• Kisah Hujan

    Hati, tubuh, jiwa, bisa terganti. Namun tulisan-tulisan kita (kemarin) akan selalu abadi. Entah dimana, di negerinya sendiri.

  • Menerka Hujan

    Percayakah kamu kalau saat hujan turun doa kita lebih bisa terkabul? Jadi kenapa tidak mengubah rindu menjadi doa, lalu semoga semuanya baik saja :)

  • Firasat Hujan

    Di Kota Hujan, kadang karena terlalu dingin, jadi terasa perih.

  • Sajak Hujan

    Puisi-puisiku berlari dalam hujan menuju rindu paling deras; kamu.

  • Senandung Hujan

    Ada senandung Tuhan, dalam tiap tetes hujan. Hujan akan tetap menjadi hujan, nikmat Nya yang tak bisa di dustakan.

  • Kota Hujan

    Hujan tahu kapan harus membasahi kota ini. Hujan juga tahu kapan harus berhenti.

  • Hujan dan Kopi

    Karena aroma secangkir kopi juga sebuah cinta.

  • Dongeng Hujan

    Ada yang percaya bahwa di dalam hujan terdapat lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang rindu. Senandung rindu yang bisa meresonansi ingatan masa lalu.

Mencintai Hujan....#1

Senin, 21 Maret 2011
          Hujan!!! Suara gemuruhnya yang khas kembali meramaikan suasana di luar kamarku. Hatiku layaknya ladang gersang yang kembali tersiram air. Sejuk....dan hmmm...aroma tanah yang tersapu hujan adalah salah satu aroma favoritku, selain aroma sedap masakan ummiku tentunya.  Segera kubereskan ranjangku dan seluruh berkas-berkas makalahku. Aku ingin segera menikmati hujan ini. Seperti biasa, segera kuposisikan diriku senyaman mungkin di ranjangku yang memang berada di tepi jendela. Kusingkap gorden ungu kesayanganku lebar-lebar. Aku benar-benar tengah ingin menikmati hujan ini, setelah seminggu lebih aku tak lagi mempunyai waktu untuk bercanda dengannya karena tugas-tugas seabrek dari dosenku.
          Hmmmffhh...tak ada yang berbeda darinya. Semua tetap sama, suasana kelabu dan basahnya selalu mampu memberikan dimensi ruang yang berbeda di mataku. Jauh dari penatnya jalanan yang kerap membuat kepalaku berdenyut, jauh dari hati yang tersapu amarah dan kekesalan, serta serasa lepas dari bejibun tugas yang tak kunjung habisnya. Dan gadis kecil itu pun tetap sama!!! Dia ada di sana, di tepi sebuah jendela kusam yang berada tepat di seberang kamarku. Wajah mungilnya menatap malu-malu pada hujan yang kian menderas. Ada senyum polos tersungging di sudut bibirnya. Dia benar-benar tampak mencintai hujan ini, lebih dari sekedar aku mencintainya. 

