinggi di antara kawan-kawanya. Seolah tak pernah ada kesedihan yang tersirat di wajah mentarinya. Gadis yang ramah di mataku. Selalu ada sapaan hangat yang keluar dari mulutnya di saat kita bertemu. Masih kuingat, bagaimana wajahnya berbinar penuh harapan ketika dengan malu-malu ia meminta ijin untuk mengikuti kelasku. Masih teraba dengan jelas, bagaimana usahanya untuk membuatku tampak senang karena ia senantiasa mengikuti instruksiku dengan baik. Pun masih terekam dalam ingatan, betapa aku tampak sangat terkejut melihat kehadirannya diacuhkan oleh kawan sepermainannya.
          Malam itu ia menangis sesenggukan di hadapanku. Jilbab putihnya basah oleh air mata yang tampak begitu memerihkan. Tubuh mungilnya terguncang hebat. Wajahnya tampak acak-acakan dengan anak rambut yang berlarian keluar dari balik kerudungnya. Ahh..andai kau tau, Dinda. Aku sungguh tak pernah ingin mendengar tangis itu di balik keceriaanmu. Andai mampu kuputar waktu sesuai mauku, tentu takkan pernah kubiarkan kau menangis sendirian di atas kasurmu karena nilaimu yang merosot tajam di sekolah. Andai aku mampu menggandakan diriku satu setengah tahun yang lalu, dan berada di sini sebagai konselingmu....tentu takkan pernah kubiarkan mereka menyakitimu, menuduhmu, dan melukaimu sedalam itu. Bahkan andai sekarang aku menjadi jenius dan mampu menciptakan ruang waktu, tentu akan kuhapuskan memori tentang sayatan yang kini telah berkarat di hatimu.
“Aku memang udah ga punya orang tua, Ustadzah. Tapi aku masih ingat, ketika aku kecil...Ibu selalu mengajarkanku kejujuran dalam segala hal. Jadi ga mungkin aku yang mencuri uang teman-teman.” Katamu payah, dalam sesenggukan yang tak kunjung reda.
“Dinda, coba dengar saya. Kamu bisa menjadi apapun yang kamu inginkan. Selama mentari masih bersinar, dan bumi masih berputar..tentu akan ada harapan bagi setiap perubahan. Ketika kamu merasa seluruh dunia menentangmu dan memandangmu sebelah mata, maka buktikan..bahwa kau layak dipandang dengan kedua belah mata mereka.” Kataku perlahan, kalut.
“Lalu siapa yang akan mempercayaiku? Ketika semua orang telah memikirkan hal yang sama dan menghakimiku dengan pikiran mereka masing-masing?” Keraguan  terucap jelas dari mulutmu.
“Saya. Jika di antara sekian ratus kawanmu, hanya saya yang akan mempercayaimu dengan hati dan bukan karena saya konselingmu..maka apakah kamu akan mengecewakan saya kelak?”
Hening...dan isak tangis itu perlahan menghilang. Kepercayaan adalah sesuatu yang dilahirkan, dan bukan dibuat berdasarkan kebutuhan.

#Melukis tentang Atra...

          Pandangan matanya lurus menatap langit-langit kelas, dinding-dinding ruang, dan sudut-sudut kertas yang berserakan. Ada sebuah kepolosan di sana. Aku tak pernah benar-benar mengerti. Ada sepercik harapan di sana. Pun aku masih tak mengerti. Digumamkannya huruf-huruf yang bertebaran pada lembaran buku di hadapannya. Sama sepertinya yang tampak bimbang, aku pun tengah kalut dan bertahan dengan kecamuk pikiranku. Huruf itu makin tak beraturan dibuatnya. Terlipat-lipat. Terbolak-balik. Tercabik-cabik. Dan akhirnya terbaca dengan liar.
          Diseleksia. Retardasi mental. Adakah kata lain yang lebih nyaman untuk membahasakan kisah ini bagi seorang Atra? Tentang Atra dan dunianya. Mungkin aku hanyalah bagian terkecil dari kebahagiaannya. Bahkan mungkin ia sangat membenci huruf-huruf yang kerap kali kusodorkan, begitu pula dengan kehadiranku pada tiap imaginya. Setidaknya itulah yang selalu kupikirkan tiap kali bertatapan dengan bening telaga di wajahnya. Hingga suatu hari, sebuah pelukan hangat mencoba membahasakan kerinduan. Tubuh mungilnya hinggap dan menguatkanku. Membuatku kembali yakin, bahwa aku akan mampu merubahnya menjadi "seseorang" di masa yang akan datang dengan segala keunikan yang ia punya.

#Merangkai tentang kita 

          Cukup. Aku sedang tidak ingin membicarakan tentang siapapun dan apapun. Aku hanya ingin kembali menulis. Itu saja. Ketika hujan ini datang, aku hanya ingin menghadirkan distorsi yang mmbentuk bahasa manis dalam aksara kata. Mulanya aku mencoba menulis tentangmu. Menjadikanmu sebagai poros ide pada setiap bait yang kurangkai. Namun rumit. Sulit. Menghimpit. Meski pada kenyataannya kau pernah mengijinkanku menulis untukmu, tapi tetap saja aku tak mampu. Mungkin itulah sekian dari ketidak sempurnanaanku dalam dimensi kita. Terkadang, itu pula yang membuatku ingin berkata pada Tuhan untuk menghapus sedikit saja jarak yang tergores. Atau setidaknya, memberiku kekuatan penuh untuk tetap berlari pada masa depan yang sama denganmu. Karena sejujurnya aku enggan menjadi utara dan membiarkanmu menjadi selatan. Lalu kita sama-sama kebingungan, menentukan arah dan titik untuk bertemu.

          Menurutmu aku sedang menulis apa? Menulis tentang hidupku yang berupa hamparan kertas, atau menulis tentang kamu yang menjadi gunting dalam tiap gulunganku? Jujur saja, terkadang aku ingin menjadi bagian dalam salah satu kisah rekaanmu. Karena kurasa, hidup ini sudah terlanjur rumit. Dan aku bosan menjadi satu bagian saja dalam hari-harimu. Mungkin hanya siang, tapi tidak menjadi malam. Atau mungkin hanya malam, dan tidak menjadi siang.


Photobucket
         
         :: Aku memandang senja dari balik jendela kamar. Langit berwarna keemasan, bersenyawa dengan ratusan warna yang membias muncrat memenuhi mega. Senja kali ini muram,seperti kemarin dan kemarinnya lagi. Aku tidak galau. Tidak juga rindu. Terlebih lagi gerimis. Entah kenapa akhir-akhir ini aku hanya ingin menulis tentang banyak hal yang berbeda, berserak, untuk kemudian menyatukannya meski aku sendiri tak mengerti. Rasanya melayang. Seperti kupu-kupu bersayap elok yang terbang melintasi beranda, ranting pepohonan, bubungan rumah, hingga menuju angkasa. Bebas. Tanpa sedikitpun cemas. Seperti gerimis yang mampu membawa pelangi di senja hari, aku ingin sekuat itu.
          Hidup ini mungkin seperti lembaran novel. Ada bagian yang ingin kucatat ulang untuk kemudian kuhapalkan baris demi barisnya. Adapula bagian yang tak ingin kusentuh sama sekali. Tiap-tiap bagian adalah sebuah karya. Tentunya bukan mahakarya yang tak pernah ingin kau selesaikan bukan? Aku ingin mengukir jalanku. Ada banyak hal yang menunggu untuk kau renungi, kau hadapi, juga kau raba kembali. Membaca ulang tentang Dinda, Atra, ataupun sang inspirator yang takkan pernah kutemui lagi di kemudian hari. Begitu pula dengan kisahmu hari ini. Hargailah sang waktu, dan cintailah apa yang ada di hadapanmu meski kau tak ingin. ::
“Karena kamu suka hujan, menjadilah seperti ia.” Katamu.


Pernahkah kau menulis tanpa rasa? Maka beginilah (mungkin) yang saya maksud...hambar..tanpa saya pun mengerti apa yang saya tulis.. -____- *penat*
Read More - S P E K T R U M (I wanna play with shadows)

All We Need is L O V E

Kamis, 13 Oktober 2011
"Pernah kah  kau berpikir, bahwa dunia tempatmu berpijak teramat luas...
hingga sejenak kau terlupa, bahwa ada begitu banyak sudut di sekelilingmu....
....................................mengitari tiap langkahmu.......................................
dan setelah begitu jauh kau melangkah dan berlari, kau tersadar...
tentang bisikan sudut yang terus memperhatikanmu, menyayangimu dalam tiap desahan, dan menantikan tawamu meski perlahan....
Lihatlah...!! Dia masih di sana, hingga kau tak mampu lagi percaya..."

Yogyakarta, 18 Juni 2011
Assalamu'alaikum, Kakak...
Selamat pagi....semoga harimu indah, Kakakku. Kuatkan langkahmu ya, usap air matamu, dan berlarilah ke arah yang jauh untuk tiap tawamu. 
Kak...bolehkah aku sedikit bercerita tentangmu pagi ini? Sedikit kisah tentangmu, dan tentang kita. Sejenak terdiam...untuk mengingat arti kehadiran pada tiap-tiap partikel yang berputar dalam imagi kita. Boleh ya?

Ada jarak belasan tahun terbentang antara kita. Ada rentang masa begitu jauh antara dunia kita. Ada perbedaan yang tak mampu kita tutupi dalam kebersamaan ini. Namun tentu saja, tak pernah ada protes yang cukup berarti tentang semua itu. Karena aku dan kamu sama-sama tahu dan mengerti, bahwa itu lah takdir kita.

Di saat kau mulai sibuk berlari dengan seragam putih abu-abu kebangganmu dan meneriakkan kedewasaanmu, aku masih di sini, Kak....menatapmu dalam diam dan kekagumanku, seraya menggumam dalam hati, bahwa suatu saat aku pun ingin sepertimu.

