• Kisah Hujan

    Hati, tubuh, jiwa, bisa terganti. Namun tulisan-tulisan kita (kemarin) akan selalu abadi. Entah dimana, di negerinya sendiri.

  • Menerka Hujan

    Percayakah kamu kalau saat hujan turun doa kita lebih bisa terkabul? Jadi kenapa tidak mengubah rindu menjadi doa, lalu semoga semuanya baik saja :)

  • Firasat Hujan

    Di Kota Hujan, kadang karena terlalu dingin, jadi terasa perih.

  • Sajak Hujan

    Puisi-puisiku berlari dalam hujan menuju rindu paling deras; kamu.

  • Senandung Hujan

    Ada senandung Tuhan, dalam tiap tetes hujan. Hujan akan tetap menjadi hujan, nikmat Nya yang tak bisa di dustakan.

  • Kota Hujan

    Hujan tahu kapan harus membasahi kota ini. Hujan juga tahu kapan harus berhenti.

  • Hujan dan Kopi

    Karena aroma secangkir kopi juga sebuah cinta.

  • Dongeng Hujan

    Ada yang percaya bahwa di dalam hujan terdapat lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang rindu. Senandung rindu yang bisa meresonansi ingatan masa lalu.

Hujan Bulan Mei

Sabtu, 18 Juni 2011

Yogyakarta, Mei 2011... (12:00 am)

          Terik begitu menyengat, hingga dahi yang tersembunyi di balik kerudung jingga yang kukenakan perlahan basah oleh peluh. Suara bising memenuhi kota kelahiranku, Yogyakarta tercinta. Ramai kaki lima berjejalan di sela-sela padatnya kendaraan bermotor yang berlalu-lalang tanpa saling menyapa. Ckckck...kotaku ini mulai tak ramah pada tuan rumah. Apa mungkin karena ia mulai penat dengan serumpun pendatang yang merusak hari-harinya?? (hahaha...mulai deh aku menyalahkan para pendatang di kotaku sebagai penyebab segala penat..maaf ya...hahaha) -----> Jujur saja....hal ini sering kulakukan.

          "Rrrrttt...rrrttt....#heartbeat...."
        Ponselku tiba-tiba saja berbunyi pada saat yang sangat tidak tepat. Konsentrasiku untuk menembus keramaian kota mendadak hilang tanpa bekas. Segera kurapatkan motorku ke tepi jalan demi menjawab panggilan jiwa di seberang sana. Rupannya salah seorang sahabatku dari Kota Pekalongan mengundangku untuk saling melepas kerinduan tepat di hari lahirnya. Sejenak ada sebuah kebimbangan menyapa. Otakku berontak memikirkan betapa singkatnya hari liburku untuk memenuhi naluri persahabatan ini, terlebih lagi kebimbanganku akan persetujuan sang bunda yang kadang terlalu mengkhawatirkan anak gadisnya ini pun ikut menghancurkan khayalku. Ahh...sudahlah...itu semua masih bisa dipikirkan nanti setelah aku menginjakkan kaki di rumah.
 Pekalongan, Mei 20011
       Setelah rayuan maut berikut segenap kekuatan jiwa kukerahkan, akhirnya aku berada di kota kenangan ini. Sebuah kota di mana aku pernah menjejak selama 2 tahun untuk menyaksikan tangisan sang bunda demi melihatku menyelesaikan hafalan Al-Qur’an (hiks..kalau ingat jadi ingin kembali mengurai air mata..). Tengah malam aku sampai di tempat yang kutuju. Ma’had Tahfidz Al-Irsyad Pekalongan. Ahahaa...para sahabat telah menyambut kedatanganku dengan ceria (JPP = Jadi Pusat Perhatian...hahahaa...jadi malu...). Padahal kau tahu kawan...jalanku masih terhuyung, kepalaku masih bergoyang, dan ruhku belum kembali benar ke tempatnya dikarenakan mabuk dahsyat yang kualami selama perjalanan di travel tadi. Jalan alas roban menuju Pekalongan begitu berkelok sehingga membuat perutku seperti gempa dan jantungku lepas dari tempat bergantungnya. Selain itu...ini adalah kali pertama aku pergi ke luar kota seorang diri (hahhaa..baru sadar..betapa penakutnya aku selama ini...).
          Karena liburanku yang begitu singkat dan adanya semester pendek  yang menungguku di Yogyakarta tercinta untuk segera ditempuh, maka keesokan paginya (tepat di hari ulang tahun sahabatku) kami menempuh jarak sekitar 2 jam untuk menuju ke perkebunan teh di Pagilaran. Kami pergi bersama 10 kawan  lain yang tergabung dalam Laskar Gurobha (nama angkatan). Sayangnya ada sebuah  adegan mengerikan yang harus kualami, yaitu kami harus mencarter angkot untuk menuju ke sana. Oh no, pada saat itu wajahku tampak memucat. Aku belum pernah naik angkot!!!
           Hahahaha....bisa kubayangkan betapa tidak nyamannya menjadi seekor sarden mungil yang terombang-ambing di dalam kaleng yang tak kalah mungilnya. Yah...begitulah keadaanku saat itu. Entah sudah berapa kali kuoleskan save care ke dahiku demi menahan rasa mual. Pada saat itu, tak ada seujung kuku pun kebahagiaan yang kurasakan meski di sekitarku terdengar tawa para sahabat yang tengah menikmati perjalanan serta lelucon-lelucon mereka yang berusaha menghiburku. Wajahku pucat, kening berkerut, kepala berdenyut, dan berbagai tampilan aneh lainnya secara tiba-tiba menjadi atribut lengkapku saat itu. Hadooohh..rasanya aku ingin loncat dari kendaraan penuh siksaan itu dan berguling-guling saja di atas tanah yang berbukit-bukit.

