Long Vacation with Dandelion

Jumat, 03 Juni 2011
*Langkah-langkah kaki kecil di bulan Juni,
menarilah untuk hujan yang kucintai...
Tapak-tapak kaki mungil di bulan Juni,
menandak-nandak ceria tiada peduli...
Sedikit waktu membiarkanmu terseok seorang diri,
sedikit waktu mengenalimu dalam tawa renyah...
Namun di bawah rinai hujan itu,,,aku makin mendekap hangat tubuhmu..
[dan] lagi-lagi..pada hujan di bulan juni....*

Coba kenali aku! Lekuk tubuhku mungil, tiada seorang pun peduli. Coba dekati aku! Suaraku lirih, tiada kau dengar dan pahami. Coba cintai aku! Jiwaku samar, tiada kau mampu raba rapuhku. Tersudut, di antara ilalang dan semak perdu. Terabai, di pucuk-pucuk alam nan permai. Namun aku ada...untuk terus menatapmu, menyayangimu, dan memberi bias tawa untukmu.
--Dandelion--
Sebut namaku dan kau akan mengerti. Aku masih sendiri di sini dengan hati sepi. Menatap pekat pada percumbuan ufuk dan senja. Namun aku adalah si mungil pemimpi. Terkadang aku terinjak, terserabut, dan juga mengering. Dandelion di sudut pekarangan, itulah aku. Kutahu namaku, karena gadis itu memanggilku begitu. Dandelion mungil..aku menyayangi ketegaranmu, seperti aku menyayangi harapan-harapanku. Begitu gadis itu selalu berucap tatkala menyentuh rapuhku. [Catatan sang dandelion...]

Diary dandelion...
Masih kutatap wajah kusutnya yang tampak lelah. Membuka pintu perlahan, dan membiarkannya tetap seperti itu hingga beberapa waktu berlalu. Kembali ia terduduk di depan jendela seperti kebiasaanya. Kali  ini tangannya bertumpu pada buku-buku tebal yang tak pernah kukenali sebagai koleksi kesayangannya. Mulai ia sandarkan kepala pening dan lelahnya pada tangan yang lunglai di antara tumpukan buku yang tampak angkuh. Perlahan ia hembuskan nafasnya satu persatu, hingga ia pulas dalam mimpi lelah pada siang terik di bulan Juni. Untuk kesekian kalinya, aku mengenalinya sebagai sosok yang menyukai meja mungil di tepi jendela itu sebagai tempat rehat yang nyaman.

{ Ufftt...kebiasaan deh! Aku ketiduran lagi di sini. Tak bisa kumengerti, bagaimana mungkin meja ini terasa begitu nyaman tadi. Sekarang kurasakan pegal di sana sini. Tentu saja, lihatlah gadis...kau telah tertidur bertumpu lengan dan beralas kayu. Haha..kembali kutertawakan kebodohanku. Dan... Ya Tuhan...aku kembali lupa mengunci pintu. Untung saja siang ini begitu sepi tanpa kehadiran siapapun di sekitarku. Segera kukemas berkas-berkas penting dan literatur tebal yang harus kubawa menginap di kampus malam ini. Tak lupa kudandani si merah untuk menemaniku mengetik di sana. Krucuuukkk...uhh..perutku serasa diremas. Owh, rupanya aku lupa untuk mengajaknya bersantap semenjak pagi. Ahh, andai minggu ini bunda di rumah...tentu aku sudah habis diomelinya karena kebiasaan buruk ini. Tergesa kutinggalakan rumah dengan sebuah ransel berat di pundakku dan sejumput permen kristal [red. foxs] kesukaanku. }

Dandelion petang....
Hari ini ia kembali tak menyapaku! Bahkan sekedar memberiku senyuman pun tidak. Ia hanya datang sekejap, untuk kemudian pergi lagi, datang lagi, dan pergi lagi. Hey dandelion...!! Sudahlah..mungkin kau memang tak begitu berarti di hatinya! Aku tersentak oleh lamunanku sendiri. Tapi gadisku itu benar-benar mengacuhkanku lagi hari ini. Tak dipedulikannya tubuh mungilku yang meliuk indah di antara ilalang. Tak dihiraukannya pula serabut harapan dari tubuhku yang terbang ditiup angin. Perih memang, namun kau tahu kawan...disitulah kekuatanku. Meski terkadang aku harus menangis karena dilupakan, aku tetap akan tumbuh..dan terus bertumbuh di berbagai keadaan. Pada tanah gersang aku tebarkan benih harapan, pada tanah basah aku sampaikan salam persahabatan, pun begitu pada semak berduri...aku kisahkan tarian perdamaian. Akulah sang dandelion! Akulah kerapuhan sekaligus kekuatan....