          Tiba-tiba mata jelinya selintas memandang ke arahku. Segera kuayunkan tanganku untuk menyapanya di antara dentuman hujan yang jatuh ke tanah. "Hai adik kecil,,,apa yang membuatmu mencintai hujan ini lebih dariku??" Sangat ingin kuteriakkan kata-kata itu padanya. Namun urung kulakukan, karena aku yakin ia takkan mampu mendengar suaraku dalam teriakan-teriakan hujan yang kian berpadu ini. Tak kusangka, secara perlahan...tangan gadis itu perlahan terangkat disertai segaris senyuman mungil untuk membalas sapaanku. Deg!! Hatiku sangat bahagia melihatnya....
          Ya,,,,sudah sebulan terakhir ini aku selalu menikmati hujan bersama gadis kecil di balik jendela kusam itu. Dan sudah sebulan itu pula aku selalu mencoba menyapanya dalam kebisuan tanpa mendapat sedikitpun balasan darinya. Seolah, ia benar-benar tak ingin ada seorangpun yang merebut hujan ini darinya. Tapi hari ini ia membalas lambaian tanganku, bahakan ia memberi bonus dengan sebuah senyuman yang tersungging dari bibir mungilnya. Aaahh...hujan kali ini tampak lebih indah dan syahdu dibanding biasanya....Terima kasih sayang....
          Entah sejak kapan aku mulai menyayanginya. Aku menyayanginya, seolah tengah melihat gambaran diriku yang selalu tertawa oleh hujan. Gadis cilik itu benar-benar telah menempati ruang di sudut hatiku. Tapi siapakah dia?? Benar-benar konyol rasanya, melihat diriku yang tak mengenali tetangganya sendiri. Tapi aku memang tak mengenalnya cukup akrab. Karena hanya dia dan keluarganya yang selalu menutup diri dari lingkungan komplek ini.Yang aku tahu, dia adalah putri tunggal keluarga kecil tersebut. Dinamakan keluarga kecil tentunya, karena menurut tetangga di samping rumahku...ia hanya tinggal bersama ibu dan ayah angkatnya.  Owwhh,,,dia sungguh telah meraih hatiku untuk mengetahui lebih jauh tentang kehidupannya.
          Mungkin inilah yang disebut dengan naluri pendidik, hehehe....Aku tak tahan untuk tidak mencari tahu tentang gadis yang mencintai hujan itu. Aku benar-benar mencintai dunia yang dipenuhi malaikat kecil seperti ini. Aku ingin merengkuhnya dan menariknya dari kesunyiannya saat menikmati hujan. Pagi itu, aku mendatangi rumah sederhananya. Ketiga ketukan yang kubunyikan tak kunjung mendapat jawaban yang cukup berarti. Akhirnya kutinggalkan rumah itu dengan perasaan kecewa. "Adik kecil....tak inginkah kau berbicara padaku..?? Aku juga mencintai hujan...sama sepertimu..." Ucapku perlahan sembari berjalan ke arah rumahku.
          Tak terasa, satu bulan telah berlalu....Sepanjang waktu itu pula aku tak lagi menghabiskan hari-hariku bersama hujan yang turun di balik jendela kamarku. Akhir-akhir ini aku memang jarang di rumah. Tugas dan kegiatan-kegitan kampus dengan suksesnya telah merebut kebersamaanku dengan hujan dan gadis kecil di balik jendela kusam itu. Tapi gag papa...hari ini, aku akan mengunjunginya dari balik jendela. Tentu saja, aku berharap akan menemukannya di sana...karena hari ini adalah hari yang basah oleh hujan.
          Aku tersentak dan tertegun cukup lama di balik jendela. Ada yang berbeda dengan hujanku kali ini. Gadis cilik itu tak ada di sana!! Dia alpha menemaniku menikmati hujan untuk pertama kali semenjak aku mengenal sosoknya!! Sepi rasanya, baru kali ini aku merasa bahwa hujan juga mempunyai arti kesedihan. Baru kali ini aku berpikir, bahwa kelabunya hujan tak selalu menghempaskan banyak beban...tapi juga menyangsikan sebuah kebersamaan dan kebahagiaan. 

To be continue....

                                                                                     
Read More - Mencintai Hujan....#1

Celoteh Cinta Sang Tokek...

Kamis, 17 Maret 2011

         Aku memanggilnya Tokek. Di pun memanggilku Tokek. Tak pernah ada persamaan di antara kami, entah itu masalah prinsip atau pun citra diri. Kami hanyalah sepasang makhluk tak berdaya yang menjadi bagian terkecil dari bumi Indonesia tercinta. Kerap kali kami memandang tingkah polah para pejabat dari balik jendela, perdebatan para konspirator dalam konspirasi yang tersembunyi, ataupun tawa sendu para pemelihara cinta dan keimanan dalam hatinya. Bukan merupakan bagian kami untuk mencari nama atas sebuah keadilan, kesedihan, dan kebersamaan. Tapi kami mampu melihat, mendengar, merasakan, dan menyuarakan semua itu dengan hati kecil kami.

