• Kisah Hujan

    Hati, tubuh, jiwa, bisa terganti. Namun tulisan-tulisan kita (kemarin) akan selalu abadi. Entah dimana, di negerinya sendiri.

  • Menerka Hujan

    Percayakah kamu kalau saat hujan turun doa kita lebih bisa terkabul? Jadi kenapa tidak mengubah rindu menjadi doa, lalu semoga semuanya baik saja :)

  • Firasat Hujan

    Di Kota Hujan, kadang karena terlalu dingin, jadi terasa perih.

  • Sajak Hujan

    Puisi-puisiku berlari dalam hujan menuju rindu paling deras; kamu.

  • Senandung Hujan

    Ada senandung Tuhan, dalam tiap tetes hujan. Hujan akan tetap menjadi hujan, nikmat Nya yang tak bisa di dustakan.

  • Kota Hujan

    Hujan tahu kapan harus membasahi kota ini. Hujan juga tahu kapan harus berhenti.

  • Hujan dan Kopi

    Karena aroma secangkir kopi juga sebuah cinta.

  • Dongeng Hujan

    Ada yang percaya bahwa di dalam hujan terdapat lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang rindu. Senandung rindu yang bisa meresonansi ingatan masa lalu.

Ketika Luka Bicara...

Selasa, 15 Februari 2011
Suatu ketika aku mengagumi seseorang. Dia bukanlah sosok sempurna yang didamba banyak wanita. Tapi dia tangguh dalam mengarungi kehidupan-sungguh seperti seseorang yang selalu kuinginkan-, itulah yang membuatku tak ingin berpaling untuk terus mengagumi dan mencintai kehadirannya. Tak lama kemudian, hadir pula sosok lain dalam kehidupanku. Dia datang membuatku sedikit terluka. Membuatku marah dan membara meski sebenarnya aku tak berhak untuk itu. Tapi siapa yang peduli...toh sebuah rasa tak pernah mampu untuk dipaksa...
        Hingga suatu ketika aku mulai menyadari sebuah perubahan dalam diriku. Aku mulai merasa tak berguna dan tak berarti, dengan segala kekurangan yang tampak begitu sempurna. Aku lelah dan menginginkan ada tangan yang meraihku untuk kembali menyapa dunia. Untuk menyadarkanku, bahwa meski aku tak pernah mampu menjadi sepertinya..namun aku adalah diriku dengan segala yang ada. Aku luar biasa dengan caraku, dan aku pun berhak bahagia sepertinya.
        Karena aku ingin bangkit secepatnya, maka aku tak lagi menginginkan siapapun untuk membuatku bangkit kembali. Hanya Cinta lah yang masih kupertahankan untuk mengisi kekosongan dan harapan-harapanku. Pada Cinta [red. Allah, cinta sejati kita] aku terus berdoa, agar aku mampu menjadi sempurna...meski di mata Cinta saja. Aku benar-benar tengah cemburu pada seseorang meski aku tahu pasti bahwa aku tak pernah berhak untuk itu. Sungguh sulit membuatku menyadari kesalahan hatiku saat itu.