Di saat ayah dan bunda menciummu penuh haru ketika kau kembali mendapat peringkat pertama di bangku SMU tingkat akhir, aku pun masih di sini menatapmu malu-malu...dan terus berharap, bahwa kelak peluk dan cium itu juga menjadi milikku...

Lalu kau pun menginjak masa-masa kuliah. Siapa yang tak mengenalmu di kampus itu? Seorang gadis belia dengan segudang prestasi dan keceriaan yang seolah tanpa terbatas. Sementara kau di sana mencoba berjuang untuk gelar sarjanamu, aku masih di sini dan tertatih memasuki bangku SD kelas satu.

Seperti yang kukatakan sebelumnya, jarak kita begitu jauh Kak....hingga kadang, kita terlalu letih untuk meraba dan menyulam tiap jeda yang tercipta.
Pagi itu kau begitu cantik di mataku, Kak. Seraut wajah mentari berbalut kerudung jingga, dengan sebuah terusan senada. Kau tautkan wajahmu di depan kaca kamar kita. Kau coba serasikan warna, rapikan ransel, juga poleskan sedikit warna di wajah ceriamu. Kau tau...aku begitu menyayangi dan mengagumimu...pagi ini...pagi yang lalu...juga pagi-pagi berikutnya. 

Sementara kau bersenandung riang di sana, aku pun tengah bersiap untuk memasuki hari pertamaku di bangku SD kelas dua. Bunda masih membantuku berkemas, sementara kau terlihat begitu mandiri dan membuatku sedikit iri. Ini hari pertamamu masuk kerja, Kak.... Dan di saat yang sama, ada begitu banyak sarjana yang lelah berputar-putar ke sana kemari dengan secarik kertas ijazah yang tak jua dilirik oleh lembaga bergengsi di negri kita Tapi kau justru mendapat panggilan kerja dengan begitu mudahnya hingga kau harus memilih yang terbaik di antara mereka. Padahal, kau masih harus menyelesaikan semester 8mu dan juga skripsi yang akan menjadikanmu seorang sarjana. Ahh...sekali lagi..aku sungguh ingin sepertimu, Kak...

Siang ini aku pulang cepat, Kak....karena di sekolahku akan ada ada rapat komite. Kau tau? Betapa senangnya aku ketika  mendapatimu tengah duduk bersantai di ruang tengah. Aku merindukanmu. Begitu sulit kuingat, sejak kapan kita tak lagi tertawa bersama. Kita tak lagi bermain hujan, atau pun saling menebak kata seperti yang dulu sering kita lakukan di waktu senggang.

Beberapa detik dalam keheningan, dan aku hanya mampu mendesah kecewa. Sebuah ketukan halus terdengar di pintu rumah kita. Tak lama berselang, kau kembali tertawa ceria. Ada mereka di sisi kanan dan kirimu. Ada kebahagiaan yang tak pernah mampu kuraba tentangmu. Ada kisah yang tak pernah mampu kuterka tentang hidupmu. Mungkin bagimu, hanya merekalah yang akan mengerti tentang letupanmu di masa dewasa. Mungkin dalam benakmu, hanya merekalah yang mampu memahami luka liku kisah cinta dalam hidupmu. Karena sekali lagi....terlalu jauh jarak rentang terbentang antara kita berdua, Kak. Kau dan kawan-kawan kampusmu, kau dan kawan-kawan kantormu, kau dan sahabat-sahabat mayamu. Ahh...jarak ini terkadang menyisihkanku, Kak....

Kemudian aku kembali ke dalam duniaku. Dunia di mana aku harus mendengar begitu banyak suara tentang kesuksesanmu. Dunia di mana aku tak mampu mengenyahkan jurang menganga antara kita berdua. Aku merindukanmu, Kak....

Maka pagi ini aku ingin menulis sedikit tentangmu. Kak, aku sangat menyayangimu. Ada ribuan mil jarak terbentang dalam rekaman memori kita. Ada ratusan ide berjejalan meletup tak beraturan dalam dimensi ruang kita. Namun kau tau, kak? Aku tak pernah peduli...!! Karena aku hanya membutuhkan sedikit waktumu di antara sekian rutinitas yang ada dalam agendamu. Sedikit saja. Mungkin kita bisa bermain halma bersama, menulis bersama, menyanyi bersama, atau...apa saja yang kau mau, Kak....
Asalkan itu denganmu....maka aku akan bahagia.
Karena terkadang..buka keramaian yang kita inginkan,
melainkan secuil hening, yang hadir bersama sebuah pelukan hangat....
Mungkin kau akan marah ketika membaca tulisanku tentangmu, namun aku hanya ingin kau tau sesuatu. Kelak, saat aku tlah dewasa....aku tentu akan menjadi sepertimu...dan aku takut, jika kita saling melupakan tentang sebuah sudut, di mana kita pernah mampu saling menatap dan sejenak membisu,,,untuk kemudian berbisik perlahan...bahwa aku dan kamu mungkin saja pertautan mentari dan senja. Di mana pada sebuah titik,,,kita lebur dan berjalan searah tanpa menoleh ke belakang untuk menatap bumi yang hampir lumat oleh guratan masa lalu. Maka sekarang aku akan menulis tentangmu, dan berbisik di telingamu dalam tidurmu yang lelap... 
"Kak, aku mencintaimu. Dan tentu saja, merindukan tiap celoteh tentangmu....dan tentang KITA..."

Salam cinta selalu, adikmu...
di antara ribuan jarak yang angkuh membatasi pertautan kita...

"Note ini saya tulis, karena saya terinspirasi oleh adik saya... di mana pada suatu senja, saya pernah mendengar celotehnya samar melalui pintu kamar saya, "Mi, mbak Nick ke mana sih..?? Kok sekarang sering menghilang gitu aja ya...kadang ada, eh..dan tiba-tiba udah pergi lagi...."
Ringan ya....tapi cobalah kau rasakan sebuah hempasan keras...saat ternyata, ada seseorang di sebuah sudut yg terus memperhatikanmu....dan mencoba meraih waktu tentang tawamu meski tanpa kau sadari...(dalam diam)..."     <<Eh, tapi yang ini fiktif lho yaaaaa.... :P>>
Dedicated to : All my friends...in my circle of friendship..Do u know? That u're like a sibling in my life..
"Cobalah sejenak kau pejamkan matamu, rebahlah dari aktivitas lelahmu...dan pandanglah    sekelilingmu. Akan kau temukan berjuta warna menjadi bayangmu, memandangmu dari tiap penjuru,,,dan tentu saja menyayangimu. Maka pastikan, bahwa kau akan membalas C I N T A mereka..!!"  ^_^








                                                                                                                                    








Read More - All We Need is L O V E

Solitude Hujan dan Bintang

Senin, 12 September 2011


Aku sedang ingin menulis. Aku ingin menulis tentang kehidupan pribadiku. Entah apa yang akan kalian rasakan setelah membaca kisahku ini. Tapi aku berharap...kalian iri padaku ya...hahahaha...#stres
“Tahun pun turun membuka sayapnya,
ke luas jauh benua-benua
Laut membias : warna biru langit tua
Zaman menderas : manusia tetap setia.”
Pernahkah kau lihat bagaimana mentari berbicara tentang lelah pada sinarnya? Pernahkah kau lihat, bagaimana deburan ombak meneriakkan keluh..menghembuskan kesah pada tiap-tiap tepian pantai yang pernah ia jumpa? Atau,,,pernahkah kau dengar bisikan perlahan dari gumpalan awan hitam, untuk rinai hujan yang selalu membuatnya tertahan? Aku tersentak dalam diam...bergeming..dan mengaitkan jemari pada kekalutan panjang.
Mars  :  Kenapa kau meminangku, mau menikahiku, dan menjadikanku sebagai bagian dari hidupmu?? 
Venus : Sebab tanpamu, takkan pernah ada pernikahan bagiku...
                                            .......(hening)........
Bangku panjang yang kududuki terasa begitu dingin. Desiran angin membuatku mengatupkan rahang lebih erat. Kucoba memberikan aliran hangat pada ujung jemari yang terasa membeku, juga sebuah energi baru pada dinding-dinding syal yang mulai rapuh dan mengembun demi menahan serpihan gunung es yang berdiri tegak tak jauh dari tempatku termangu. Perlu sejuta ketegaran untuk membuatku tetap bertahan dan berpijak pada ruang yang tak terhempas.

Mataku beralih pada sebuah sudut temaram, di mana siluet dua sosok usia senja tampak berpadu pada waktu yang telah berpaling dan membiarkan mereka kusam dalam putaran zaman. Seolah tak peduli pada gilasan masa, mereka saling melindungi dari dingin dan berbagi kehangatan. Entah sudah berapa generasi telah mereka lewati dengan mengabaikan kesedihan dan menyuarakan tawa berdua saja. Aku beringsut dari tempatku beradu dengan nurani. Menjauh perlahan. Namun aku tahu pasti, bahwa harapanku masih tergantung di sana.

Seperti seseorang di titian masa yang tengah kehilangan arah, aku kembali menelusuri jalan itu dengan perasaan tak menentu. Jalan ‘mengejar matahari’, begitu katamu dulu. Dengan sebuah kertas yang kau lambaikan perlahan di hadapanku, kau mencoba menguraikan tentang arti kesetiaan dengan senyum yang tak kunjung hilang dari wajahmu. Katamu, persahabatan adalah sebuah ikatan untuk kesetiaan cinta yang tak mungkin usai. Benarkah? Ahh...aku sampai lelah berpikir...mengapa dulu aku begitu mempercaimu, bahkan hingga sekarang...aku tak berhenti untuk terus mengagumimu.

