Cinta + Teje = SaMaRa

Senin, 14 Maret 2011
          Pagi ini saya tengah mengikuti mata kuliah psikologi di kampus sambil terkantuk-kantuk. Kuliah full time yang dimulai sejak pukul 07.30 hingga pukul 16.00 ini terasa begitu membosankan. Bahkan, coffeemix full cream yang sengaja kubawa dari rumah pun tak mampu mengusir penat ini. Yahh,,,begitulah kondisi pendidikan di Indonesia saat ini. Lho kok?? Jadi mengkambing hijaukan Indonesia..hehehe..
          Namun ternyata, waktu tak mengijinkan saya meneruskan rasa kantuk ini. Pada mata kuliah selanjutnya, hadirlah seorang dosen yang selalu mampu membuat saya terkagum-kagum dan iri dengan kredibilitasnya. Sebut saja Ibu Sut***h. Beliau adalah salah satu relawan yang bekerja di Bp4 yang bertugas sebagai konsultan masalah rumah tangga. Hufftt...ngiri.com nih! 
          Hari ini beliau kembali bercerita pada kami tentang kasus-kasus rumah tangga yang menimpa kliennya. Di antaranya adalah anak usia 2,5 tahun yang telah dinodai oleh kakeknya sendiri, kakek nenek usia 70an yang nekat minta cerai di usia lanjutnya    , dan seorang suami yang minta cerai dari istrinya dengan membawa foto kasur yang belum dibereskan melalui hpnya.   
          Sungguh kasus-kasus yang sangat  menakjubkan, bukan?? Betapa banyaknya manusia yang tak lagi menghargai sakralnya sebuah pernikahan hanya untuk meneruskan ego mereka yang tersalurkan oleh hal-hal remeh temeh. Yang aku heran, sudahkah mereka semua lupa pada tujuan kita membangun sebuah keluarga? Sudahkah mereka lupa, bahwa sekecil apapun perbuatan kita tetaplah harus dipertanggung jawabkan di hadapanNya?
          Begitulah kawan, dapat kita lihat...bahwa CINTA selalu memiliki sebuah konsekwensi yang tak pernah dapat dipisahkan. Kembali lagi deh,,,ngomongin cinta...   Tapi memang benar kawan...sebuah cinta yang besar untuk menjalani kehidupan rumah tangga tidaklah cukup. Seperti postingan saya beberapa waktu yang lalu, di mana saya pernah mengatakan bahwa ada saatnya cinta akan pudar, melemah, rapuh, untuk kemudian menghilang begitu saja.
          Ibaratkan saja seperti ini, seseorang menikah dan kemudian [maaf..] terus menerus bercinta di dalam kamar. Maka kemudian si istri hamil dan melahirkan anak-anak mereka. Nah, apabila sang suami dan istri tidak bertanggung jawab atas cinta mereka itu, akankah mereka mampu mendidik putra-putri mereka hingga dewasa? Akankah mereka mampu membeli sesuatu untuk makan mereka sehari-hari?? Dan hanya sebatas itukah tanggung jawab kemudian akan berakhir?? Ternyata tidak, kawan... 
          Tanggung jawab lain adalah menjaga cinta itu agar terus menerus bersemi. Dan banyak lagi tanggung jawab-tanggung jawab lain yang tak pernah habis untuk disebutkan, tetapi wajib dijalankan dalam konsekwensi sebuah cinta.
        Cinta adalah sebuah kata yang sederhana. Tak pernah ada gambaran rumit saat mengucapkanya, namun membutuhkan penafsiran panjang atas definisinya. Dalam sebuah kehidupan rumah tangga, cinta meningkatkan ratting kerumitanya menjadi berkali lipat lebih dahsyat. Cinta yang mulanya mampu tampak dengan indahnya dan meliuk menggoda dalam masa pertunangan atau pacaran, akan mampu menjadi kehilangan pesonanya saat telah menapaki kehidupan rumah tangga. Dengan catatan, apabila kehidupan rumah tangga itu tidak dilandasi dengan keimanan dan ketakwaan yang kuat. Maka di situlah kemudian kita akan mampu mengambil banyak hikmah tentang syari’at Islam yang melarang pacaran ataupun hubungan pertunangan [yang ini dibahas lain kali aja yaa...hehehe].
           Rumit bukan kawan?? Tentu saja!!  Dan kerumitan itulah yang seharusnya membuat kita berpikir seribu kali ketika akan mengkhianati cinta yang telah kita bangun. Kerumitan itulah yang seharusnya menjadi ketakutan tersendiri bagi siapa saja yang ingin mengacuhkan, mengabaikan, dan menyingkirkan cintanya begitu saja.
            Dari kerumitan itu pun kita dapat menarik sebuah garis lurus, bahwa dinamisnya cinta akan mampu menghasilkan sebuah keluarga SAMARA [Sakinah, Mawaddah, wa Rohmah] ketika dia bergelayut mesra pada sebuah tanggung jawab [TeJe]. Nah, masalahnya...siapakan yang akan mampu memiliki rasa tanggung jawab sebesar itu untuk cintanya?? Kembali keimanan adalah kuncinya. Kawan,, carilah pemuda-pemuda solih untuk menjadi imammmu dan tempatmu bercinta. Agar kelak, ketika cinta itu mulai meneriakkan konsekwensinya...pria itu akan mampu memberikan dadanya untukmu setiap waktu, dan menumpahkan segala keringatnya untuk melihatmu tersenyum bahagia. Uuuuhhh...so sweet memang...tapi benar-benar sulliiiitt...aplikasinya. 

PS : Jangan pernah mengesampingkan dan mengabaikan keimanan seorang pemuda saat ia meminangmu....karena akan banyak pria penuh cinta di dunia ini, namun sangat sedikit pria dengan sebuah cinta yang lengkap berikut tanggung jawabnya,,,alias ”cinta satu paket.”

7 komentar :

  1. cinta satu paket??hmm..boleh jugaa....

    BalasHapus
  2. nice note...

    paling suka kAlimat "Tanggung jawab lain adalah menjaga cinta itu agar terus menerus bersemi"

    Tugas Berat, kecuali bagi pria yang punya cinta satu paket ya. CINTA + TANGGUNG JAWAB :)

    BalasHapus
  3. yu mbak makkita..stuju bgt...langka itu mbak...pria sprti itu...^^

    BalasHapus
  4. "carilah pemuda-pemuda solih untuk menjadi imammmu dan tempatmu bercinta. Agar kelak, ketika cinta itu mulai meneriakkan konsekwensinya...pria itu akan mampu memberikan dadanya untukmu setiap waktu, dan menumpahkan segala keringatnya untuk melihatmu tersenyum bahagia."

    AKU SUKA BANGET KALIMAT ITTTUUUUU HAAAHAAAHAAAA

    BalasHapus
  5. @jobelisme....hahahaa...dewiiii...dan sosok itu kmungkinan besar tdk ada pd diri seorg Kim Hyun Joong..hahahaa^^

    BalasHapus
  6. Asa, Cita, dan Cinta akan datang jika kita terus berusaha dan tak lelah untuk berdoa padaNya bukan...?

    dan tidak ada yang tidak mungkin, bukan...?


    *haha... menghibur diri,,,

    BalasHapus
  7. @mbak jobel...ya deeeh...ya deehhh...q akan mndukungmuuu cintaaaa^^

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan sebuah jejak persahabatan di sini :)