        Maka ketika pada akhirnya hari-hari yang menyiksa itu terus berlalu dan meninggalkan aku dalam kesunyian. Ternyata aku mampu tersenyum dan berkata...."Terima kasih atas kehadiranmu yang mampu melukaiku sekaligus membuatku berdiri jauh lebih tegar dibanding sebelumnya,,,^^" Bukan,,,bukan sosok yang kukagumilah yang pada akhirnya memberiku semangat untuk tetap menjadi 'sesuatu'. Tapi justru sosok yang kucemburui itulah yang membakar jiwaku, melumatkan aku dalam rasa malu, menyayatku hingga aku mampu mengubah sayatan menjadi sebuah ukiran, dan mengajariku terbang meski sayapku mulai terkoyak dan patah.
        Terkadang guru kehidupan memang bukanlah kebahagiaan, melainkan beberapa sayatan yang menyakitkan. Itulah yang kupelajari saat itu. Dan kau takkan pernah benar-benar menjadi 'sesuatu', sebelum kau merasakan cambukan, dan meneteskan air mata karena perihnya sayatan itu. Dari situlah aku mulai belajar untuk mencintai setiap jejak yang ditinggalkan orang lain dalam hidupku. Karena apapun itu, semuanya akan mengajarkan kita cara untuk menjadi 'sesuatu' yang jauh lebih berarti dibanding sebelumnya...Maka mulai hargailah hidupmu, kawan....semoga Cinta kan selalu memberkati dan meridhoi jalanmu...^___^
        Jangan takut dan menyerah ketika seseorang berkata, "Kau takkan mampu menjadi yang kau inginkan. Harapanmu terlalu tinggi, kau kurang realistis!!" Meski saat mendengar kalimat itu hatimu sempat ingin menangis, dan otakmu memaksamu untuk berhenti melakukan sesuatu....tetaplah kau pada mimpi-mimpimu. Berhentilah sejenak jika kau memang benar-benar lelah. Tapi bukan menjadikan 'berhenti' itu menjadi sesuatu yang membuatmu terdiam untuk banyak waktu. Jadikanlah 'berhenti'mu itu sebagai sebuah perenungan...di mana kamu akan menyusun strategi baru yang tak perlu dimengerti orang lain. Cukup dirimu dan Cinta saja yang tahu agar kau tak makin tersayat dan terkoyak dengan komentar baru mereka.
        Cinta akan selalu bersama mimpi-mimpimu....kau tahu kan, Cinta tak pernah berdusta...dan bahkan telah mengingatkanmu dengan sesuatu =D
إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِم        
Kau tentu tak lupa tentang peringatan Cinta dalam ayat tersebut bukan???? Huuufft...begitulah kawan...akan ada banyak aral saat kau mencoba untuk meraih bintang. Namun jangan pernah takut, karena kita tak pernah benar-benar sendirian!!^^
"Hingga suatu malam aku pernah berkata pada diriku....
Benarkah hanya dia yang mampu menjadi seperti itu?
Lalu nuraniku menjerit,,,
Tidak!! Bukan karena kau ditakdirkan tak mampu menjadi sepertinyalah kau hidup...
bahkan kau ditakdirkan menjadi seperti apapun yang kau mau...
hanya saja...terkadang pikiranmu sendiri yang telah memenjarakanmu dalam istana pekat....
Maka malam itu aku bangkit dan berlari mengejar ayunan langkahku yang tlah tertinggal jauh...
Dan aku tak pernah berhenti lagi, hingga aku mampu berlari sejajar dengannya dengan cara yang .....'berbeda'....^^"
Read More - Ketika Luka Bicara...