Masih kuingat bagaimana senja itu kau berlari menghampiriku di bawah sengatan mentari yang mulai redup menyilaukan. Hanya demi sebuah pena dan sebuah kertas lusuh yang ingin kau tunjukkan, peluh harus membanjiri kemeja kebanggaanmu dan nafas tersengal kepayahan akibat berlari membuatku tertegun dalam diam.
“Untuk apa?” Kataku acuh meski mataku hampir meloncat ingin tahu. 
“Untuk menuliskan semua mimpi-mimpimu.” Katamu dengan mata berbinar-binar (satu hal yang selalu aku suka darimu sejak dulu).
“Hanya itu?” Ucapku tak percaya.
 “Aku bahkan mempunyai puluhan buku berisi cita dan mimpiku.” Sahutku enggan.
“Ayolah...tuliskan saja 5 mimpimu tentangku, tentangmu, dan tentang kita.” Enggan...kuayunkan penaku di atas kertas lusuh menyebalkan senja itu.
“Sudah?”
“Ya...”
“Sekarang lihat aku.”Perlahan tapi pasti...ia menghapus seluruh tulisanku senja itu. Menjadikan kertas lusuh itu makin lusuh, dengan bekas goretan pena di sana-sini. Aku kesal. Tapi kau bilang,
“Begitulah kehidupan, Tuhan telah memberikanmu pena untuk menulis semua kisah, cita, juga kesetiaan yang kita inginkan. Tapi kau tau...Tuhan juga telah menyimpan penghapus untuk setiap goresan penamu.”
Huufftt...percakapan itu sudah lama sekali ya, kawan. Aku bahkan mulai lupa bagaimana binar-binar itu kemudian menjadi sebuah kejora yang membuatku makin mengagumimu. Tanpa kusadari, perlahan senyumku mengembang pada tiap kenangan dan jejak yang pernah menjadi hari tak terlupakan bagi seorang gadis sepertiku.

Pluk! Sebuah jaket hangat berwarna violet tiba-tiba menghampiri tubuhku yang mulai gemetar kedinginan oleh fajar yang menggigit.
“Masuklah sayang..sepertinya salju akan segera turun di kota ini.” Ucapmu sambil tersenyum hangat. Ahh..sebuah senyuman yang pernah kutunggu selama hampir 3 tahun itu kini menjelma nyata di hadapanku.
“Apakah kau tengah menyesali karena telah menjaga kesetiaan sebuah bintang untuk turunnya hujan?” 
Aku hanya terdiam dan berkata dalam hati, “Kau tau...semenjak mengenalmu..aku bahkan mulai lupa, bahwa pada hakikatnya hujan dan bintang saling meniadai.”
Lalu kami pun beranjak perlahan meninggalkan jejak-jejak yang tak terkikis pada sebuah fajar yang masih temaram.


Sebuah apartemen, dengan hamparan tulip dan salju...

Amsterdam, 14 September 2012

Bagaimana? Kalian sudah iri belum...dengan keromantisan saya dan belahan jiwa saya di ujung sana? #siapa coba?? Halah...hahahaha...mengkhayal banget deehh...


Hohohooo....maaf...cerita yang baru saja anda baca ini hanyalah fiktif belaka. Apabila ada kesalahan dalam penulisan, mohon dimaafkan...karena penulis belum pernah menginjakkan kakinya di kota bersalju, namun berharap akan mampu mewujudkannya. Amin.. Oiya, kisah ini saya persembahkan spesial untuk sahabat-sahabat saya di dunia maya ; Phipi, Putri, dan Zii...semoga penantian kalian segera berakhir ya....hahahaha.... Karena akan selalu ada simpul yang indah untuk setiap kesabaran dalam sebuah keimanan.... Juga untuk mimpi-mimpi saya yang tak lagi sabar menyentuh butiran salju dan menyimpan keceriaan warna tulip dalam kornea mata saya...(˘ʃƪ˘) 
Read More - Solitude Hujan dan Bintang

Dan Pena Cinta Mulai Bergerak

Minggu, 28 Agustus 2011
Photobucket

“Kalau cinta berawal dan berakhir karena Allah,
maka cinta yang lain hanya upaya menunjukkan cinta padaNya,
pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki:
selamanya memberi yang bisa kita berikan,
selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai.”
-M. Anis Matta-
Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan. Ia adalah sebuah garis panjang tanpa simpulan, namun juga garis panjang dengan ribuan kelokan. Cinta itu hanyalah masalah waktu. Seperti ringannya lisan saat mengatakan, “Bahwa semua akan indah pada waktunya.” Padahal hati begitu bertalu pada tiap-tiap ketenangan, juga penantian akan cinta itu sendiri.

Tepat di sebuah hari yang memang telah ditentukan Tuhan, dia datang dalam hidupku. Untuk kesekian kalinya memang. Maka seharusnya aku tak lagi gamang untuk menyambutnya dan memberikan pelukan erat tanda kebahagiaan atas kehadirannya yang singkat. Namun aku sadar sepenuhnya, bahwa tak hanya aku dan hatiku yang akan memilikinya, juga mencintainya. Dia, mereka, dan seluruh makhluk bumi pun ikut merayakan cinta atas kehadirannya. Membuatku sedikit berpeluh dan bertaruh untuk memenangkan hatinya.

Ketika engkau tersesat dalam hujan, maka biarlah cintaNya yang menjadi naunganmu. Ketika engkau tersesat dalam gelap, maka biarlah cintaNya menjadi cahaya penuntunmu. Bahkan ketika engkau tidak dapat melihat maka biarlah cintaNya yang akan menjadi pandanganmu. Mungkin itulah yang kurasakan saat harus menghadapi pertarungan tanpa senjata dalam hari-hari yang penuh dan utuh dengan kehadirannya. Sebuah pertarungan untuk memenangkan hati yang begitu melelahkan sekaligus menyenangkan.

Namun sekali lagi kukatakan, bahwa akan ada batas untuk tiap-tiap kehadiran. Maka begitu pun dengan langkahnya yang perlahan menjauh pergi. Pias, menatap sayap malaikat yang mengingatkan bahwa waktu telah usai. Tak hanya aku...bahkan dia, mereka, dan semua makhluk bumi pun ikut pucat dalam kekalutan panjang akan kepergiannya. Seorang kawanku berkata, semoga kita tak terlambat ! Namun sungguh, aku tak pernah yakin...bahwa aku telah benar-benar memenangkan hatinya....



Kehadirannya adalah bagian dari inspirasi, darinya kita tahu diri kita, darinya kita tahu makna penghambaan, darinya kita tahu bahwa dunia ini hanya sementara, darinya kita paham bahwa setiap diri saling mengisi dengan diri yang lain, tidak terpecah, dan tidak hidup dalam egoisme… Semoga Ramadhan ini, bukanlah ramadhan terakhir yang kita miliki untuk terus memenangkan hatinya. Mohon maaf lahir dan batin ya kawan, maafkan saya dalam banyak waktu, usap air matamu atas kepergiannya..dan teruslah lakukan yang terbaik untuk harimu...^_^
Read More - Dan Pena Cinta Mulai Bergerak

Ketika suatu hari

Minggu, 31 Juli 2011

:: Sebuah catatan, bahwa akan ada batas dalam setiap perjalanan ::

Catatan ini untukmu kawan....
Ketika suatu hari pada masa yang lalu, aku pernah tertawa bersamamu...
maka mengertilah..bahwa saat itu aku hanya ingin melihatmu tetap dalam kebahagiaan.
Ketika suatu hari kau mengguncangkan bahumu karena perbuatan konyolku...
maka sungguh kawan...tak ada maksud lain dalam hatiku kecuali untuk membuatmu benar-benar terhibur oleh kehadiranku.
Ketika suatu hari kau terbahak mengingat kenangan-kenangan unik yang kau lakukan bersamaku....
maka simpanlah kawan..karena aku sungguh ingin menyaksikan segaris senyum di wajahmu pada hari itu.

Catatan ini untukmu kawan...
Ketika suatu hari dalam kebersamaan kita di masa yang telah lalu aku pernah mengganggu tidurmu dengan deringan telpon dan smsku...
maka dengarkanlah kawan...aku hanya merindukanmu dan ingin memastikan bahwa kau baik-baik saja di sana.
Ketika suatu hari kau kesal karena aku terus memanggil namamu....
maka pejamkanlah matamu kawan...dan tersenyumlah mengingatnya...karena pada saat itu aku hanya ingin memastikan, bahwa persahabatan kita masih utuh seperti dahulu.
Ketika suatu hari kau mendengarku kesal karena sikapmu yang mengacuhkanku...maka tajamkanlah telingamu kawan, dan dengarkanlah tangisanku...
karena aku tak sekedar ingin mengganggumu...melainkan mencoba menarik kembali simpul-simpul persahabatan kita yang tlah coba kau urai perlahan.
Ketika tiba suatu masa kau lelah dengan persahabatan ini kawan, maka ingatlah...bahwa Tuhan tak begitu saja menjadikanmu sebagai bagian hidupku secara kebetulan.
Ketika suatu malam kau terjaga karena resah dan gelisah...maka ingatlah, bahwa aku tak pernah benar-benar membiarkanmu sendirian di sana.

Catatan ini untukmu kawan....
Pernahkah kau mengingat bagaimana cara Tuhan mempertemukan kita dalam persahabatan ini?
Kau tau, aku bahkan tak mampu membayangkan seandainya hari itu kita tidak saling berkenalan dan mengaitkan jemari. Mungkin akan ada celah yang kosong tanpa warna tentangmu di sini kawan, di sudut hati ini.
Pernahkah kau bayangkan...bahwa suatu ketika persahabatan ini akan terhenti begitu saja, seperti berhentinya laju sebuah kendaraan tanpa roda? Kau tau kawan, jika hari itu benar-benar terjadi...mungkin aku takkan mampu membuka mataku kembali dan menatap semua warna dengan bias yang sama seperti ketika  aku berada di sampingmu.