          Aku memanggilnya Tokek, dan dia pun begitu padaku. Ada banyak hal yang tak pernah mampu kami ceritakan pada dunia meski kami telah letih merasakannya. Namun ada satu hal yang selalu membuat kami sama dan tak pernah berdusta. Dia adalah cinta. Bukan cinta yang hadir untuk seekor tokek di dinding tentunya. Melainkan cinta yang tanpa sadar telah memalingkan dunia kami, dan melenyapkan batas antara kami dengan manusia. Aku tak pernah bilang bahwa aku dan dia adalah seekor tokek di dinding bukan??  Hanya saja aku memanggilnya demikian, dan dia pun memanggilku begitu.
          Ketika kami mencintai seseorang, akan muncul banyak persamaan di antara kami. Dan galau pun menjadi teman setia untuk kami beri ruang yang layak. Cinta yang kami miliki mungkin saja bermula dari dunia yang jauh berbeda. Yang kutahu, dia menemukan cintanya melalui lingkaran akademik yang tengah ditempuhnya di dunia nyata. Dan aku telah menemukan cintaku di lingkaran religi yang terbangun di dunia maya.Namun semua perbedaan itu menjadi sangat tidak penting. Karena pada kenyataannya kami sama-sama tengah mencintai seseorang!!
          Begitulah pada akhirnya kami menyadari satu hal, bahwa cinta adalah milik siapapun di dunia ini. Entah itu seorang pengemis yang kau acuhkan di sepanjang trotoar, orang gila di koridor rumah sakit jiwa, kambing-kambing etawah di peternakan , kuda liar yang tak pernah mengenyam bangku sekolahan, juga kami...sepasang tokek dari dunia manusia yang terabaikan waktu.
          Hanya satu hal yang kami takutkan saat cinta itu dengan polosnya menghampiri ketenangan kami yang tengah mengintip gelagat dunia. Yaitu...mampukah kami mengesampingkan cinta itu untuk sementara waktu?? Agar cinta abadi pada Sang Maha Segalanya tak pernah kami khianati...Setidaknya, hingga cinta itu menjadi benar-benar halal dan tersedia untuk kami dalam sebuah ikatan. Sungguh berat bagi kami untuk mewujudkan idealisme tersebut, karena pada kenyataannya kami hanyalah sepasang tokek  tak berdaya yang tengah mengintip di sudut dunia.
          Aku memanggilnya Tokek, dan dia pun memanggilku begitu. Kami bersahabat layaknya kawan lama. Kami pernah bersama dalam sebuah ruang yang terbatas, di mana kami tak mendapat kebebasan untuk melihat dunia nyata seutuhnya. Dan kini kami sama-sama terbebas dan menjelma menjadi tokek-tokek dewasa, yang tak hanya ingin sekedar mengintip dunia nyata..namun sangat berharap untuk eksis di dalamnya.
          Aku memanggilnya Tokek hingga kini, dan ia pun memanggilku begitu untuk selamanya. Kami tak pernah sama sepertimu, namun kami mampu mencintai seperti hatimu. Dan kami akan tetap di sini, menunggu...hingga cinta itu menghadirkan jejak-jejaknya untuk kemudian kami ikuti. Ya Allah, jagalah selalu hati kami dari cinta yang salah..dan hadirkanlah cinta yang membuat kami makin mencintaiMu tanpa batas...



Request spesial dari kawanku Nick Purwantie kepada Nick Salsabiila...dalam memperingati hari per-tokek’an sedunia....

Read More - Celoteh Cinta Sang Tokek...

