Mencintai Hujan....#2

Jumat, 01 April 2011
“Tak ada yang lebih tabah...
dari hujan bulan Juni,
dirahasiakannya rintik rindunya...
kepada pohon berbunga itu.
Tak ada yang lebih bijak...
dari hujan bulan Juni,
dihapusnya jejak-jejak kakinya...
yang ragu-ragu di jalan itu.
Tak ada yang lebih arif....
dari hujan bulan Juni,
dibiarkannya yang tak terucapkan....
diserap akar pohon bunga.”     
          Aku mencari kehadirannya di sudut-sudut hujan. Lalu aku kembali pada kesadaranku...bahwa aku tak mungkin lagi bersamanya. Diam....pekat...kelam...hanya suara isak tangis sesenggukan terdengar samar. Aku kembali resah saat waktu yang terlewat mengingatkanku pada kepergiannya. Hatiku kembali tersayat meski hujan itu mulai reda. Air mata tak perlu diberi nama bukan...?? Jika dia mengalir untuk sebuah hati yang terluka...
~Mengingat gadis kecil itu, seolah merupakan goresan luka pertama yang hadir untuk tetes-tetes hujan yang kucintai.~
“Kakak....kakak cari aku ya?” Sebuah suara parau menggertak lamunanku.   
          Mataku pun liar mencari sumber suara mungil itu. Tiba-tiba, sebuah tangan kecil menyeruak masuk ke dalam jendela kamarku dan menyentuh lenganku perlahan. Di luar hujan sangat deras, dan aku tengah mencari seorang gadis kecil di tepi jendela kusam. Namun ternyata dia ada di sini!! Dia berada tepat di bawah kaca jendela kamarku yang buram tersiram derasnya hujan. Sejenak nafasku tercekat dan jantungku berdegup lebih cepat. Kuberanikan diri membuka kaca jendela lebih lebar dan bicara padanya.
“Kok kamu bisa ada di sini?”
“Kakak adalah malaikat hujan kan?? Ayo keluar kak...aku udah lama menunggu kakak.” Gadis kecil itu sama sekali tak mengindahkan pertanyaanku, ia justru makin erat menarik lenganku dan mengajakku keluar dari kamar.
Hmm...hujan begitu deras...haruskah aku berjalan dalam hujan  ini untuknya?? Aku mulai ragu. Namun tanpa sadar aku telah mengayunkan langkahku menemuinya di tengah derasnya hujan.
“Kakak mau lihat surga nggak?” Gadis kecil itu kembali bertanya padaku sambil  menengadahkan kepalanya ke arah langit yang masih setia menjatuhkan ribuan tetes air.
          Entah mengapa...aku benar-benar terhipnotis oleh kehadirannya. Meski sesungguhnya, dalam benakku berloncatan berbagai pertanyaan yang ingin segera kulontarkan padanya. Aku pun ikut mengangkat kepalaku ke arah langit yang ia tunjuk. Mataku pedih terkena tetesan hujan yang bertubi-tubi jatuh ke bumi, namun gadis itu tidak!! Ia tetap berusaha menegakkan kepalanya pada langit yang ia pandang.
“Kak,,,surga itu ada di sana. Kalau kita berdoa sama Tuhan, nanti kita akan didatangi malaikat hujan. Dia hanya datang ketika hujan turun.” lalu dia terdiam.
“Siapa yang bilang begitu?” ujarku perlahan.
“Eyang. Eyang selalu bilang begitu sama Dea.” Oooh..namanya Dea.
“Memangnya Dea berdoa apa sama Tuhan?”
“Dea berdoa, supaya Dea bisa bobok lagi sama eyang di langit sana. Trus Dea juga minta...Tuhan kasih uang yang banyak buat ayah Evan dan Mama Elis, biar Dea nggak disuruh jual kue lagi setiap hari...biar Dea bisa nemenin kakak malaikat hujan menari di bawah hujan deras.” Ia menjawab pertanyaanku sambil menatap nanar ke arah hujan senja ini.
“Emm..Dea,,, tapi kakak bukan malaikat hujan seperti yang Dea maksud, sayang...Nama kakak, Ifa. Jadi Dea bisa panggil Kak Ifa saja.” Ujarku tersenyum sambil mengelus rambutnya yang basah kuyup. Lalu kami terdiam dalam derasnya hujan yang mengguyur.
