• Kisah Hujan

    Hati, tubuh, jiwa, bisa terganti. Namun tulisan-tulisan kita (kemarin) akan selalu abadi. Entah dimana, di negerinya sendiri.

  • Menerka Hujan

    Percayakah kamu kalau saat hujan turun doa kita lebih bisa terkabul? Jadi kenapa tidak mengubah rindu menjadi doa, lalu semoga semuanya baik saja :)

  • Firasat Hujan

    Di Kota Hujan, kadang karena terlalu dingin, jadi terasa perih.

  • Sajak Hujan

    Puisi-puisiku berlari dalam hujan menuju rindu paling deras; kamu.

  • Senandung Hujan

    Ada senandung Tuhan, dalam tiap tetes hujan. Hujan akan tetap menjadi hujan, nikmat Nya yang tak bisa di dustakan.

  • Kota Hujan

    Hujan tahu kapan harus membasahi kota ini. Hujan juga tahu kapan harus berhenti.

  • Hujan dan Kopi

    Karena aroma secangkir kopi juga sebuah cinta.

  • Dongeng Hujan

    Ada yang percaya bahwa di dalam hujan terdapat lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang rindu. Senandung rindu yang bisa meresonansi ingatan masa lalu.

Senja yang Menjelma Cinta

Minggu, 03 April 2011
Sosok itu tersenyum dalam guratan senja. Dia masih berdiri di sana. Menatapku dalam kekalutan  panjang akan sebuah pertemuan. Hatiku serasa tercabik oleh sekian banyak sayatan luka.
“Aku mencintaimu…lebih dari kau mencintaiku…” Ujarnya setengah berbisik.
Kuseka air mataku perlahan. Sungguh, aku tak mampu memandangnya  lebih lama lagi. Lambat  kugerakkan punggungku membelakanginya dan mulai berjalan menjauh. Celoteh itu kembali hadir di antara bayang-bayang tubuhnya yang mulai menghilang.
Lama kupandangi foto yang memburam di atas bangku kereta. Ada begitu banyak kisah tentangnya  yang tak pernah mampu kupilah karena padat oleh cinta.  Aku tahu, bahwa aku takkan pernah sanggup menghitung tiap-tiap air matanya yang jatuh berderai untukku.  Mungkin memang benar jika dia berkata, bahwa dia telah mencintaiku…lebih dari aku mencintainya. Selalu kuingat, betapa hangat pelukannya di antara dinginnya hujan, betapa erat rengkuhannya saat aku terseok jatuh dalam sebuah perjalanan panjang bernama kehidupan.  Senja itu menjadi saksi, bahwa  persahabatanku dengan ibuku telah terjalin begitu indah.


NB : Diikutkan dalam Kuis Cerpelai Persahabatan
Read More - Senja yang Menjelma Cinta