Catatan ini untukmu kawan....
Aku tahu...tekadang kita larut dalam persahabatan ini dan merasa mampu berdiri tegak tanpa siapapun. Hanya aku dan kamu dalam persahabatan kita...
Aku tahu...terkadang kau pun akan letih dan ingin berjalan sendirian saja...hingga waktu membiarkan kita berada di sebuah persimpangan. Dan pada saat itulah aku berusaha meraba dalam gelap...sendirian saja...tanpamu....
Namun kau tahu kawan...sejauh apa pun kucoba untuk mengusir bayangmu..siluetmu terus saja hadir dan meremukkan persendianku secara perlahan dan menyakitkan...

Catatan ini untukmu kawan...
Ketika suatu hari yang kau ingat hanyalah senyap dalam hembusan nafasmu karena bisingku mungkin telah lama lenyap beradu dan berpacu dengan waktu...maka rasakanlah....
bahwa aku masih berada di sekitarmu..memandangmu...mengusap bahumu yang terhempas..dan ikut menopang guncangan tangismu,,,
hanya saja...selalu akan ada batas dalam sebuah perjalanan...(tentang kematian...juga pejaman mata yang abadi saat esok hari telah datang...)


*Jujur saja...beberapa hari belakangan ini mendadak hidup saya diliputi ketakutan. Rasa gelisah yang berdarah-darah menyeruak begitu saja ke dalam getar nadi saya. Maka boleh kah saya menyeka air mata? Dan kemudian di sana saya kembali menyadari tentang hakikat diri. Bukan hal yang mudah ketika saya harus berjalan tegak di muka bumi, setelah sebelumnya saya lelah berkubang pada air mata yang menyemak. Maka pada resah itu saya mencoba menulis........................dan terus menulis..................namun ternyata....pena saya kembali patah dan tak mampu mengalirkan tintanya.......saya kecewa......untuk kemudian terhenti begitu saja..........*
just little quote for my close friend :: Diandra ::


Photobucket
Read More - Ketika suatu hari

Hujan Bulan Mei

Sabtu, 18 Juni 2011

Yogyakarta, Mei 2011... (12:00 am)

          Terik begitu menyengat, hingga dahi yang tersembunyi di balik kerudung jingga yang kukenakan perlahan basah oleh peluh. Suara bising memenuhi kota kelahiranku, Yogyakarta tercinta. Ramai kaki lima berjejalan di sela-sela padatnya kendaraan bermotor yang berlalu-lalang tanpa saling menyapa. Ckckck...kotaku ini mulai tak ramah pada tuan rumah. Apa mungkin karena ia mulai penat dengan serumpun pendatang yang merusak hari-harinya?? (hahaha...mulai deh aku menyalahkan para pendatang di kotaku sebagai penyebab segala penat..maaf ya...hahaha) -----> Jujur saja....hal ini sering kulakukan.

          "Rrrrttt...rrrttt....#heartbeat...."
        Ponselku tiba-tiba saja berbunyi pada saat yang sangat tidak tepat. Konsentrasiku untuk menembus keramaian kota mendadak hilang tanpa bekas. Segera kurapatkan motorku ke tepi jalan demi menjawab panggilan jiwa di seberang sana. Rupannya salah seorang sahabatku dari Kota Pekalongan mengundangku untuk saling melepas kerinduan tepat di hari lahirnya. Sejenak ada sebuah kebimbangan menyapa. Otakku berontak memikirkan betapa singkatnya hari liburku untuk memenuhi naluri persahabatan ini, terlebih lagi kebimbanganku akan persetujuan sang bunda yang kadang terlalu mengkhawatirkan anak gadisnya ini pun ikut menghancurkan khayalku. Ahh...sudahlah...itu semua masih bisa dipikirkan nanti setelah aku menginjakkan kaki di rumah.
 Pekalongan, Mei 20011
       Setelah rayuan maut berikut segenap kekuatan jiwa kukerahkan, akhirnya aku berada di kota kenangan ini. Sebuah kota di mana aku pernah menjejak selama 2 tahun untuk menyaksikan tangisan sang bunda demi melihatku menyelesaikan hafalan Al-Qur’an (hiks..kalau ingat jadi ingin kembali mengurai air mata..). Tengah malam aku sampai di tempat yang kutuju. Ma’had Tahfidz Al-Irsyad Pekalongan. Ahahaa...para sahabat telah menyambut kedatanganku dengan ceria (JPP = Jadi Pusat Perhatian...hahahaa...jadi malu...). Padahal kau tahu kawan...jalanku masih terhuyung, kepalaku masih bergoyang, dan ruhku belum kembali benar ke tempatnya dikarenakan mabuk dahsyat yang kualami selama perjalanan di travel tadi. Jalan alas roban menuju Pekalongan begitu berkelok sehingga membuat perutku seperti gempa dan jantungku lepas dari tempat bergantungnya. Selain itu...ini adalah kali pertama aku pergi ke luar kota seorang diri (hahhaa..baru sadar..betapa penakutnya aku selama ini...).
          Karena liburanku yang begitu singkat dan adanya semester pendek  yang menungguku di Yogyakarta tercinta untuk segera ditempuh, maka keesokan paginya (tepat di hari ulang tahun sahabatku) kami menempuh jarak sekitar 2 jam untuk menuju ke perkebunan teh di Pagilaran. Kami pergi bersama 10 kawan  lain yang tergabung dalam Laskar Gurobha (nama angkatan). Sayangnya ada sebuah  adegan mengerikan yang harus kualami, yaitu kami harus mencarter angkot untuk menuju ke sana. Oh no, pada saat itu wajahku tampak memucat. Aku belum pernah naik angkot!!!
           Hahahaha....bisa kubayangkan betapa tidak nyamannya menjadi seekor sarden mungil yang terombang-ambing di dalam kaleng yang tak kalah mungilnya. Yah...begitulah keadaanku saat itu. Entah sudah berapa kali kuoleskan save care ke dahiku demi menahan rasa mual. Pada saat itu, tak ada seujung kuku pun kebahagiaan yang kurasakan meski di sekitarku terdengar tawa para sahabat yang tengah menikmati perjalanan serta lelucon-lelucon mereka yang berusaha menghiburku. Wajahku pucat, kening berkerut, kepala berdenyut, dan berbagai tampilan aneh lainnya secara tiba-tiba menjadi atribut lengkapku saat itu. Hadooohh..rasanya aku ingin loncat dari kendaraan penuh siksaan itu dan berguling-guling saja di atas tanah yang berbukit-bukit.

Photobucket
    Maka ketika pada akhirnya kami sampai di tempat tujuan, aku yang biasanya tak pernah alpha memamerkan senyum keceriaan mendadak berubah menjadi seorang gadis aneh yang tampak tua dan lelah (hahaha...). Sang angkot benar-benar sukses memalingkan duniaku...ckckckk... Syukur alhamdulillah keadaan mengerikan itu kemudian terhapus begitu saja oleh kesejukan dan keindahan Pagilaran yang terhampar. Aku benar-benar merasa ditampar kanan kiri oleh bentangan alam raya lukisanNya. Bagaimana bisa terkadang kita berpikir bahwa dunia begitu sempit dan penat ketika kita tengah dirundung masalah dan beban yang bertubi-tubi, sementara kita terlupa akan kisah tentang bumiNya yang luas dan penuh dengan hamparan keindahan. Nikmat Tuhanmu yang mana kah lagi yang akan kau dustakan??
          Namun belum lama kami bersenda menikmati bekal dan udara sejuk yang melesak ke paru-paru dengan bebasnya...tiba-tiba.... *bruuuussshhhhh.....hujan mengguyur kami dengan dahsyatnya. Ratusan ribu percikan air kehidupan Dia siramkan di atas bumi Pagilaran. Kami benar-benar tampak seperti dedaunan lunglai hanyut yang tersapu air di antara ciptaannya yang begitu luas. Berlarian ke sana-kemari sudah otomatis menjadi tindakan pertama yang kami lakukan (hahaha...). Untungnya hujan deras yang membuatku terkagum-kagum tadi hanya sesaat meski cukup membuat kami basah kuyup. Namun ternyata, badan yang menggigil dan baju yang basah tak membuat kami mengurungkan niat untuk mencoba berbagai permainan alam yang tersedia di sana (begitulah..darah muda darahnya para remaja...hahaha). Oiya, inilah kali pertama aku berani mencoba flying fox...(hahaha...penakut banget ya...) itupun karena para sahabatku berhasil mengelabuhiku sehingga aku berani mencobanya.

Photobucket
          Alhasil, pulanglah kami ke Pekalongan pada sore harinya dengan wajah merah merona karena kepuasan, kebahagiaan, dan syukur tak terhingga. Dan ajaibnya...perjalanan pulang hari itu tak lagi diwarnai oleh mabuk yang menjadi-jadi meskipun kami menaiki kendaraan yang sama (buruknya) seperti ketika berangkat. Nah, berhubung waktu liburanku yang hanya 2 hari saja, maka malam itu aku langsung berpamitan untuk kembali menuju kota kelahiranku. Suasana haru dan tangis tertahan mengiringi kepergianku malam itu. Terkadang...persahabatan tampak begitu mengikat dan meresahkan, meski sesungguhnya hati kecil kami telah memaknainya lebih dari sekedar kebersamaan dan tangisan.
          Hembusan angin malam membuatku sedikit menggigil dan merasa sunyi di tengah keramaian. Pelukan hangat para sahabat mengingatkanku pada simponi indah yang mengalun melalui tuts-tuts piano para musisi kebanggaanku. Senyuman mereka menghantarkanku pada percikan api di tengah gulita. Dan ucapan doa yang mengalir dari bibir suci mereka telah menemaniku sepanjang perjalanan menuju Kota Yogyakarta.
          Ahhh...begitu indah kurasakan liburan singkat kali ini. Kau bahkan tak perlu tiket mahal ke Disneyland atau pun kartu ATM yang membengkak demi meraih kebahagiaan dan obat kepenatan. Karena yang kita perlukan hanyalah sedikit kebersamaan dan rengkuhan persahabatan yang tak tergantikan. Maka pada keesokan harinya, saat Tuhan masih mengijinkanku membuka mata di kotaku ini...aku hanya mampu tersenyum menatap keramaian kota, hanya mampu bersyukur saat lelah menerpa, dan hanya mampu merenung saat koin-koin mungil jatuh ke tangan para pedagang kaki lima.
          Kawan, saat kau merasa lelah dan bumi tempatmu berpijak terasa bergoyang...maka berhentilah. Tataplah kembali kelokan-kelokan masa lalu yang pernah kau jejaki. Perlahan namun pasti, kearifan itu akan datang menghampirimu dan membuatmu sedikit mengerti tentang perjalanan panjang yang masih harus kau lalui. Dan kemudian...berjalanlah kembali pada jalanmu yang seharusnya, namun tidak dengan wajah hampa...melainkan dengan segaris senyum keabadian. Salam persahabatan selalu dari Negri Yogyakarta...hahaha...^^
Read More - Hujan Bulan Mei