Cinta + Teje = SaMaRa

Senin, 14 Maret 2011
          Pagi ini saya tengah mengikuti mata kuliah psikologi di kampus sambil terkantuk-kantuk. Kuliah full time yang dimulai sejak pukul 07.30 hingga pukul 16.00 ini terasa begitu membosankan. Bahkan, coffeemix full cream yang sengaja kubawa dari rumah pun tak mampu mengusir penat ini. Yahh,,,begitulah kondisi pendidikan di Indonesia saat ini. Lho kok?? Jadi mengkambing hijaukan Indonesia..hehehe..
          Namun ternyata, waktu tak mengijinkan saya meneruskan rasa kantuk ini. Pada mata kuliah selanjutnya, hadirlah seorang dosen yang selalu mampu membuat saya terkagum-kagum dan iri dengan kredibilitasnya. Sebut saja Ibu Sut***h. Beliau adalah salah satu relawan yang bekerja di Bp4 yang bertugas sebagai konsultan masalah rumah tangga. Hufftt...ngiri.com nih! 
          Hari ini beliau kembali bercerita pada kami tentang kasus-kasus rumah tangga yang menimpa kliennya. Di antaranya adalah anak usia 2,5 tahun yang telah dinodai oleh kakeknya sendiri, kakek nenek usia 70an yang nekat minta cerai di usia lanjutnya    , dan seorang suami yang minta cerai dari istrinya dengan membawa foto kasur yang belum dibereskan melalui hpnya.   
          Sungguh kasus-kasus yang sangat  menakjubkan, bukan?? Betapa banyaknya manusia yang tak lagi menghargai sakralnya sebuah pernikahan hanya untuk meneruskan ego mereka yang tersalurkan oleh hal-hal remeh temeh. Yang aku heran, sudahkah mereka semua lupa pada tujuan kita membangun sebuah keluarga? Sudahkah mereka lupa, bahwa sekecil apapun perbuatan kita tetaplah harus dipertanggung jawabkan di hadapanNya?
          Begitulah kawan, dapat kita lihat...bahwa CINTA selalu memiliki sebuah konsekwensi yang tak pernah dapat dipisahkan. Kembali lagi deh,,,ngomongin cinta...   Tapi memang benar kawan...sebuah cinta yang besar untuk menjalani kehidupan rumah tangga tidaklah cukup. Seperti postingan saya beberapa waktu yang lalu, di mana saya pernah mengatakan bahwa ada saatnya cinta akan pudar, melemah, rapuh, untuk kemudian menghilang begitu saja.
          Ibaratkan saja seperti ini, seseorang menikah dan kemudian [maaf..] terus menerus bercinta di dalam kamar. Maka kemudian si istri hamil dan melahirkan anak-anak mereka. Nah, apabila sang suami dan istri tidak bertanggung jawab atas cinta mereka itu, akankah mereka mampu mendidik putra-putri mereka hingga dewasa? Akankah mereka mampu membeli sesuatu untuk makan mereka sehari-hari?? Dan hanya sebatas itukah tanggung jawab kemudian akan berakhir?? Ternyata tidak, kawan... 
          Tanggung jawab lain adalah menjaga cinta itu agar terus menerus bersemi. Dan banyak lagi tanggung jawab-tanggung jawab lain yang tak pernah habis untuk disebutkan, tetapi wajib dijalankan dalam konsekwensi sebuah cinta.
        Cinta adalah sebuah kata yang sederhana. Tak pernah ada gambaran rumit saat mengucapkanya, namun membutuhkan penafsiran panjang atas definisinya. Dalam sebuah kehidupan rumah tangga, cinta meningkatkan ratting kerumitanya menjadi berkali lipat lebih dahsyat. Cinta yang mulanya mampu tampak dengan indahnya dan meliuk menggoda dalam masa pertunangan atau pacaran, akan mampu menjadi kehilangan pesonanya saat telah menapaki kehidupan rumah tangga. Dengan catatan, apabila kehidupan rumah tangga itu tidak dilandasi dengan keimanan dan ketakwaan yang kuat. Maka di situlah kemudian kita akan mampu mengambil banyak hikmah tentang syari’at Islam yang melarang pacaran ataupun hubungan pertunangan [yang ini dibahas lain kali aja yaa...hehehe].
           Rumit bukan kawan?? Tentu saja!!  Dan kerumitan itulah yang seharusnya membuat kita berpikir seribu kali ketika akan mengkhianati cinta yang telah kita bangun. Kerumitan itulah yang seharusnya menjadi ketakutan tersendiri bagi siapa saja yang ingin mengacuhkan, mengabaikan, dan menyingkirkan cintanya begitu saja.
            Dari kerumitan itu pun kita dapat menarik sebuah garis lurus, bahwa dinamisnya cinta akan mampu menghasilkan sebuah keluarga SAMARA [Sakinah, Mawaddah, wa Rohmah] ketika dia bergelayut mesra pada sebuah tanggung jawab [TeJe]. Nah, masalahnya...siapakan yang akan mampu memiliki rasa tanggung jawab sebesar itu untuk cintanya?? Kembali keimanan adalah kuncinya. Kawan,, carilah pemuda-pemuda solih untuk menjadi imammmu dan tempatmu bercinta. Agar kelak, ketika cinta itu mulai meneriakkan konsekwensinya...pria itu akan mampu memberikan dadanya untukmu setiap waktu, dan menumpahkan segala keringatnya untuk melihatmu tersenyum bahagia. Uuuuhhh...so sweet memang...tapi benar-benar sulliiiitt...aplikasinya. 

PS : Jangan pernah mengesampingkan dan mengabaikan keimanan seorang pemuda saat ia meminangmu....karena akan banyak pria penuh cinta di dunia ini, namun sangat sedikit pria dengan sebuah cinta yang lengkap berikut tanggung jawabnya,,,alias ”cinta satu paket.”
Read More - Cinta + Teje = SaMaRa