{ Aaaaaaaarrrgggghhhh!!! Aku ingin berlibur! Aku ingin menatap pantai dengan deburan ombak yang giat menengadah pada langit. Aku ingin menyapa pucuk-pucuk daun yang senantiasa melambaikan tangan pada bumi. Aku ingin berhenti sejenak. Bukan untuk terhenti...melainkan untuk menatap kembali jarak yang terus berlari. Kuhempaskan tubuhku pada kursi di tepi jendela. Kubuka si merah, dan kulayarkan perahuku untuk mengarungi dunia maya. Libur bersama. Ahh..kembali dua kata itu menghiasi layarku. Segera kudaratkan kapalku di pelabuhan yang nyata, agar aku kembali tersadar...bahwa begitu banyak tugas yang belum kurapihkan, dan begitu banyak nyawa malaikat kecil yang masih ingin kuperjuangkan. Tapi aku merasa hampa. Seperti ada yang tertinggal di sini, di sudut nurani. Kuedarkan pandanganku ke seluruh ruangan. Aku butuh penawar untuk kelelahan ini. Menulis menjadi tak menarik untuk tangan yang lelah, membaca menjadi hambar untuk otak yang berdebu, bahkan menikmati kelezatan coklat dan es krim pun tampak sangat membosankan. Sepertinya aku tengah terlupa pada sesuatu.... }

Dandelion pada fajar yang merekah...
Gadis pujaanku masih di sana. Di tangannya tergenggap sebuah map merah dengan kertas-kertas putih dan padat menyembul di tiap sudutnya. Sementara di sampingnya tergeletak pasrah sebuah tas ransel hitam yang tampak sarat oleh beban. Ahh..gadisku itu pasti akan pergi menjemput mimpi-mimpinya lagi hari ini. Kuberikan senyum terindah untuknya, meski aku tahu...bahwa hari ini ia akan kembali mengacuhkan kehadiranku di antara ilalang dan semak perdu. 
Srek..srek... Sebuah langkah kaki terdengar mendekatiku perlahan. Hmm, aroma  tubuh ini.... Aroma khas seorang gadis kecil yang dulu kerap menyapaku dan meniupkan harapan-harapan pada tubuhku. Aku tersentak dan menatap tak percaya pada sosok yang menghampiriku. Andai mampu...aku justru ingin lebih dulu menyongsong kehadirannya dan mendekap hangat tubuhnya. Namun aku hanya diam terpaku. Dengan penuh kelembutan..ia meraihku. Menarikku dari kesepian yang terus menghujam. Ia meniup tubuhku, hingga terhempaslah semua benih-benih yang melekat. Aku melayang di antara  angin yang bertiup perlahan. Masih kurasakan hangat desiran udara yang menerbangkanku, masih kuingat tatapan bening mata mungil gadis pujaanku itu belasan tahun yang lalu...saat ia begitu menyukaiku. Gadis pujaanku di masa kanak-kanak begitu mengidolakanku dan memuja keindahanku. Ia begitu rajin meniupku dan menceritakan mimpi-mimpinya padaku agar semua ikut terbang bersama angin. Dan setelah belasan tahun berlalu, hari ini ia melakukannya lagi. Masih dengan tatapan yang sama...penuh cinta, kerinduan, dan harapan untukku. Ahh..akulah dandelion yang paling bahagia hari ini!!