Long Vacation with Dandelion

Jumat, 03 Juni 2011
*Langkah-langkah kaki kecil di bulan Juni,
menarilah untuk hujan yang kucintai...
Tapak-tapak kaki mungil di bulan Juni,
menandak-nandak ceria tiada peduli...
Sedikit waktu membiarkanmu terseok seorang diri,
sedikit waktu mengenalimu dalam tawa renyah...
Namun di bawah rinai hujan itu,,,aku makin mendekap hangat tubuhmu..
[dan] lagi-lagi..pada hujan di bulan juni....*

Coba kenali aku! Lekuk tubuhku mungil, tiada seorang pun peduli. Coba dekati aku! Suaraku lirih, tiada kau dengar dan pahami. Coba cintai aku! Jiwaku samar, tiada kau mampu raba rapuhku. Tersudut, di antara ilalang dan semak perdu. Terabai, di pucuk-pucuk alam nan permai. Namun aku ada...untuk terus menatapmu, menyayangimu, dan memberi bias tawa untukmu.
--Dandelion--
Sebut namaku dan kau akan mengerti. Aku masih sendiri di sini dengan hati sepi. Menatap pekat pada percumbuan ufuk dan senja. Namun aku adalah si mungil pemimpi. Terkadang aku terinjak, terserabut, dan juga mengering. Dandelion di sudut pekarangan, itulah aku. Kutahu namaku, karena gadis itu memanggilku begitu. Dandelion mungil..aku menyayangi ketegaranmu, seperti aku menyayangi harapan-harapanku. Begitu gadis itu selalu berucap tatkala menyentuh rapuhku. [Catatan sang dandelion...]

Diary dandelion...
Masih kutatap wajah kusutnya yang tampak lelah. Membuka pintu perlahan, dan membiarkannya tetap seperti itu hingga beberapa waktu berlalu. Kembali ia terduduk di depan jendela seperti kebiasaanya. Kali  ini tangannya bertumpu pada buku-buku tebal yang tak pernah kukenali sebagai koleksi kesayangannya. Mulai ia sandarkan kepala pening dan lelahnya pada tangan yang lunglai di antara tumpukan buku yang tampak angkuh. Perlahan ia hembuskan nafasnya satu persatu, hingga ia pulas dalam mimpi lelah pada siang terik di bulan Juni. Untuk kesekian kalinya, aku mengenalinya sebagai sosok yang menyukai meja mungil di tepi jendela itu sebagai tempat rehat yang nyaman.

{ Ufftt...kebiasaan deh! Aku ketiduran lagi di sini. Tak bisa kumengerti, bagaimana mungkin meja ini terasa begitu nyaman tadi. Sekarang kurasakan pegal di sana sini. Tentu saja, lihatlah gadis...kau telah tertidur bertumpu lengan dan beralas kayu. Haha..kembali kutertawakan kebodohanku. Dan... Ya Tuhan...aku kembali lupa mengunci pintu. Untung saja siang ini begitu sepi tanpa kehadiran siapapun di sekitarku. Segera kukemas berkas-berkas penting dan literatur tebal yang harus kubawa menginap di kampus malam ini. Tak lupa kudandani si merah untuk menemaniku mengetik di sana. Krucuuukkk...uhh..perutku serasa diremas. Owh, rupanya aku lupa untuk mengajaknya bersantap semenjak pagi. Ahh, andai minggu ini bunda di rumah...tentu aku sudah habis diomelinya karena kebiasaan buruk ini. Tergesa kutinggalakan rumah dengan sebuah ransel berat di pundakku dan sejumput permen kristal [red. foxs] kesukaanku. }

Dandelion petang....
Hari ini ia kembali tak menyapaku! Bahkan sekedar memberiku senyuman pun tidak. Ia hanya datang sekejap, untuk kemudian pergi lagi, datang lagi, dan pergi lagi. Hey dandelion...!! Sudahlah..mungkin kau memang tak begitu berarti di hatinya! Aku tersentak oleh lamunanku sendiri. Tapi gadisku itu benar-benar mengacuhkanku lagi hari ini. Tak dipedulikannya tubuh mungilku yang meliuk indah di antara ilalang. Tak dihiraukannya pula serabut harapan dari tubuhku yang terbang ditiup angin. Perih memang, namun kau tahu kawan...disitulah kekuatanku. Meski terkadang aku harus menangis karena dilupakan, aku tetap akan tumbuh..dan terus bertumbuh di berbagai keadaan. Pada tanah gersang aku tebarkan benih harapan, pada tanah basah aku sampaikan salam persahabatan, pun begitu pada semak berduri...aku kisahkan tarian perdamaian. Akulah sang dandelion! Akulah kerapuhan sekaligus kekuatan....

{ Aaaaaaaarrrgggghhhh!!! Aku ingin berlibur! Aku ingin menatap pantai dengan deburan ombak yang giat menengadah pada langit. Aku ingin menyapa pucuk-pucuk daun yang senantiasa melambaikan tangan pada bumi. Aku ingin berhenti sejenak. Bukan untuk terhenti...melainkan untuk menatap kembali jarak yang terus berlari. Kuhempaskan tubuhku pada kursi di tepi jendela. Kubuka si merah, dan kulayarkan perahuku untuk mengarungi dunia maya. Libur bersama. Ahh..kembali dua kata itu menghiasi layarku. Segera kudaratkan kapalku di pelabuhan yang nyata, agar aku kembali tersadar...bahwa begitu banyak tugas yang belum kurapihkan, dan begitu banyak nyawa malaikat kecil yang masih ingin kuperjuangkan. Tapi aku merasa hampa. Seperti ada yang tertinggal di sini, di sudut nurani. Kuedarkan pandanganku ke seluruh ruangan. Aku butuh penawar untuk kelelahan ini. Menulis menjadi tak menarik untuk tangan yang lelah, membaca menjadi hambar untuk otak yang berdebu, bahkan menikmati kelezatan coklat dan es krim pun tampak sangat membosankan. Sepertinya aku tengah terlupa pada sesuatu.... }

Dandelion pada fajar yang merekah...
Gadis pujaanku masih di sana. Di tangannya tergenggap sebuah map merah dengan kertas-kertas putih dan padat menyembul di tiap sudutnya. Sementara di sampingnya tergeletak pasrah sebuah tas ransel hitam yang tampak sarat oleh beban. Ahh..gadisku itu pasti akan pergi menjemput mimpi-mimpinya lagi hari ini. Kuberikan senyum terindah untuknya, meski aku tahu...bahwa hari ini ia akan kembali mengacuhkan kehadiranku di antara ilalang dan semak perdu. 
Srek..srek... Sebuah langkah kaki terdengar mendekatiku perlahan. Hmm, aroma  tubuh ini.... Aroma khas seorang gadis kecil yang dulu kerap menyapaku dan meniupkan harapan-harapan pada tubuhku. Aku tersentak dan menatap tak percaya pada sosok yang menghampiriku. Andai mampu...aku justru ingin lebih dulu menyongsong kehadirannya dan mendekap hangat tubuhnya. Namun aku hanya diam terpaku. Dengan penuh kelembutan..ia meraihku. Menarikku dari kesepian yang terus menghujam. Ia meniup tubuhku, hingga terhempaslah semua benih-benih yang melekat. Aku melayang di antara  angin yang bertiup perlahan. Masih kurasakan hangat desiran udara yang menerbangkanku, masih kuingat tatapan bening mata mungil gadis pujaanku itu belasan tahun yang lalu...saat ia begitu menyukaiku. Gadis pujaanku di masa kanak-kanak begitu mengidolakanku dan memuja keindahanku. Ia begitu rajin meniupku dan menceritakan mimpi-mimpinya padaku agar semua ikut terbang bersama angin. Dan setelah belasan tahun berlalu, hari ini ia melakukannya lagi. Masih dengan tatapan yang sama...penuh cinta, kerinduan, dan harapan untukku. Ahh..akulah dandelion yang paling bahagia hari ini!!