Photobucket
    Maka ketika pada akhirnya kami sampai di tempat tujuan, aku yang biasanya tak pernah alpha memamerkan senyum keceriaan mendadak berubah menjadi seorang gadis aneh yang tampak tua dan lelah (hahaha...). Sang angkot benar-benar sukses memalingkan duniaku...ckckckk... Syukur alhamdulillah keadaan mengerikan itu kemudian terhapus begitu saja oleh kesejukan dan keindahan Pagilaran yang terhampar. Aku benar-benar merasa ditampar kanan kiri oleh bentangan alam raya lukisanNya. Bagaimana bisa terkadang kita berpikir bahwa dunia begitu sempit dan penat ketika kita tengah dirundung masalah dan beban yang bertubi-tubi, sementara kita terlupa akan kisah tentang bumiNya yang luas dan penuh dengan hamparan keindahan. Nikmat Tuhanmu yang mana kah lagi yang akan kau dustakan??
          Namun belum lama kami bersenda menikmati bekal dan udara sejuk yang melesak ke paru-paru dengan bebasnya...tiba-tiba.... *bruuuussshhhhh.....hujan mengguyur kami dengan dahsyatnya. Ratusan ribu percikan air kehidupan Dia siramkan di atas bumi Pagilaran. Kami benar-benar tampak seperti dedaunan lunglai hanyut yang tersapu air di antara ciptaannya yang begitu luas. Berlarian ke sana-kemari sudah otomatis menjadi tindakan pertama yang kami lakukan (hahaha...). Untungnya hujan deras yang membuatku terkagum-kagum tadi hanya sesaat meski cukup membuat kami basah kuyup. Namun ternyata, badan yang menggigil dan baju yang basah tak membuat kami mengurungkan niat untuk mencoba berbagai permainan alam yang tersedia di sana (begitulah..darah muda darahnya para remaja...hahaha). Oiya, inilah kali pertama aku berani mencoba flying fox...(hahaha...penakut banget ya...) itupun karena para sahabatku berhasil mengelabuhiku sehingga aku berani mencobanya.