Tentang Pilihan-Pilihan

Kamis, 10 Maret 2011

Pernahkah terpikir olehmu...bahwa hari-hari yang kau lalui terlampau membosankan?? Sejenak kau mampu tersenyum menikmati sesuatu yang baru dan penuh sensasi. Namun semua itu tak akan berlangsung lama, karena beberapa saat kemudian hatimu kembali dipenuhi oleh gemuruh kejenuhan. Huuufftt. Aaaahh. Hmmmfftt.  Dan beberapa kalimat bernada keluhan lain akan segera terlontar menemani suasana bosan yang menjelma. Hingga tanpa kau sadari...penat akan semakin menderamu karena adanya kalimat-kalimat tak bertanggung jawab itu.
        Terkadang kita lupa, bahwa dalam satu hari yang kita jalani ada begitu banyak nikmat Allah yang telah kita kecap. Hanya setitik penat dan kebosanan yang hadir mewarnainya, namun dengan kehadirannya kita dengan beraninya mengalphakan kehadiran Tuhan. Kehadiran Tuhan yang telah mengijinkan kita membuka mata untuk kesekian kalinya di pagi yang ceria, kehadiran Tuhan yang telah mendidik kita dengan berbagai kesempatan untuk maju dan berjuang di jalanNya, pun kehadiran Tuhan yang telah melukis kanvas penuh warna dalam kehidupan kita....melebihi kehebatan cat “Dulux” dalam memberi warna..
        Banyak hal yang mampu membuat kita malu dan tersadar untuk kembali mencintai setiap jengkal kesempatan yang Allah berikan. Namun sebanyak itu pula keegoisan kita mampu menerpa kesadaran yang kita miliki dan menghempaskannya hingga jauh tak bersisa. Begitulah manusia, setiap detik...setiap menit...setiap jam..akan terbolak-balik hatinya. Dan hanya hati seorang mukminlah yang akan kembali terbalik ke posisi yang benar dengan adanya hidayah dariNya.
        Pagi ini mungkin saja kita terbangun dengan pikiran yang segar, hati ceria, wajah memancarkan kebahagiaan dan rasa optimisme yang tinggi, serta tubuh yang telah siap untuk melawan tantangan hari. Tak terlintas sedikitpun dalam benak kita, bahwa akan ada badai-badai kecil yang akan menimbulkan gemuruh di hati kita. Anggap saja hujan yang turun tiba-tiba, dan mantel yang tak kunjung ditemukan meski waktu telah rusuh meneriakkan keterlambatan akan menjadi badai kecil pertama yang kita jumpai pagi itu.
        Dan ternyata badai kecil itu tak berhenti di situ saja. Masih ada badai-badai lain yang datang secara bertubi-tubi dan tanpa permisi. Bayangakn saja jika hari yang mulai terasa meresahkan itu dilanjutkan dengan keharusan untuk menunggu seseorang yang tak kunjung datang, dosen pembimbing misalnya. Waaaww...bisa dibayangkan, betapa semrawutnya wajah kita saat itu, betapa menderunya rasa marah yang terendap di hati kita, betapa manyunya bibir kesal kita, dan betapa banyak kalimat keluhan yang akan terlontar dari mulut kita.
        Hingga tanpa kita sadari, justru di saat itulah kita telah memilih kehidupan kita di hari ini.  Kita telah memilih untuk memenangkan rasa kesal yang menyesak dada dibandingkan tersenyum mengikhlaskan kejadian yang telah terlalui. Kita telah memilih untuk menjalani kehidupan di hari itu dengan bibir yang monyong beberapa senti hingga membuat kawan kita enggan untuk menyapa, dibanding menjalani hidup hari ini dengan senyuman yang senantiasa tersungging ramah. Kita telah memilih untuk mewarnai hari kita dengan warna kelabu dibanding menciptakan sebuah pelangi yang mampu menyuguhkan aneka warna, hingga kelabu yang ada akan tersapu oleh siluet jingga. Dan kitapun telah memilih untuk meramaikan hari kita dengan lontaran caci maki yang sia-sia, dan bukan dengan suara dzikir yang menggema dan berpahala.

        Kawan, jika hari ini kamu belum menentukan pilihan hidupmu di antara sekian banyak pilihan yang tersaji dalam kehidupan ini.....maka tentukanlah mulai detik ini!!! Jika setelah ini kamu tersenyum, maka kamu telah memilih untuk menjalani hari ini dengan bahagia. Meski separuh hari telah kau habiskan dengan wajah muram, namun setidaknya akan ada akhir yang membahagiakan untuk hidupmu hari ini. Namun jika setelah ini kau masih mampu untuk berwajah muram...maka selamat!! Kaupun telah memilih sesuatu untuk hari yang telah kau jalani saat ini. Hanya saja,,,andai aku mampu,,,aku ingin selalu memilih kebahagiaan untuk hidupku..salah satunya dengan tersenyum menghadapi setiap badai yang ada. Karena, bahagia itu adalah pilihan...dan Allah berasama prasangka hambaNya...^___^


Read More - Tentang Pilihan-Pilihan