          Aku dan dia ada di sana. Di atas sebuah bangku taman di depan rumahku, kami berdua duduk dalam hening. Hujan lelah mengguyur wajah-wajah kami yang tertelan senja. Badan mungil kami kian menggigil kedinginan. Namun tak seorang pun di antara kami yang ingin pergi. Seolah basah itu telah membuat kami enggan berlalu dalam sepi.
“Kakak malaikat hujan yang baik...terimakasih udah nemenin Dea di sini. Dea mau pulang dulu, karena sebentar lagi ayah dan mama Dea pulang. Besok-besok, kalau kakak malaikat hujan kangen sama Dea...kakak lihat ke langit itu ya...Dea akan ada di sana menunggu kakak ,dan dan menari hujan untuk kakak.”
           Lalu gadis kecil itu berlari cepat meninggalkanku dan menuju ke rumahnya tanpa menatap lagi ke belakang sedikit pun. Aku hanya tertegun memandang bayangnya yang mulai menghilang. Hujan sudah reda. Malam mulai merayap. Perlahan aku bangkit dari dudukku dan kembali ke rumahku dengan perasaan tak menentu. Aku telah bicara dengannya. Aku telah bicara dengan gadis kecil di tepi jendela kusam itu. Seolah tak percaya pada apa yang telah terjadi, aku mulai mencoba mengembalikan seluruh kesadaranku yang sempat terenggut paksa.   
           Rumah mungil itu dipenuhi oleh para tetangga yang sibuk berkerumun dengan pakaian hitam-hitam. Aku yang baru saja pulang dari kuliah hanya mampu memandang keheranan. Apa yang sudah terjadi?? Siapa yang barusan pergi itu?? Mengapa banyak isak tangis di sekelilingku??         
          Tanpa memperdulikan kerumunan itu aku pun masuk ke rumah dengan perasaan galau. Dengan gamang kulangkahkan kakiku menuju ke  dalam kamar. Tiba-tiba mataku menangkap secarik kertas lusuh yang menyelip di tepi jendela kacaku. Jendela kaca yang menjadi saksi bisu tentang cintaku pada hujan, jendela kaca tempat pertama aku  punya kesempatan untuk bicara dengan gadis kecil yang mencintai hujan sepertiku. Gemetar aku meraih secarik kertas tersebut. Air mata menggenang di sudut mataku kala aku membaca surat sederhana itu.
“Kakak malaikat hujan...
Dea mencintaimu...
sama seperti Dea mencintai hujan.”         
           Kuremas secarik kertas kusam itu perlahan, sama seperti remasanku pada surat kabar yang baru kubaca sore itu. “Penganiayaan Anak di Bawah Umur Oleh Kedua Orang Tua Tirinya Hingga Menyebabkan Kematian yang Tidak Wajar”, kira-kira seperti itulah judul postingan koran yang telah menyebabkan warga berkerumun di rumah gadis kecil di tepi jendela kusam itu.         
           Gadis kecil di tepi jendela kusam itu kini benar-benar telah pergi. Meski mengenalnya hanya dalam segaris senyuman, namun ia telah memberiku banyak kisah tentang kehidupan. Melalui kisah langit dari “eyangnya”...aku belajar, bahwa kita tak perlu mengingat seluruh kebaikan Tuhan untuk mensyukuri nikmatNya lebih dari apapun, tapi cukup dengan menengadahkan kepala kita ke langit...kita akan melihat salah satu karunianya yang terindah...# hikari sora~langit biru # akan kau lihat di sana!! Melalui caranya menikmati hujan, aku belajar...bahwa menikmati luka dan mengubahnya menjadi tawa, hampir sama dengan mengubah dinginnya hujan deras menjadi sebuah kehangatan yang tak tergantikan!! Dan melalui secarik kertas lusuhnya, aku belajar...bahwa kehidupan telah memberi kita beribu alasan untuk menangis, namun ia juga memberi berjuta alasan untuk tetap tersenyum, meski dalam kegalauan...