Catatan harian Nick...
“Hari ini...aku bahagia. Meski aku tak memiliki libur panjang seperti yang kuimpikan, meski begitu banyak tugas yang belum kuselesaikan, meski tubuhku terasa lelah dan kurang tidur...namun aku tetap bahagia. Karena hari ini aku kembali belajar tentang mimpi dan kebahagiaan pada sekuntum dandelion mungil di sudut pekarangan. Bahwa kita tak akan selalu mendapatkan apa-apa yang kita sukai...maka belajarlah menyukai apa-apa yang telah kita dapatkan. Dan aku belajar satu hal dari sang dandelion selama bertahun-tahun lalu setiap kali aku meniupnya...bahwa setiap harapan...terkadang akan terhempas dan terlupakan. Namun seorang gadis yang kuat...akan kembali berjalan tegak di muka bumi...dan terus tumbuh dalam banyak mimpi. Terimakasih dandelion... “
Untuk seorang malaikat di sudut kota Surabaya...
I love u brother..happy birthday..on 6th June..^^
      [masih dan akan selalu kuingat tawa kita di bawah percikan hujan yang mengkristal..karena terkadang..kita telah melupakan banyak hal yang sederhana,,namun begitu indah untuk dikenang...]
Read More - Long Vacation with Dandelion

Mencintai Dalam Diam

Jumat, 27 Mei 2011
          #Berpendar 1
Huufftt...kuhempaskan tubuh penatku di tepi kasur empuk kesayangan. Penat, lelah, padat, menghimpit...dan berjuta keletihan lain seraya menghampiri jiwa dan ragaku. Kuseka keringat dingin yang mengalir perlahan di balik jilbabku yang mulai terseok kesana-kemari. Rupanya aku benar-benar lelah kali ini. Masih segar dalam ingatan, betapa begitu cepat kuhabiskan waktu 24 jam yang telah disediakan oleh Allah secara gratis hari ini. Berawal dari jadwal ngampus yang cukup padat bagi mahasiswi ekstensi, jam ngajar yang bejibun, jadwal membimbing privat, kuliah malam berikut serangkaian oral test bahasa asing, belum rapat-rapat yang menaikkan adrenalin.
Pyuuhh,,semua itu terkadang membuatku ingin terkapar sesaat dan menghilang dari putaran waktu yang terus berlari cepat. Selalu ada saat-saat di mana tak ada ruang yang mampu mengalihkan penatku, juga ada waktu-waktu..di mana sayup-sayup melodi tak cukup untuk membangkitkan semangatku. I really feel tired and light without direction...
Maka di antara kepenatan itu lah kutemukan sebuah bayang. Berlari, melesat, memberi sedikit terpaan angin segar, dan menampar kepenatanku jauh ke dasar bumi. Ia ada di sana!! Ia masih di sana!! Membuatku menciptakan senyum kekaguman, membuatku menciptakan siluet-siluet harapan, dan membuatku ingin berteriak sesaat...bahwa ";Aku mencintainya!"

#Berpendar 2
Ada begitu banyak alasan yang terkadang membuat kita tak ingin jujur. Ada begitu banyak alasan yang sesaat membuat kita hanya fokus pada seseorang yang bersinar di balik jeruji kesadaran diri. Namun tak membutuhkan sedikit pun alasan untuk memahami penyebab sebuah cinta hadir. Dia datang begitu saja tanpa kuminta. Dia masuk tanpa permisi meski aku tak membentangkan hati. Dan dia melindas sisi-sisi keangkuhanku tanpa banyak kata. Menakjubkan!! Dia berhasil membuatku mencintainya dan mengaguminya dari berbagai arah tanpa sanggup kubaca jedanya. Hari yang kulalui masih tetap penat dan padat seperti biasa...namun aku tak mengerti mengapa ada segaris senyum untuk menghadapinya. Oh Tuhan, mungkinkah aku benar-benar jatuh cinta??

#Berpendar 3
Bukan karena mencintai seseorang kita akan menderita. Namun, ketika kita mengartikan cinta itu pada sisi kehadiran dan kebersamaan..maka itu lah penderitaan yang tercipta.
Aku telah memutuskan untuk mencintainya. Aku pun telah memutuskan untuk mengagumi sosoknya. Perlu waktu yang cukup lama untukku belajar, bahwa cintaku juga harus bahagia. Maka aku akan menciptakan atmosfir kebahagiaan itu seorang diri, tanpa membutuhkan kehadiran orang yang kucintai...juga tanpa membutuhkan  balasan perasaan yang sama darinya. Karena aku pun telah memutuskan...untuk mencintainya dalam diam. Dan dalam diam itu akan kusampaikan secara perlahan =tiap-tiap gejolak yang kurasakan= melalui hempasan angin, kicauan beburung, canda ilalang, deburan ombak, butiran debu, laju awan, butiran hujan, sapaan senja, kerlingan ufuk, dan sentuhan embun [semua akan kukisahkan padanya lewat semesta dengan segala kepasrahan...].
#Cahaya dalam tiap-tiap #pendar# yang tercipta....
Aneh rasanya, ketika harus menulis untuk sesuatu yang tak pernah mampu kutuliskan, kulukiskan, juga kuteriakkan...
Namun catatan ini akan tetap kupersembahkan dalam diam...(seperti cintaku yang juga alpa akan suara..namun terus berpendar di tiap sudutnya)....teruntuk sahabat-sahabatku yang juga tengah meredam letupan cintanya..sekali lagi...dalam diam! Tuhan, pendarkanlah selalu cintaku ini...sesuai mau Mu...
Read More - Mencintai Dalam Diam

Sosok-Sosok dalam Ruang [memalingkan duniaku]

Minggu, 01 Mei 2011
“Sebuah persahabatan yang utuh bagaikan kilau bintang di langit...
ia tak selalu nampak di antara gelapnya malam...namun ia selalu ada di sana...
Sebuah persahabatan yang utuh juga bagaikan tetesan embun pagi...
karena aku tak selalu mampu menyentuhnya...namun aku selalu mampu merasakan kehadiarannya.”   @Nick
Persahabatan?? Entah...tersusun dari tabir apakah 12 huruf tersebut. Namun yang aku tahu..keenam huruf itu selalu tampak elok dan mampu melantunkan lagu indah dalam jiwaku di setiap waktunya. Dan kini, aku memiliki sebuah kisah indah tentang persahabatan yang membantuku kembali menjadi sosok yang berbeda saat aku mengenal sebuah ruang.
Kusebut ruang...karena di sana lah aku mampu tersenyum, tertawa, berkaca, merenung, dan bercerita tentang tiap-tiap lini kehidupan yang kujumpa. Di sana pula telah kutemukan tawa..saat dadaku terasa sesak oleh tetes demi tetes luka. Di sana kutemukan jeda..saat hidupku terasa penat dan hampa. Dan di sana kutemukan banyak bahu untuk bersandar..saat aku hanyalah berupa kepingan-kepingan jejak yang tak lagi utuh oleh tamparan kehidupan.
Sosok 1 dalam ruang : Dia selalu tertawa renyah, tiap kali mereka menggodanya tentang seekor kambing India dengan bulu mata lentiknya. Etawah. Sebuah ikon sang ruang yang selalu membuatku menyunggingkan segaris senyum dalam banyak waktu. Sosok ini selalu membuatku kagum atas idenya menciptakan sang ruang. Hingga aku mampu menemukan sejumlah sahabat dengan ikatan persahabatan yang kuat tanpa harus saling menatap. Terima kasih atas persahabatan ini kawan...dan aku selalu menunggu tanganmu menciptakan garis-garis nota dan jepretan yang indah di setiap harinya.  @Qefy
Sosok 2 dalam ruang : Dia adalah sosok yang diam. Awalnya kupikir begitu, namun ternyata ia pun orang yang renyah dan ramah. Dia pernah membuatku termenung dalam senyap..saat aku mendengar sebuah lagu atas rekomendasinya. Hmm...benar-banar alunan yang indah. A shoulder to Cry On. Dengarkanlah suatu saat kawan..dan kau akan makin memahami..betapa pentingnya seseorang untuk berada di sampingmu.  @Aul
Sosok 3 dalam ruang : Dia membuatku mengenal...bahwa kangkung adalah sayuran yang bermanfaat. Selain kandungan protein nabatinya...ia pun mengandung vitamin untuk tertawa di ruang ini. Karena sosoknya, aku mampu menceritakan tentang ikon sang ruang melalui untaian-untaian syair panjang yang saling menyambung. Dia telah banyak berkorban untuk sahabat-sahabatku di ruang tersebut. @Nitnot
Sosok 4 dalam ruang : Sosok kakak yang baik. Itu lah kesanku saat pertama mengenalnya. Bahkan ketika banyak waktu telah kami lalui tanpa sebuah pertemuan, aku pun tetap mengenalnya begitu. Aku sungguh mencintainya karena Allah. Dengan kedewasaan dan kecerdasannya, ia selalu mampu memenuhi ruang hati kami dan mengikhlaskan beberapa waktunya untuk meronda dalam ruang yang kami cintai. @Tia
Sosok 5 dalam ruang : Mandiri. Manja. Menyenangkan. Dan entah...harus dengan kata apa aku mendefinisikan kehadirannya dalam hari-hariku. Serasa menjadi seorang kakak yang utuh ketika aku mampu berbicara dengannya melalui ruang. Ahh..aku menemukan sosok adik yang baik dalam pribadinya. @Rumi
Sosok 6 dalam ruang : Hmm...sosok ini selalu membuatku manyun di depan leptop demi membalas untaian katanya. Dia tak pernah absen untuk mencantumkan emoticon seperti ini [:P] saat usai berdebat denganku. Kehadirannya dalam ruang selalu mampu menciptakan atmosfir pengeroyokan bagi para gadis ruang untuknya hingga ia kalah telak dan kisah berakhir tragis..hahaha...  Namun melalui status FB sosok ini lah..aku menumakan jiwa seorang sahabat dalam sosok 7. @Aan
Sosok 7 dalam ruang : Beruang kutub dalam malam-malamku. Melalui sosoknya, aku belajar...bahwa sebuah kehidupan adalah perjalanan panjang tiada akhir. Suara-suaranya di balik deringan telpon membuatku ingat..bahwa persahabatan kami akan tetap terjalin erat..meski kami tak pernah tahu pasti, kapan jarak yang memisahkan ini akan terkikis perlahan. @Bonitz
Sosok 8 dalam ruang : Dia membuatku selalu ingin menjadi lilin kecil yang mampu menerangi gulitanya malam, meski ia sendiri bukanlah sesuatu yang kuat. Namun darinya aku belajar, bahwa lilin kecil itu tak perlu meleleh dan menghancurkan dirinya untuk sebuah persahabatan. Karena sebuah persahabatan akan saling menguatkan dan memintal uraian benang menjadi satu ikatan yang tak tergantikan. @Pipi
Sosok 9 dalam ruang : Mungkin aku tak terlalu mengenalnya. Namun seingatku...dia lah gadis pertama yang menyapaku dengan ramah beserta mata sipitnya saat aku pertama hadir di ruang ini. Bagiku, dia adalah sosok gadis periang yang beruntung...karena Allah telah menghadirkan sosok 1 untuk menemani hari-harinya dengan penuh kasih sayang. Keceriaanmu mampu mengalihkan hari-hariku, kawan... @Jude
Sosok 10 dalam ruang : Dalam diamnya, sejuta nasihat dan ilmu siap untuk ia salurkan. Kesedihanku lenyap dimakan waktu saat aku mengenalnya. Darinya aku belajar...bahwa hidupku masih panjang dan membutuhkan kekuatan untuk terus bertahan. Dia seolah telah mengenali kesedihanku, sebelum aku mengenalnya terlalu dalam. @Ani
Sosok 11 dalam ruang : Katanya dia mempunyai kemiripan denganku dalam dunia perkesetan. Entah itu sebuah kebenaran atau sekedar lelucon aku tak perduli. Yang pasti aku bersyukur mengenalnya. Mampu membaca kehidupanya dalam benang kusut, dan mampu saling mendoakan dalam tiap luka yang tercipta. Sang ruang memperkaya hidupku saat aku mengenal sosok ini. @Ika
Sosok 12 dalam ruang : Dek Billa...panggilan yang aneh. Membuatku merasa sedikit konyol, kekanakan, juga tersanjung. Entah seperti apa sosoknya dalam dunia nyata, namun aku meraba...bahwa ia adalah sosok yang tekun dan cermat dalam menjalani arus kehidupan. @Fahrie
Sosok 13 dalam ruang : Histeris...berteriak...mengaum...mencabik...saat mendengar ada kabar tentang buku favoritnya. Dia adalah sang penggila sastra dengan segudang ilmu yang patut diperhitungkan. Sosoknya tak banyak muncul dalam ruang..namun nafasnya menorehkan kisah baru saat ia hadir. @Aci
Sosok 14 dalam ruang : Penulis berbakat dan seorang gadis dengan disiplin tinggi. Ia mengeja dan menyuapiku dengan sebuah asumsi...bahwa hidup itu perlu deadline...dan kita harus berjuang untuk itu. Aku ingin kuat sepertinya. @Mieny
Sosok 15 dalam ruang : Dia lah sang promotor yang pantang mudur dalam sebuah acara milik ruang di suatu hari. Sosoknya seperti klimaks dalam sebuah kisah bagiku. Menggebu, namun diam...meletup, namun terkendali. Idealis..dan artis...tentunya..hehehe..[di dunia teater..]. @Fadhli
Sosok 16 dalam ruang : Menjadi sosok yang terakhir kutulis bukan bermakna ia tak cukup berarti. Dia justru sosok fenomenal yang kukenal di ruang ini. Jempolnya tak pernah ragu ia sumbangkan bagi para penghuni ruang. Sosoknya yang terkesan angkuh membuatku mengerti...bahwa kehidupan terkadang begitu keras dan garang. Namun kita akan selalu mampu menghadapinya...karena akan ada banyak uluran persahabatan di sana!! @Andy
Wuaaa...begitu banyak sosok dalam ruang yang telah memalingkan duniaku. Itu belum seberapa...karena persahabatanku dalam ruang tak hanya sekedar berputar di antara 16 sosok tersebut. 16 sosok yang kusebut hanyalah sosok-sosok yang sering kujumpai dalam ruang, namun masih ada banyak sosok lain yang selalu membuatku kembali menoleh ke belakang saat rasa kantuk menyerang dan membuatku ingin segera berlari ke arah ranjang.
Jika suatu saat kalian menginginkan persahabatan seperti tetesan embun pagi,,,atau kerlipan bintang malam seperti yang kumiliki....maka janganlah bersedih dan merasa tak mungkin, kawan.... Karena aku pun bersedia menjadi sahabatmu. Mendengarkan tawamu, mengusap bahumu dalam sesenggukan tangismu, atau pun sekedar mendengar celotehmu saat kesepian tak lagi kau inginkan.