Mencintai Hujan....#2

Jumat, 01 April 2011
“Tak ada yang lebih tabah...
dari hujan bulan Juni,
dirahasiakannya rintik rindunya...
kepada pohon berbunga itu.
Tak ada yang lebih bijak...
dari hujan bulan Juni,
dihapusnya jejak-jejak kakinya...
yang ragu-ragu di jalan itu.
Tak ada yang lebih arif....
dari hujan bulan Juni,
dibiarkannya yang tak terucapkan....
diserap akar pohon bunga.”     
          Aku mencari kehadirannya di sudut-sudut hujan. Lalu aku kembali pada kesadaranku...bahwa aku tak mungkin lagi bersamanya. Diam....pekat...kelam...hanya suara isak tangis sesenggukan terdengar samar. Aku kembali resah saat waktu yang terlewat mengingatkanku pada kepergiannya. Hatiku kembali tersayat meski hujan itu mulai reda. Air mata tak perlu diberi nama bukan...?? Jika dia mengalir untuk sebuah hati yang terluka...
~Mengingat gadis kecil itu, seolah merupakan goresan luka pertama yang hadir untuk tetes-tetes hujan yang kucintai.~
“Kakak....kakak cari aku ya?” Sebuah suara parau menggertak lamunanku.   
          Mataku pun liar mencari sumber suara mungil itu. Tiba-tiba, sebuah tangan kecil menyeruak masuk ke dalam jendela kamarku dan menyentuh lenganku perlahan. Di luar hujan sangat deras, dan aku tengah mencari seorang gadis kecil di tepi jendela kusam. Namun ternyata dia ada di sini!! Dia berada tepat di bawah kaca jendela kamarku yang buram tersiram derasnya hujan. Sejenak nafasku tercekat dan jantungku berdegup lebih cepat. Kuberanikan diri membuka kaca jendela lebih lebar dan bicara padanya.
“Kok kamu bisa ada di sini?”
“Kakak adalah malaikat hujan kan?? Ayo keluar kak...aku udah lama menunggu kakak.” Gadis kecil itu sama sekali tak mengindahkan pertanyaanku, ia justru makin erat menarik lenganku dan mengajakku keluar dari kamar.
Hmm...hujan begitu deras...haruskah aku berjalan dalam hujan  ini untuknya?? Aku mulai ragu. Namun tanpa sadar aku telah mengayunkan langkahku menemuinya di tengah derasnya hujan.
“Kakak mau lihat surga nggak?” Gadis kecil itu kembali bertanya padaku sambil  menengadahkan kepalanya ke arah langit yang masih setia menjatuhkan ribuan tetes air.
          Entah mengapa...aku benar-benar terhipnotis oleh kehadirannya. Meski sesungguhnya, dalam benakku berloncatan berbagai pertanyaan yang ingin segera kulontarkan padanya. Aku pun ikut mengangkat kepalaku ke arah langit yang ia tunjuk. Mataku pedih terkena tetesan hujan yang bertubi-tubi jatuh ke bumi, namun gadis itu tidak!! Ia tetap berusaha menegakkan kepalanya pada langit yang ia pandang.
“Kak,,,surga itu ada di sana. Kalau kita berdoa sama Tuhan, nanti kita akan didatangi malaikat hujan. Dia hanya datang ketika hujan turun.” lalu dia terdiam.
“Siapa yang bilang begitu?” ujarku perlahan.
“Eyang. Eyang selalu bilang begitu sama Dea.” Oooh..namanya Dea.
“Memangnya Dea berdoa apa sama Tuhan?”
“Dea berdoa, supaya Dea bisa bobok lagi sama eyang di langit sana. Trus Dea juga minta...Tuhan kasih uang yang banyak buat ayah Evan dan Mama Elis, biar Dea nggak disuruh jual kue lagi setiap hari...biar Dea bisa nemenin kakak malaikat hujan menari di bawah hujan deras.” Ia menjawab pertanyaanku sambil menatap nanar ke arah hujan senja ini.
“Emm..Dea,,, tapi kakak bukan malaikat hujan seperti yang Dea maksud, sayang...Nama kakak, Ifa. Jadi Dea bisa panggil Kak Ifa saja.” Ujarku tersenyum sambil mengelus rambutnya yang basah kuyup. Lalu kami terdiam dalam derasnya hujan yang mengguyur.
          Aku dan dia ada di sana. Di atas sebuah bangku taman di depan rumahku, kami berdua duduk dalam hening. Hujan lelah mengguyur wajah-wajah kami yang tertelan senja. Badan mungil kami kian menggigil kedinginan. Namun tak seorang pun di antara kami yang ingin pergi. Seolah basah itu telah membuat kami enggan berlalu dalam sepi.
“Kakak malaikat hujan yang baik...terimakasih udah nemenin Dea di sini. Dea mau pulang dulu, karena sebentar lagi ayah dan mama Dea pulang. Besok-besok, kalau kakak malaikat hujan kangen sama Dea...kakak lihat ke langit itu ya...Dea akan ada di sana menunggu kakak ,dan dan menari hujan untuk kakak.”
           Lalu gadis kecil itu berlari cepat meninggalkanku dan menuju ke rumahnya tanpa menatap lagi ke belakang sedikit pun. Aku hanya tertegun memandang bayangnya yang mulai menghilang. Hujan sudah reda. Malam mulai merayap. Perlahan aku bangkit dari dudukku dan kembali ke rumahku dengan perasaan tak menentu. Aku telah bicara dengannya. Aku telah bicara dengan gadis kecil di tepi jendela kusam itu. Seolah tak percaya pada apa yang telah terjadi, aku mulai mencoba mengembalikan seluruh kesadaranku yang sempat terenggut paksa.   
           Rumah mungil itu dipenuhi oleh para tetangga yang sibuk berkerumun dengan pakaian hitam-hitam. Aku yang baru saja pulang dari kuliah hanya mampu memandang keheranan. Apa yang sudah terjadi?? Siapa yang barusan pergi itu?? Mengapa banyak isak tangis di sekelilingku??         
          Tanpa memperdulikan kerumunan itu aku pun masuk ke rumah dengan perasaan galau. Dengan gamang kulangkahkan kakiku menuju ke  dalam kamar. Tiba-tiba mataku menangkap secarik kertas lusuh yang menyelip di tepi jendela kacaku. Jendela kaca yang menjadi saksi bisu tentang cintaku pada hujan, jendela kaca tempat pertama aku  punya kesempatan untuk bicara dengan gadis kecil yang mencintai hujan sepertiku. Gemetar aku meraih secarik kertas tersebut. Air mata menggenang di sudut mataku kala aku membaca surat sederhana itu.
“Kakak malaikat hujan...
Dea mencintaimu...
sama seperti Dea mencintai hujan.”         
           Kuremas secarik kertas kusam itu perlahan, sama seperti remasanku pada surat kabar yang baru kubaca sore itu. “Penganiayaan Anak di Bawah Umur Oleh Kedua Orang Tua Tirinya Hingga Menyebabkan Kematian yang Tidak Wajar”, kira-kira seperti itulah judul postingan koran yang telah menyebabkan warga berkerumun di rumah gadis kecil di tepi jendela kusam itu.         
           Gadis kecil di tepi jendela kusam itu kini benar-benar telah pergi. Meski mengenalnya hanya dalam segaris senyuman, namun ia telah memberiku banyak kisah tentang kehidupan. Melalui kisah langit dari “eyangnya”...aku belajar, bahwa kita tak perlu mengingat seluruh kebaikan Tuhan untuk mensyukuri nikmatNya lebih dari apapun, tapi cukup dengan menengadahkan kepala kita ke langit...kita akan melihat salah satu karunianya yang terindah...# hikari sora~langit biru # akan kau lihat di sana!! Melalui caranya menikmati hujan, aku belajar...bahwa menikmati luka dan mengubahnya menjadi tawa, hampir sama dengan mengubah dinginnya hujan deras menjadi sebuah kehangatan yang tak tergantikan!! Dan melalui secarik kertas lusuhnya, aku belajar...bahwa kehidupan telah memberi kita beribu alasan untuk menangis, namun ia juga memberi berjuta alasan untuk tetap tersenyum, meski dalam kegalauan...



End.
Read More - Mencintai Hujan....#2