Tentang Pilihan-Pilihan

Kamis, 10 Maret 2011

Pernahkah terpikir olehmu...bahwa hari-hari yang kau lalui terlampau membosankan?? Sejenak kau mampu tersenyum menikmati sesuatu yang baru dan penuh sensasi. Namun semua itu tak akan berlangsung lama, karena beberapa saat kemudian hatimu kembali dipenuhi oleh gemuruh kejenuhan. Huuufftt. Aaaahh. Hmmmfftt.  Dan beberapa kalimat bernada keluhan lain akan segera terlontar menemani suasana bosan yang menjelma. Hingga tanpa kau sadari...penat akan semakin menderamu karena adanya kalimat-kalimat tak bertanggung jawab itu.
        Terkadang kita lupa, bahwa dalam satu hari yang kita jalani ada begitu banyak nikmat Allah yang telah kita kecap. Hanya setitik penat dan kebosanan yang hadir mewarnainya, namun dengan kehadirannya kita dengan beraninya mengalphakan kehadiran Tuhan. Kehadiran Tuhan yang telah mengijinkan kita membuka mata untuk kesekian kalinya di pagi yang ceria, kehadiran Tuhan yang telah mendidik kita dengan berbagai kesempatan untuk maju dan berjuang di jalanNya, pun kehadiran Tuhan yang telah melukis kanvas penuh warna dalam kehidupan kita....melebihi kehebatan cat “Dulux” dalam memberi warna..
        Banyak hal yang mampu membuat kita malu dan tersadar untuk kembali mencintai setiap jengkal kesempatan yang Allah berikan. Namun sebanyak itu pula keegoisan kita mampu menerpa kesadaran yang kita miliki dan menghempaskannya hingga jauh tak bersisa. Begitulah manusia, setiap detik...setiap menit...setiap jam..akan terbolak-balik hatinya. Dan hanya hati seorang mukminlah yang akan kembali terbalik ke posisi yang benar dengan adanya hidayah dariNya.
        Pagi ini mungkin saja kita terbangun dengan pikiran yang segar, hati ceria, wajah memancarkan kebahagiaan dan rasa optimisme yang tinggi, serta tubuh yang telah siap untuk melawan tantangan hari. Tak terlintas sedikitpun dalam benak kita, bahwa akan ada badai-badai kecil yang akan menimbulkan gemuruh di hati kita. Anggap saja hujan yang turun tiba-tiba, dan mantel yang tak kunjung ditemukan meski waktu telah rusuh meneriakkan keterlambatan akan menjadi badai kecil pertama yang kita jumpai pagi itu.
        Dan ternyata badai kecil itu tak berhenti di situ saja. Masih ada badai-badai lain yang datang secara bertubi-tubi dan tanpa permisi. Bayangakn saja jika hari yang mulai terasa meresahkan itu dilanjutkan dengan keharusan untuk menunggu seseorang yang tak kunjung datang, dosen pembimbing misalnya. Waaaww...bisa dibayangkan, betapa semrawutnya wajah kita saat itu, betapa menderunya rasa marah yang terendap di hati kita, betapa manyunya bibir kesal kita, dan betapa banyak kalimat keluhan yang akan terlontar dari mulut kita.
        Hingga tanpa kita sadari, justru di saat itulah kita telah memilih kehidupan kita di hari ini.  Kita telah memilih untuk memenangkan rasa kesal yang menyesak dada dibandingkan tersenyum mengikhlaskan kejadian yang telah terlalui. Kita telah memilih untuk menjalani kehidupan di hari itu dengan bibir yang monyong beberapa senti hingga membuat kawan kita enggan untuk menyapa, dibanding menjalani hidup hari ini dengan senyuman yang senantiasa tersungging ramah. Kita telah memilih untuk mewarnai hari kita dengan warna kelabu dibanding menciptakan sebuah pelangi yang mampu menyuguhkan aneka warna, hingga kelabu yang ada akan tersapu oleh siluet jingga. Dan kitapun telah memilih untuk meramaikan hari kita dengan lontaran caci maki yang sia-sia, dan bukan dengan suara dzikir yang menggema dan berpahala.

        Kawan, jika hari ini kamu belum menentukan pilihan hidupmu di antara sekian banyak pilihan yang tersaji dalam kehidupan ini.....maka tentukanlah mulai detik ini!!! Jika setelah ini kamu tersenyum, maka kamu telah memilih untuk menjalani hari ini dengan bahagia. Meski separuh hari telah kau habiskan dengan wajah muram, namun setidaknya akan ada akhir yang membahagiakan untuk hidupmu hari ini. Namun jika setelah ini kau masih mampu untuk berwajah muram...maka selamat!! Kaupun telah memilih sesuatu untuk hari yang telah kau jalani saat ini. Hanya saja,,,andai aku mampu,,,aku ingin selalu memilih kebahagiaan untuk hidupku..salah satunya dengan tersenyum menghadapi setiap badai yang ada. Karena, bahagia itu adalah pilihan...dan Allah berasama prasangka hambaNya...^___^


8 komentar :

  1. Karena, bahagia itu adalah pilihan...dan Allah berasama prasangka hambaNya

    keren ^^d

    follow blog saya y de',, :)

    BalasHapus
  2. andai aku mampu,,,aku ingin selalu memilih kebahagiaan untuk hidupku..salah satunya dengan tersenyum menghadapi setiap badai yang ada. Karena, bahagia itu adalah pilihan...dan Allah berasama prasangka hambaNya...^___^

    suka bangeeet.... ^^

    BalasHapus
  3. makasih mbak Phipi...smoga kita mampu untuk terus tersenyum dalam kebahagiaan2 itu...^^

    BalasHapus
  4. Iyaaa.... kita yang menentukan untuk memilih bahagia... karena buykan bahagia yang memilih kita... hohohoho.......

    BalasHapus
  5. @jobelisme...baguuuss...simbahku yg satu ini mulai dewasa rupanyoooo...hahaaaa

    BalasHapus
  6. Kalimat top: "Kita telah memilih untuk memenangkan rasa kesal yang menyesak dada dibandingkan tersenyum mengikhlaskan kejadian yang telah terlalui."
    Aku terharu huhuh (lebay)
    Sefty mau ngurangin bete-bete-an ah~ karena Sefty memilih untuk bahagia \m/

    BalasHapus
  7. @sefty...bagus tuh sef...dr pd kesel,,mending kamu sebarin bawel di bloof aja gih sono...hahahaha

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan sebuah jejak persahabatan di sini :)