Maka bergabunglah bersama kami....karena akan selalu kami sediakan sebuah ruang utuh untukmu di hati kami. Tak lupa, sajian keset empuk untuk duduk dan serpihan daging kambing dengan kudapan daun kangkung yang lezat pun akan terhidang gratis untuk menemani hari-harimu, kawannnn.. Salam Bloofers.
Read More - Sosok-Sosok dalam Ruang [memalingkan duniaku]

Senja yang Menjelma Cinta

Minggu, 03 April 2011
Sosok itu tersenyum dalam guratan senja. Dia masih berdiri di sana. Menatapku dalam kekalutan  panjang akan sebuah pertemuan. Hatiku serasa tercabik oleh sekian banyak sayatan luka.
“Aku mencintaimu…lebih dari kau mencintaiku…” Ujarnya setengah berbisik.
Kuseka air mataku perlahan. Sungguh, aku tak mampu memandangnya  lebih lama lagi. Lambat  kugerakkan punggungku membelakanginya dan mulai berjalan menjauh. Celoteh itu kembali hadir di antara bayang-bayang tubuhnya yang mulai menghilang.
Lama kupandangi foto yang memburam di atas bangku kereta. Ada begitu banyak kisah tentangnya  yang tak pernah mampu kupilah karena padat oleh cinta.  Aku tahu, bahwa aku takkan pernah sanggup menghitung tiap-tiap air matanya yang jatuh berderai untukku.  Mungkin memang benar jika dia berkata, bahwa dia telah mencintaiku…lebih dari aku mencintainya. Selalu kuingat, betapa hangat pelukannya di antara dinginnya hujan, betapa erat rengkuhannya saat aku terseok jatuh dalam sebuah perjalanan panjang bernama kehidupan.  Senja itu menjadi saksi, bahwa  persahabatanku dengan ibuku telah terjalin begitu indah.


NB : Diikutkan dalam Kuis Cerpelai Persahabatan
Read More - Senja yang Menjelma Cinta

Mencintai Hujan....#2

Jumat, 01 April 2011
“Tak ada yang lebih tabah...
dari hujan bulan Juni,
dirahasiakannya rintik rindunya...
kepada pohon berbunga itu.
Tak ada yang lebih bijak...
dari hujan bulan Juni,
dihapusnya jejak-jejak kakinya...
yang ragu-ragu di jalan itu.
Tak ada yang lebih arif....
dari hujan bulan Juni,
dibiarkannya yang tak terucapkan....
diserap akar pohon bunga.”     
          Aku mencari kehadirannya di sudut-sudut hujan. Lalu aku kembali pada kesadaranku...bahwa aku tak mungkin lagi bersamanya. Diam....pekat...kelam...hanya suara isak tangis sesenggukan terdengar samar. Aku kembali resah saat waktu yang terlewat mengingatkanku pada kepergiannya. Hatiku kembali tersayat meski hujan itu mulai reda. Air mata tak perlu diberi nama bukan...?? Jika dia mengalir untuk sebuah hati yang terluka...
~Mengingat gadis kecil itu, seolah merupakan goresan luka pertama yang hadir untuk tetes-tetes hujan yang kucintai.~
“Kakak....kakak cari aku ya?” Sebuah suara parau menggertak lamunanku.   
          Mataku pun liar mencari sumber suara mungil itu. Tiba-tiba, sebuah tangan kecil menyeruak masuk ke dalam jendela kamarku dan menyentuh lenganku perlahan. Di luar hujan sangat deras, dan aku tengah mencari seorang gadis kecil di tepi jendela kusam. Namun ternyata dia ada di sini!! Dia berada tepat di bawah kaca jendela kamarku yang buram tersiram derasnya hujan. Sejenak nafasku tercekat dan jantungku berdegup lebih cepat. Kuberanikan diri membuka kaca jendela lebih lebar dan bicara padanya.
“Kok kamu bisa ada di sini?”
“Kakak adalah malaikat hujan kan?? Ayo keluar kak...aku udah lama menunggu kakak.” Gadis kecil itu sama sekali tak mengindahkan pertanyaanku, ia justru makin erat menarik lenganku dan mengajakku keluar dari kamar.
Hmm...hujan begitu deras...haruskah aku berjalan dalam hujan  ini untuknya?? Aku mulai ragu. Namun tanpa sadar aku telah mengayunkan langkahku menemuinya di tengah derasnya hujan.
“Kakak mau lihat surga nggak?” Gadis kecil itu kembali bertanya padaku sambil  menengadahkan kepalanya ke arah langit yang masih setia menjatuhkan ribuan tetes air.
          Entah mengapa...aku benar-benar terhipnotis oleh kehadirannya. Meski sesungguhnya, dalam benakku berloncatan berbagai pertanyaan yang ingin segera kulontarkan padanya. Aku pun ikut mengangkat kepalaku ke arah langit yang ia tunjuk. Mataku pedih terkena tetesan hujan yang bertubi-tubi jatuh ke bumi, namun gadis itu tidak!! Ia tetap berusaha menegakkan kepalanya pada langit yang ia pandang.
“Kak,,,surga itu ada di sana. Kalau kita berdoa sama Tuhan, nanti kita akan didatangi malaikat hujan. Dia hanya datang ketika hujan turun.” lalu dia terdiam.
“Siapa yang bilang begitu?” ujarku perlahan.
“Eyang. Eyang selalu bilang begitu sama Dea.” Oooh..namanya Dea.
“Memangnya Dea berdoa apa sama Tuhan?”
“Dea berdoa, supaya Dea bisa bobok lagi sama eyang di langit sana. Trus Dea juga minta...Tuhan kasih uang yang banyak buat ayah Evan dan Mama Elis, biar Dea nggak disuruh jual kue lagi setiap hari...biar Dea bisa nemenin kakak malaikat hujan menari di bawah hujan deras.” Ia menjawab pertanyaanku sambil menatap nanar ke arah hujan senja ini.
“Emm..Dea,,, tapi kakak bukan malaikat hujan seperti yang Dea maksud, sayang...Nama kakak, Ifa. Jadi Dea bisa panggil Kak Ifa saja.” Ujarku tersenyum sambil mengelus rambutnya yang basah kuyup. Lalu kami terdiam dalam derasnya hujan yang mengguyur.
          Aku dan dia ada di sana. Di atas sebuah bangku taman di depan rumahku, kami berdua duduk dalam hening. Hujan lelah mengguyur wajah-wajah kami yang tertelan senja. Badan mungil kami kian menggigil kedinginan. Namun tak seorang pun di antara kami yang ingin pergi. Seolah basah itu telah membuat kami enggan berlalu dalam sepi.
“Kakak malaikat hujan yang baik...terimakasih udah nemenin Dea di sini. Dea mau pulang dulu, karena sebentar lagi ayah dan mama Dea pulang. Besok-besok, kalau kakak malaikat hujan kangen sama Dea...kakak lihat ke langit itu ya...Dea akan ada di sana menunggu kakak ,dan dan menari hujan untuk kakak.”
           Lalu gadis kecil itu berlari cepat meninggalkanku dan menuju ke rumahnya tanpa menatap lagi ke belakang sedikit pun. Aku hanya tertegun memandang bayangnya yang mulai menghilang. Hujan sudah reda. Malam mulai merayap. Perlahan aku bangkit dari dudukku dan kembali ke rumahku dengan perasaan tak menentu. Aku telah bicara dengannya. Aku telah bicara dengan gadis kecil di tepi jendela kusam itu. Seolah tak percaya pada apa yang telah terjadi, aku mulai mencoba mengembalikan seluruh kesadaranku yang sempat terenggut paksa.   
           Rumah mungil itu dipenuhi oleh para tetangga yang sibuk berkerumun dengan pakaian hitam-hitam. Aku yang baru saja pulang dari kuliah hanya mampu memandang keheranan. Apa yang sudah terjadi?? Siapa yang barusan pergi itu?? Mengapa banyak isak tangis di sekelilingku??         
          Tanpa memperdulikan kerumunan itu aku pun masuk ke rumah dengan perasaan galau. Dengan gamang kulangkahkan kakiku menuju ke  dalam kamar. Tiba-tiba mataku menangkap secarik kertas lusuh yang menyelip di tepi jendela kacaku. Jendela kaca yang menjadi saksi bisu tentang cintaku pada hujan, jendela kaca tempat pertama aku  punya kesempatan untuk bicara dengan gadis kecil yang mencintai hujan sepertiku. Gemetar aku meraih secarik kertas tersebut. Air mata menggenang di sudut mataku kala aku membaca surat sederhana itu.
“Kakak malaikat hujan...
Dea mencintaimu...
sama seperti Dea mencintai hujan.”         
           Kuremas secarik kertas kusam itu perlahan, sama seperti remasanku pada surat kabar yang baru kubaca sore itu. “Penganiayaan Anak di Bawah Umur Oleh Kedua Orang Tua Tirinya Hingga Menyebabkan Kematian yang Tidak Wajar”, kira-kira seperti itulah judul postingan koran yang telah menyebabkan warga berkerumun di rumah gadis kecil di tepi jendela kusam itu.         
           Gadis kecil di tepi jendela kusam itu kini benar-benar telah pergi. Meski mengenalnya hanya dalam segaris senyuman, namun ia telah memberiku banyak kisah tentang kehidupan. Melalui kisah langit dari “eyangnya”...aku belajar, bahwa kita tak perlu mengingat seluruh kebaikan Tuhan untuk mensyukuri nikmatNya lebih dari apapun, tapi cukup dengan menengadahkan kepala kita ke langit...kita akan melihat salah satu karunianya yang terindah...# hikari sora~langit biru # akan kau lihat di sana!! Melalui caranya menikmati hujan, aku belajar...bahwa menikmati luka dan mengubahnya menjadi tawa, hampir sama dengan mengubah dinginnya hujan deras menjadi sebuah kehangatan yang tak tergantikan!! Dan melalui secarik kertas lusuhnya, aku belajar...bahwa kehidupan telah memberi kita beribu alasan untuk menangis, namun ia juga memberi berjuta alasan untuk tetap tersenyum, meski dalam kegalauan...