Photobucket
          Alhasil, pulanglah kami ke Pekalongan pada sore harinya dengan wajah merah merona karena kepuasan, kebahagiaan, dan syukur tak terhingga. Dan ajaibnya...perjalanan pulang hari itu tak lagi diwarnai oleh mabuk yang menjadi-jadi meskipun kami menaiki kendaraan yang sama (buruknya) seperti ketika berangkat. Nah, berhubung waktu liburanku yang hanya 2 hari saja, maka malam itu aku langsung berpamitan untuk kembali menuju kota kelahiranku. Suasana haru dan tangis tertahan mengiringi kepergianku malam itu. Terkadang...persahabatan tampak begitu mengikat dan meresahkan, meski sesungguhnya hati kecil kami telah memaknainya lebih dari sekedar kebersamaan dan tangisan.
          Hembusan angin malam membuatku sedikit menggigil dan merasa sunyi di tengah keramaian. Pelukan hangat para sahabat mengingatkanku pada simponi indah yang mengalun melalui tuts-tuts piano para musisi kebanggaanku. Senyuman mereka menghantarkanku pada percikan api di tengah gulita. Dan ucapan doa yang mengalir dari bibir suci mereka telah menemaniku sepanjang perjalanan menuju Kota Yogyakarta.
          Ahhh...begitu indah kurasakan liburan singkat kali ini. Kau bahkan tak perlu tiket mahal ke Disneyland atau pun kartu ATM yang membengkak demi meraih kebahagiaan dan obat kepenatan. Karena yang kita perlukan hanyalah sedikit kebersamaan dan rengkuhan persahabatan yang tak tergantikan. Maka pada keesokan harinya, saat Tuhan masih mengijinkanku membuka mata di kotaku ini...aku hanya mampu tersenyum menatap keramaian kota, hanya mampu bersyukur saat lelah menerpa, dan hanya mampu merenung saat koin-koin mungil jatuh ke tangan para pedagang kaki lima.
          Kawan, saat kau merasa lelah dan bumi tempatmu berpijak terasa bergoyang...maka berhentilah. Tataplah kembali kelokan-kelokan masa lalu yang pernah kau jejaki. Perlahan namun pasti, kearifan itu akan datang menghampirimu dan membuatmu sedikit mengerti tentang perjalanan panjang yang masih harus kau lalui. Dan kemudian...berjalanlah kembali pada jalanmu yang seharusnya, namun tidak dengan wajah hampa...melainkan dengan segaris senyum keabadian. Salam persahabatan selalu dari Negri Yogyakarta...hahaha...^^
Read More - Hujan Bulan Mei

Long Vacation with Dandelion

Jumat, 03 Juni 2011
*Langkah-langkah kaki kecil di bulan Juni,
menarilah untuk hujan yang kucintai...
Tapak-tapak kaki mungil di bulan Juni,
menandak-nandak ceria tiada peduli...
Sedikit waktu membiarkanmu terseok seorang diri,
sedikit waktu mengenalimu dalam tawa renyah...
Namun di bawah rinai hujan itu,,,aku makin mendekap hangat tubuhmu..
[dan] lagi-lagi..pada hujan di bulan juni....*

Coba kenali aku! Lekuk tubuhku mungil, tiada seorang pun peduli. Coba dekati aku! Suaraku lirih, tiada kau dengar dan pahami. Coba cintai aku! Jiwaku samar, tiada kau mampu raba rapuhku. Tersudut, di antara ilalang dan semak perdu. Terabai, di pucuk-pucuk alam nan permai. Namun aku ada...untuk terus menatapmu, menyayangimu, dan memberi bias tawa untukmu.
--Dandelion--
Sebut namaku dan kau akan mengerti. Aku masih sendiri di sini dengan hati sepi. Menatap pekat pada percumbuan ufuk dan senja. Namun aku adalah si mungil pemimpi. Terkadang aku terinjak, terserabut, dan juga mengering. Dandelion di sudut pekarangan, itulah aku. Kutahu namaku, karena gadis itu memanggilku begitu. Dandelion mungil..aku menyayangi ketegaranmu, seperti aku menyayangi harapan-harapanku. Begitu gadis itu selalu berucap tatkala menyentuh rapuhku. [Catatan sang dandelion...]