Catatan harian Nick...
“Hari ini...aku bahagia. Meski aku tak memiliki libur panjang seperti yang kuimpikan, meski begitu banyak tugas yang belum kuselesaikan, meski tubuhku terasa lelah dan kurang tidur...namun aku tetap bahagia. Karena hari ini aku kembali belajar tentang mimpi dan kebahagiaan pada sekuntum dandelion mungil di sudut pekarangan. Bahwa kita tak akan selalu mendapatkan apa-apa yang kita sukai...maka belajarlah menyukai apa-apa yang telah kita dapatkan. Dan aku belajar satu hal dari sang dandelion selama bertahun-tahun lalu setiap kali aku meniupnya...bahwa setiap harapan...terkadang akan terhempas dan terlupakan. Namun seorang gadis yang kuat...akan kembali berjalan tegak di muka bumi...dan terus tumbuh dalam banyak mimpi. Terimakasih dandelion... “
Untuk seorang malaikat di sudut kota Surabaya...
I love u brother..happy birthday..on 6th June..^^
      [masih dan akan selalu kuingat tawa kita di bawah percikan hujan yang mengkristal..karena terkadang..kita telah melupakan banyak hal yang sederhana,,namun begitu indah untuk dikenang...]

56 komentar :

  1. membacanya bikin ga nyadar kalo ceritanya sudah berakhir... mantapppp....

    BalasHapus
  2. @Sam..ahh mas Sam..ini dia yg mmbuatku pnya waktu utk btanya2..bagaimana kau selalu mampu mngetahui setiap ukiran baruku,,disaat semua mata masi terlelap...dan kisahku blum mnjadi pbncangan...
    ahh..salut saia..dan tersanjung tentunya..terimakasih mas..^^

    BalasHapus
  3. ah kak nick mah bikin ngiri.. disaat aku bersusah payah membuat sastra murni, kak nick malah udah kbanjiran TT

    BalasHapus
  4. Menakjubkan!
    Mataku benar-benar tajaaam, mengikuti alir kata demi kata. Begitu tersembunyi, apik dan membuat saya penasaran. Salam kenal untuk dandelionmu, sampaikan bahwa aku benar2 ingin menculik gambarnya. Memotretnya kembali dengan gaya tulip belanda. O, benar-benar ingin meniupnya kembali. Juga sampaikan salam untuk si merah semoga menjadi teman setia dalam meraih cita. Oia memang kemana mama sigadis itu?

    BalasHapus
  5. @Syifa...sastra murni?? hehee..justru aku malah ga paham itu dek..seperti apa kategorinya...yg penting..tetaplah menulis kawan..apapun karyamu..maka itulah jalan sastramu...^^

    BalasHapus
  6. Walau sambil mengernyitkan dahi untuk mencerna tulisanmu jeng.. tapi saya suka. :)

    .. >>

    BalasHapus
  7. Seperti biasa Salsa..kamu selalu membuatku terdiam!!!
    I do love u..kakakakaa....

    BalasHapus
  8. tulisanmu tak seumuranmu nick ^_^, maaf ya belum bisa komen panjang, karena waktu yang saya punya memang sangat sempit sehingga tidak ada waktu untuk melakukan seluncuran di dunia maya seperti biasanya, biasa komen panjang tapi kali ini hanya komen singkat yang memberikan kesan takjub dan menyatakan TULISANMU TAK SEUMURANMU.. haduh maaf ya kok jadi panjang ya komennya hahaha
    salam persohiblogan ^_^

    BalasHapus
  9. Uniiiiiiiiiiikkkkk....gemes ih..kamu belum berubah...masih sahabat dalam menghirup kopi buatku,,kamu tahu?? aku sangat mencuntaimu!

    BalasHapus
  10. catatan yang bagus mbak nick.. ^_^

    BalasHapus
  11. @mas Qefy...
    Menakjubkan jugaa...
    saya paling suka menghadapi pembaca yg belum mendengar iklan saia...hahaa
    #aku belajar mencerna sisi lain kehidupan darimu mas..salamnya akan kusampaikan..bahkan putik2 harapanya akan kukirimkan ke pondok pena untuk menutupi si aku dalam kisahmu,,,hahaa..
    aku dahliat tiupan romantis dandelionnya mas...hahaha
    keep writing...*sang bunda tengah menjenguk cintanya di kota lain...^^

    BalasHapus
  12. @mas aan...wakaka...kenapa harus mengernyit mas?? saya kan jd ngebayangin kernyitan mas aan....hahaha

    BalasHapus
  13. @Farid...ihh...apaan sih mas?? ga nyambung...
    *memerah...hhhaaahaa

    BalasHapus
  14. @mas aul.....hyaahhh..aku dikata tuaa....
    mana katanya komen pendek tapi berderet gtu pulakk,,hahaa
    tulisanku memang tak seumuranku mas..tapi jiwaku tentu lebih muda darimu...wakakakaaa...