End.
Read More - Mencintai Hujan....#2

Mencintai Hujan....#1

Senin, 21 Maret 2011
          Hujan!!! Suara gemuruhnya yang khas kembali meramaikan suasana di luar kamarku. Hatiku layaknya ladang gersang yang kembali tersiram air. Sejuk....dan hmmm...aroma tanah yang tersapu hujan adalah salah satu aroma favoritku, selain aroma sedap masakan ummiku tentunya.  Segera kubereskan ranjangku dan seluruh berkas-berkas makalahku. Aku ingin segera menikmati hujan ini. Seperti biasa, segera kuposisikan diriku senyaman mungkin di ranjangku yang memang berada di tepi jendela. Kusingkap gorden ungu kesayanganku lebar-lebar. Aku benar-benar tengah ingin menikmati hujan ini, setelah seminggu lebih aku tak lagi mempunyai waktu untuk bercanda dengannya karena tugas-tugas seabrek dari dosenku.
          Hmmmffhh...tak ada yang berbeda darinya. Semua tetap sama, suasana kelabu dan basahnya selalu mampu memberikan dimensi ruang yang berbeda di mataku. Jauh dari penatnya jalanan yang kerap membuat kepalaku berdenyut, jauh dari hati yang tersapu amarah dan kekesalan, serta serasa lepas dari bejibun tugas yang tak kunjung habisnya. Dan gadis kecil itu pun tetap sama!!! Dia ada di sana, di tepi sebuah jendela kusam yang berada tepat di seberang kamarku. Wajah mungilnya menatap malu-malu pada hujan yang kian menderas. Ada senyum polos tersungging di sudut bibirnya. Dia benar-benar tampak mencintai hujan ini, lebih dari sekedar aku mencintainya. 

          Tiba-tiba mata jelinya selintas memandang ke arahku. Segera kuayunkan tanganku untuk menyapanya di antara dentuman hujan yang jatuh ke tanah. &quot;Hai adik kecil,,,apa yang membuatmu mencintai hujan ini lebih dariku??&quot; Sangat ingin kuteriakkan kata-kata itu padanya. Namun urung kulakukan, karena aku yakin ia takkan mampu mendengar suaraku dalam teriakan-teriakan hujan yang kian berpadu ini. Tak kusangka, secara perlahan...tangan gadis itu perlahan terangkat disertai segaris senyuman mungil untuk membalas sapaanku. Deg!! Hatiku sangat bahagia melihatnya....
          Ya,,,,sudah sebulan terakhir ini aku selalu menikmati hujan bersama gadis kecil di balik jendela kusam itu. Dan sudah sebulan itu pula aku selalu mencoba menyapanya dalam kebisuan tanpa mendapat sedikitpun balasan darinya. Seolah, ia benar-benar tak ingin ada seorangpun yang merebut hujan ini darinya. Tapi hari ini ia membalas lambaian tanganku, bahakan ia memberi bonus dengan sebuah senyuman yang tersungging dari bibir mungilnya. Aaahh...hujan kali ini tampak lebih indah dan syahdu dibanding biasanya....Terima kasih sayang....
          Entah sejak kapan aku mulai menyayanginya. Aku menyayanginya, seolah tengah melihat gambaran diriku yang selalu tertawa oleh hujan. Gadis cilik itu benar-benar telah menempati ruang di sudut hatiku. Tapi siapakah dia?? Benar-benar konyol rasanya, melihat diriku yang tak mengenali tetangganya sendiri. Tapi aku memang tak mengenalnya cukup akrab. Karena hanya dia dan keluarganya yang selalu menutup diri dari lingkungan komplek ini.Yang aku tahu, dia adalah putri tunggal keluarga kecil tersebut. Dinamakan keluarga kecil tentunya, karena menurut tetangga di samping rumahku...ia hanya tinggal bersama ibu dan ayah angkatnya.  Owwhh,,,dia sungguh telah meraih hatiku untuk mengetahui lebih jauh tentang kehidupannya.
          Mungkin inilah yang disebut dengan naluri pendidik, hehehe....Aku tak tahan untuk tidak mencari tahu tentang gadis yang mencintai hujan itu. Aku benar-benar mencintai dunia yang dipenuhi malaikat kecil seperti ini. Aku ingin merengkuhnya dan menariknya dari kesunyiannya saat menikmati hujan. Pagi itu, aku mendatangi rumah sederhananya. Ketiga ketukan yang kubunyikan tak kunjung mendapat jawaban yang cukup berarti. Akhirnya kutinggalkan rumah itu dengan perasaan kecewa. &quot;Adik kecil....tak inginkah kau berbicara padaku..?? Aku juga mencintai hujan...sama sepertimu...&quot; Ucapku perlahan sembari berjalan ke arah rumahku.
          Tak terasa, satu bulan telah berlalu....Sepanjang waktu itu pula aku tak lagi menghabiskan hari-hariku bersama hujan yang turun di balik jendela kamarku. Akhir-akhir ini aku memang jarang di rumah. Tugas dan kegiatan-kegitan kampus dengan suksesnya telah merebut kebersamaanku dengan hujan dan gadis kecil di balik jendela kusam itu. Tapi gag papa...hari ini, aku akan mengunjunginya dari balik jendela. Tentu saja, aku berharap akan menemukannya di sana...karena hari ini adalah hari yang basah oleh hujan.
          Aku tersentak dan tertegun cukup lama di balik jendela. Ada yang berbeda dengan hujanku kali ini. Gadis cilik itu tak ada di sana!! Dia alpha menemaniku menikmati hujan untuk pertama kali semenjak aku mengenal sosoknya!! Sepi rasanya, baru kali ini aku merasa bahwa hujan juga mempunyai arti kesedihan. Baru kali ini aku berpikir, bahwa kelabunya hujan tak selalu menghempaskan banyak beban...tapi juga menyangsikan sebuah kebersamaan dan kebahagiaan. 

To be continue....

                                                                                     
Read More - Mencintai Hujan....#1