Diary dandelion...
Masih kutatap wajah kusutnya yang tampak lelah. Membuka pintu perlahan, dan membiarkannya tetap seperti itu hingga beberapa waktu berlalu. Kembali ia terduduk di depan jendela seperti kebiasaanya. Kali  ini tangannya bertumpu pada buku-buku tebal yang tak pernah kukenali sebagai koleksi kesayangannya. Mulai ia sandarkan kepala pening dan lelahnya pada tangan yang lunglai di antara tumpukan buku yang tampak angkuh. Perlahan ia hembuskan nafasnya satu persatu, hingga ia pulas dalam mimpi lelah pada siang terik di bulan Juni. Untuk kesekian kalinya, aku mengenalinya sebagai sosok yang menyukai meja mungil di tepi jendela itu sebagai tempat rehat yang nyaman.

{ Ufftt...kebiasaan deh! Aku ketiduran lagi di sini. Tak bisa kumengerti, bagaimana mungkin meja ini terasa begitu nyaman tadi. Sekarang kurasakan pegal di sana sini. Tentu saja, lihatlah gadis...kau telah tertidur bertumpu lengan dan beralas kayu. Haha..kembali kutertawakan kebodohanku. Dan... Ya Tuhan...aku kembali lupa mengunci pintu. Untung saja siang ini begitu sepi tanpa kehadiran siapapun di sekitarku. Segera kukemas berkas-berkas penting dan literatur tebal yang harus kubawa menginap di kampus malam ini. Tak lupa kudandani si merah untuk menemaniku mengetik di sana. Krucuuukkk...uhh..perutku serasa diremas. Owh, rupanya aku lupa untuk mengajaknya bersantap semenjak pagi. Ahh, andai minggu ini bunda di rumah...tentu aku sudah habis diomelinya karena kebiasaan buruk ini. Tergesa kutinggalakan rumah dengan sebuah ransel berat di pundakku dan sejumput permen kristal [red. foxs] kesukaanku. }

Dandelion petang....
Hari ini ia kembali tak menyapaku! Bahkan sekedar memberiku senyuman pun tidak. Ia hanya datang sekejap, untuk kemudian pergi lagi, datang lagi, dan pergi lagi. Hey dandelion...!! Sudahlah..mungkin kau memang tak begitu berarti di hatinya! Aku tersentak oleh lamunanku sendiri. Tapi gadisku itu benar-benar mengacuhkanku lagi hari ini. Tak dipedulikannya tubuh mungilku yang meliuk indah di antara ilalang. Tak dihiraukannya pula serabut harapan dari tubuhku yang terbang ditiup angin. Perih memang, namun kau tahu kawan...disitulah kekuatanku. Meski terkadang aku harus menangis karena dilupakan, aku tetap akan tumbuh..dan terus bertumbuh di berbagai keadaan. Pada tanah gersang aku tebarkan benih harapan, pada tanah basah aku sampaikan salam persahabatan, pun begitu pada semak berduri...aku kisahkan tarian perdamaian. Akulah sang dandelion! Akulah kerapuhan sekaligus kekuatan....