    BalasHapus
  15. @Fitri..wuiihh..sejak kapan kau makin mencintaiku seperti itu sayang??hahaha
    ayooo..kutunggu selalu postinganmu..jangan biarkan blogmu menjadi semak perdu tanpa dandelion kawan..^^

    BalasHapus
  16. @mas edi..hahaa..jazakallah mas..komentarnya sungguh berarti...[eh..benarkah saya lebih tua dr mas edi..?kok dipanggil mbak saianya..hehehe]

    BalasHapus
  17. walaupun jarang posting..seklai kluar posting membuat saya harus dengan teliti emaknai setiap rangkaian kata..karna makna yg tersirat sangat dalam...salam buat dandelion disudut pekarangan rumah mu ^_^

    BalasHapus
  18. pagi ini sya terbangun dgn pesan di blog sya, katanya, "..heeyyy..pemangsaaa!! Kutunggu jejakmu di blog saia...lekaaasss!!!!!"

    hieekksss.. merasa terjajah.
    nick, tak bolehkah sya jdi silent reader di blogmu. dandelion telah menmbuat sya gugu.. kelu..
    sya mencintai dandelionku, tanpa tau apa sebanding dgn cintamu pda dandelionmu...

    *heh, kau dipecat jdi tkw, skg sya pindahkan jawatanmu ke tukang kebun, bersama dorang mbak mutie dan pipi, plus gda gaji bulan ini. hihihi

    BalasHapus
  19. @mb tia...hahahaa..aku aja sedikit pusing bacanya mb...hahahaa....terima kasih karena udah mau mncoba memahami ya mbakku...^^

    BalasHapus
  20. @pemangsa...hahhahaaa
    aku sangat-sangat mencintai silent reader..
    tapi tidak untukmu,....hahahaha...
    akibat kejahatanmu di muka bumi...maka kau harus menanggalkan jejak dan hartamu disini... :P
    aku mnyukai dandelionmu..akan kukoyak dia bersama pakaian2ku..wakaka
    *aku dapet boz baru yg lebih cantik, baik hati, dan tdak sombong... :P
    tunggu surat pengunduranku...hahahaha

    BalasHapus
  21. Ga tahu mengapa, terasa damai kalau sudah di blog ini. Selain cerita yang luar biasa, selalu ada dendangan musik yang damai.

    Always nice to have a friend like you !!!

    BalasHapus
  22. @mas Iqbal...hiks,,terharu sangat saia,,,,terimakasih mas..seringlah kemari..
    always great to have a friend like u...^^

    BalasHapus
  23. hhmmb..
    lagi..sy membaca tentang hujan bulan juni selain hujan bulan juninya supardi djoko darmono..
    penyajian yg berbeda.. :)

    keren nick..

    Dandelion, bunga sederhana, mmg trlihat rapuh, mudah trbawa angin, tampak kepasrahan pd dirinya.meski bgitu dia tak patah smangat, tetap mengikuti angin, menjelajah di udara, nmun ktika dia mngering dan jatuh di tempat yg baru, dia mampu hidup dgn jiwa yg baru pula..
    :)

    BalasHapus
  24. @mb pipi....hahaa...iya..beliau adalah salah satu inspirasiku selain sang "guru",,hahaha,,

    semoga kita mampu menjadi gadis dandelion itu ya mb...^^

    BalasHapus
  25. saya dari keluarga besar prsatuan orang ganteng seIndonesia ikut berbahagia sob :)

    BalasHapus
  26. wah.. baru berkunjung lagi.
    pas berkunjung disodori dengan tulisan yang begitu asyik.

    aliran kata katanya membuatku tak berhenti untuk terus mengikuti alurnya.

    dari dulu ingin membuat tulisan seperti ini tapi tak bisa bisa.