End.

29 komentar :

  1. tepuk tangaaaan...bagus2 ceritanya nick....inspirasi di bulan maret yang diguyur hujan ya...

    BalasHapus
  2. saya sangat menikmati sekali postingan Mencintai Hujan....#2 ini...

    BalasHapus
  3. @mas nitnot...heheeee...betulll mas....tapi inspirasinya menelurkan bulan juni...hahaa^^

    BalasHapus
  4. @Pak Profesorrr...wahhh saia sangat tersanjung dipuji org sebotak dan secerdas bapak...hahaa^^
    @mas andi...wakakaaaa...itu kan aplikasi sastra yg tercemar...jd bulanya kacauuu...hahaa^^

    BalasHapus
  5. Aku mencintaimu Nik...bukan mencintai hujan...kwakakaakkk...+=+

    BalasHapus
  6. bagus bangetz mba..
    sedih...

    BalasHapus
  7. @Liz...oh yaaa??love u too dear..hahaa^^
    @akane...makasih yaa...tersungging akuuu,,,heheee^^

    BalasHapus
  8. Budiman As'ady1 April 2011 14.34

    mantap bu...

    semoga selalu diberi semangat!!!

    BalasHapus
  9. Subhanallah, benar2 teruntai indah Nick kata2nya. Suka saya Nick. Jadi kangen menulis persis seperti bicara sendiri, hehe. Akh tapi Nick pembawaanya kereeen. Eh tahu ga eyangnya Dea siapa? :))

    BalasHapus
  10. @mas budiman...waaaaa...waaa...tertohok saiaa...di pamggil ...'BU'...sungguh panggilan yg menyesakkan hatii...mengingat saia masih imut2 dan melajang...hahaaa...^^tapi thanks buat doanya...^^

    BalasHapus
  11. @mas Qefy....waahh,,,saia dipuji atau dihina yaa...???[raguu..hehee]...pdhal saia jg slalu terinspirasi dg ke-misteriusan mas qefy saat menuang kata2nya ....bnyak hal yg lebih pntas saia kagumi dlm untaian katanya..lebih mengalir...
    NB:neneknya Dea...mungkin eyang Dia...[hahaaa...baru nyadar akuu...kalau nama kalian bgtu mirip...wkwkwkk]

    BalasHapus
  12. Wakakakakakakaaa...., semangat ya Nik..

    Salam Bloofers :)

    BalasHapus
  13. @Mas Qefy....yup...insyaallah always spirit mas,,
    waiyyakum ya mas.... Salam ukhuwah dan Salam BLOOFERS
    hahahaaa...aku bisaaa...bikin link...^^

    BalasHapus
  14. Tak sabar menunggu kelanjutannya... ^^

    BalasHapus
  15. setiap mampir disini,ane selalu bersyukur akan kehadiran hujan,walaupun jemuran ane gk kering2 karena hujan..nanti mau menegadahkan muka kelangit ah...

    BalasHapus
  16. @mas fahriiii....ini kan dah d' end mass...critanyaaaa...hahaaaa....
    @mas i-one...heheee...jmuran ttap basah bukan karena hujan terus trun...tapi karena sang jmuran tak mau menepi...hahaaa...^^

    BalasHapus
  17. HUjan.... huaaaaa, saia juga pencinta hujan.

    Mbak suka nulis juga.. senangnya kenalan

    BalasHapus
  18. @mbak mieny...heheee,,,makasih mbak mieny...iyya..saia suka nulis...tapi saia blom semahir mbak mieny dalam berkarya,,hehee
    pena dan hujan yg berderai adlah satu paket cinta mbak..hehee^^

    BalasHapus
  19. Nik..banyak hal yg aku ingat tentangmu..di usia kanak2...namun satu hal yg tak pernah kulupakan tentang kehadiranmu...bahwa kau pernah membuang tasku ke sawah di kala hujan turun dengan derasnyaaa...hahahaaaaaa....

    BalasHapus
  20. @Pras....aku hanya mampu...TERTAWA,,,hahaa..^^

    BalasHapus
  21. blog yg lembut...aku suka juga puisi ini..sangatttt two thumbs up

    BalasHapus
  22. @mbak liez...sama mba...tengkyuu...^^

    BalasHapus
  23. mengharukan, saya suka blog ini yg mengidentikkan hujan, cerdas

    BalasHapus
  24. @mas fadhli....hiks...terharuuuu...makasih mas...^^

    BalasHapus
  25. indah sekali kalimat2 itu,,,
    tentang bulan yang tak memiliki kekalahan bijak dan arif
    tentang ia yang menghapus jejak dengan tulus..

    tentang penerimaan sesungguhnya ^_^

    BalasHapus
  26. @W i e d e s i g n a r c h
    hehehee...makasih mb...puisinya saduran sapardi djoko damono tuh mb,,,,hehehehe...^_^

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan sebuah jejak persahabatan di sini :)