{ Aaaaaaaarrrgggghhhh!!! Aku ingin berlibur! Aku ingin menatap pantai dengan deburan ombak yang giat menengadah pada langit. Aku ingin menyapa pucuk-pucuk daun yang senantiasa melambaikan tangan pada bumi. Aku ingin berhenti sejenak. Bukan untuk terhenti...melainkan untuk menatap kembali jarak yang terus berlari. Kuhempaskan tubuhku pada kursi di tepi jendela. Kubuka si merah, dan kulayarkan perahuku untuk mengarungi dunia maya. Libur bersama. Ahh..kembali dua kata itu menghiasi layarku. Segera kudaratkan kapalku di pelabuhan yang nyata, agar aku kembali tersadar...bahwa begitu banyak tugas yang belum kurapihkan, dan begitu banyak nyawa malaikat kecil yang masih ingin kuperjuangkan. Tapi aku merasa hampa. Seperti ada yang tertinggal di sini, di sudut nurani. Kuedarkan pandanganku ke seluruh ruangan. Aku butuh penawar untuk kelelahan ini. Menulis menjadi tak menarik untuk tangan yang lelah, membaca menjadi hambar untuk otak yang berdebu, bahkan menikmati kelezatan coklat dan es krim pun tampak sangat membosankan. Sepertinya aku tengah terlupa pada sesuatu.... }

Dandelion pada fajar yang merekah...
Gadis pujaanku masih di sana. Di tangannya tergenggap sebuah map merah dengan kertas-kertas putih dan padat menyembul di tiap sudutnya. Sementara di sampingnya tergeletak pasrah sebuah tas ransel hitam yang tampak sarat oleh beban. Ahh..gadisku itu pasti akan pergi menjemput mimpi-mimpinya lagi hari ini. Kuberikan senyum terindah untuknya, meski aku tahu...bahwa hari ini ia akan kembali mengacuhkan kehadiranku di antara ilalang dan semak perdu. 
Srek..srek... Sebuah langkah kaki terdengar mendekatiku perlahan. Hmm, aroma  tubuh ini.... Aroma khas seorang gadis kecil yang dulu kerap menyapaku dan meniupkan harapan-harapan pada tubuhku. Aku tersentak dan menatap tak percaya pada sosok yang menghampiriku. Andai mampu...aku justru ingin lebih dulu menyongsong kehadirannya dan mendekap hangat tubuhnya. Namun aku hanya diam terpaku. Dengan penuh kelembutan..ia meraihku. Menarikku dari kesepian yang terus menghujam. Ia meniup tubuhku, hingga terhempaslah semua benih-benih yang melekat. Aku melayang di antara  angin yang bertiup perlahan. Masih kurasakan hangat desiran udara yang menerbangkanku, masih kuingat tatapan bening mata mungil gadis pujaanku itu belasan tahun yang lalu...saat ia begitu menyukaiku. Gadis pujaanku di masa kanak-kanak begitu mengidolakanku dan memuja keindahanku. Ia begitu rajin meniupku dan menceritakan mimpi-mimpinya padaku agar semua ikut terbang bersama angin. Dan setelah belasan tahun berlalu, hari ini ia melakukannya lagi. Masih dengan tatapan yang sama...penuh cinta, kerinduan, dan harapan untukku. Ahh..akulah dandelion yang paling bahagia hari ini!!


Catatan harian Nick...
“Hari ini...aku bahagia. Meski aku tak memiliki libur panjang seperti yang kuimpikan, meski begitu banyak tugas yang belum kuselesaikan, meski tubuhku terasa lelah dan kurang tidur...namun aku tetap bahagia. Karena hari ini aku kembali belajar tentang mimpi dan kebahagiaan pada sekuntum dandelion mungil di sudut pekarangan. Bahwa kita tak akan selalu mendapatkan apa-apa yang kita sukai...maka belajarlah menyukai apa-apa yang telah kita dapatkan. Dan aku belajar satu hal dari sang dandelion selama bertahun-tahun lalu setiap kali aku meniupnya...bahwa setiap harapan...terkadang akan terhempas dan terlupakan. Namun seorang gadis yang kuat...akan kembali berjalan tegak di muka bumi...dan terus tumbuh dalam banyak mimpi. Terimakasih dandelion... “
Untuk seorang malaikat di sudut kota Surabaya...
I love u brother..happy birthday..on 6th June..^^
      [masih dan akan selalu kuingat tawa kita di bawah percikan hujan yang mengkristal..karena terkadang..kita telah melupakan banyak hal yang sederhana,,namun begitu indah untuk dikenang...]
Read More - Long Vacation with Dandelion