Bercinta Tanpa Duka...^^

Minggu, 13 Februari 2011
Adakalanya, kita ingin memperoleh suatu pengalaman dari orang lain saja. Rasanya hati kita menolak dan merasa tak sanggup bila harus mengalaminya sendiri. Namun kita semua tahu, ada sebuah pengalaman tentang rasa yang mau tidak mau akan mampir dalam hidup kita. Sengaja atau pun tidak, menolak atau pun menginginkan...dia akan tetap hadir. Siapakah dia??? [pasti semua bisa ngejawab nih....^^]. Ya...dialah CINTA. Bolehlah kalau kau mau bilang ini adalah sebuah jawaban klise, atau kau mau katakan bahwa ini adalah kisah klasik yang gaungnya akan kau rasakan sepanjang masa, atau bahkan kau boleh mnghujat bahwa ini adalah sebuah perbincangan yang membosankan karena akan ada hati yang terluka saat menjalaninya. Whatever,,, karena apapun itu, apapun yang mereka bilang tentang dilemanya cinta, yang pasti dalam sadar ataupun tidak...kita tengah hidup dalam lingkaran cinta itu sendiri !! 
        Saat kita lanjut usia...yang mampu membuat kita tegak menjalani kehidupan adalah cinta itu sendiri. Aku tak pernah mengatakan, bahwa cinta yang kudengungkan hanyalah cinta antara sepasang manusia. Yang aku tahu, cinta itu begitu luas. Tak mampu dirumuskan seperti rumitnya alajabar, karena dia lebih dari sekedar itu. Saat usia belia...pernahkah kita membayangkan, bahwa suatu saat nanti kita akan mencintai seseorang yang memang harus kita cintai meski hati kita menolak, atau kita diharuskan mencintai sesuatu yang telah memperburuk kehidupan kita [menurut pandangan manusia, bukan pandangan Allah...]??? Tentu saja tidak...!! Karena kita akan mengeja semua kisah cinta itu secara perlahan. Tanpa kita sadari, saat kita mampu menyelesaikan kisah cinta kita di usia dewasa...maka itu adalah hasil dari kita mengeja tentang cinta di usia belia.
        Aku pernah jatuh cinta! Dalam cinta itu aku pernah terluka, pernah bahagia, bahkan pernah memendam segalanya. Namun aku tak pernah lelah untuk memulai lagi cinta itu. Tak penting, apakah sosok yang kita cintai akan mengerti cinta kita dan belajar mencintai seperti apa yang kita rasa...itu sungguh tak penting. Mengapa?? Karena pada hakikatnya, cinta itu tak pernah mampu terucap dan terlukiskan secara jujur. Kalau kau tak percaya...coba tanyakan tentang ukuran cinta pada seseorang yang kau anggap paling mencintaimu di dunia ini. Dia akan sulit melukiskan segalanya. Bahkan, ketika dia telah mencoba menyamakan cintanya dengan sesuatu yang bernilai di bumi ini pun, tetaplah itu bukan merupakan sebuah kejujuran dalam hatinya. Karena...tak ada yang tau, bahwa cinta yang begitu besar dalam hati pasangan kita tersebut benar-benar tak pernah meredup meski sesaat.
        Manusia pada hakikatnya bukan lah makhluk yang sempurna. Pun dalam cinta itu. Akan ada waktu dalam diri-diri yang mencinta, bahwa cintanya terkadang akan memudar..atau pun melemah. Yah..seperti halnya iman. Karena iman adalah termasuk interpretasi dari cinta itu sendiri. Maka manusia yang tak sempurna itu akan selalu berusaha mendekati kesempurnaan demi sesuatu yang dicintainya secara mendalam. Maka di sinilah akhirnya kita mampu memberikan tolak ukur pada cinta kita yang luas tersebut, dan menjadikannya lebih mengerucut. 
        Sebodoh apapun manusia itu, selemah apapun manusia itu, dan sejauh apapun ia dari kesempurnaan...itu semua menjadi tak lagi berarti jika ia mengerti cara mencintai yang benar. Ketika kita melandaskan segala rasa cinta kita pada Yang Maha Dicintai, maka cinta kita akan terdefinisikan. Cinta kita akan beralasan. Cinta kita nggak akan buta. Cinta kita akan terjabarkan. Cinta kita tak pernah berakhir menyakitkan. Dan yang utama...cinta kita takkan pernah mampu berdusta...meski kita bukanlah orang yang sempurna di hadapanNya, dan dihadapan seseorang yang kita cintai. Karena saat cinta itu mulai memudar, saat cinta itu melemah untuk kemudian menghilang..maka Sang Pencinta akan terus menjaganya, meniupkan api pada lilin yang mulai meredup, dan membiaskannya dalam pelangi cinta. Semua akan tetap terjaga dalam rengkuhanNya. 
        Maka di sinilah persoalannya. Bagaimanakah cara kita untuk memperoleh hak paten dalam cinta kita tersebut? Agar segala hal yang kita cintai terus terjaga, agar tak pernah ada lagi cinta yang padam, agar ada sesuatu yang selalu melapisi cinta kita dengan sebuah benteng yang kokoh.....
Iman adalah jawabannya!! Dan Islam akan meneguhkannya,,,^^
PS : Aku nulis ini pas aku lagi jatuh cinta, aku juga bukanlah pecinta yang sempurna. Maka jika kelak aku menemukan sosok yang mencintaiku karenaNya, aku berjanji untuk takkan pernah melepaskannya...karenaNya pula...@_@
Read More - Bercinta Tanpa Duka...^^