    wah salut sama nick...
    tips nya apa nih.. ?
    salam

    BalasHapus
  27. @sichandra...terimakasih atas kunjungannya mas..^_^

    BalasHapus
  28. @arman....hahaa..makasih atas kunjungannya mas..terharu saia..^^
    tips apa mas?? menulis seperti ini...?? ahh,,saia juga merasa masi tak sempurna...
    tipsnya satu mas..teruslah menulis...meski ada sseorng yg mmnadang tulisanmu atau pun tdk,,,maka tetaplah menulis...^^
    Semangat,,,

    BalasHapus
  29. tolong lemparkan saya pelampung..karena saya selalu terhanyut kalo baca postingan mbak nick :)

    BalasHapus
  30. @mas todi...wakakaaaa..ada yg lebai sangatt...hahahaha

    BalasHapus
  31. Semangat ya Nick, aku dukung!

    BalasHapus
  32. ka baguuus :3 aku suka ceritanya ga kerasa kalo udah beres cepat sekaliii tapi seruu >u<

    BalasHapus
  33. @mas Qefy..hiks,,jazakallah mas..ur supports so greats for me...^_^

    BalasHapus
  34. @L-chan...waaa..tersanjung saia..makasih ya....^^

    BalasHapus
  35. hahaha.... kagak apa2. sebagai penghormatan mbak.

    BalasHapus
  36. @mas edi,,hahaaa,,ya deh..tapi ga usahlah mas...panggil aja nick..nyaman aku begitu...hehehe...oke??oke?? harus oke...hahaa

    BalasHapus
  37. aku baca satu persatu...dan akhirnya setelah di akhir cerita baru kutemukan...kata hujan bersama gadis kecil itu...wkakakk....bagus nick...sudah memenuhi syarat untuk ikut kontes para penulis profesional...ayo teruskan ...ntar kalo menang aku kan datang bersama etawah...wkwkkk...

    BalasHapus
  38. @mas nitnot...hahahaa..nyari2 aku nyebutin kata hujan ya??hahahaha...ada2 aja mas ini.. :P
    wakakaka,,kontes..ayooo..kita bertiga kolaborasi aja..nulis ttg kangkung dan etawah...hahaha..jd kalo menang..makan kambing guling bersama mas...hahaha..^_^

    BalasHapus
  39. susah banget nyebut Dandelion,,, ondel-ondel aja yah... :D

    BalasHapus
  40. @mas zulham...ahahaaa..teganyaaaa... :P
    delondelon..ondelondel..ayoo apa lagii??

    BalasHapus
  41. sepertinya ukhtina yang satu ini lebih jago "mengeluarkan jurus-jurus kata dalam sastra" bangga punya sahabat begini neh. Ajarin dunk. . . hehehe. . .

    BalasHapus
  42. @nihayatuzzin..hehee..tengkyuu..^^

    BalasHapus
  43. Mba nik ternyata selain jago bawel juga jago banget bikin kata2 puitis. Te O Pe! :D

    BalasHapus
  44. @sefty,,,ckckckk,,,aku dipuji sama si anak bawel..hahahaa

    BalasHapus
  45. Nice sis, saya sepertinya kehabisan kata2 untuk mengagumi karya anda, dan sepertinya saya harus banyak belajar dari tulisan2 anda, karena jujur saya memang masih cetek dalam hal menulis, selama ini saya hanya memanjakan kepuasan ego diri dalam tulisan saya, tanpa peduli teriakan hati yang tidak jarang mencaci apa yang saya tulis, karena lebih mementingkan ego daripada keindahan dari tulisan itu sendiri. Saya berharap bisa menulis seperti anda dan menciptakan keindahan2 dalam bentuk tulisan seperti ini. Salam persahabatan sis. By. Sakti d'blues Zambava

    BalasHapus
  46. @sucktea89...ckckck..kau tau...bahkan ketika kau menulis komentar ini untukku pun aku telah merasakan keindahan dr tulisan yg kau inginkan...kau tau kawan?? keindahan yg kau mau...akan hadir tanpa kau sadari...saat kau tarikan pena di atas sebuah ketulusan..dalam bentuk coretan apa pun itu...^^
    senang mengenalmu....

    BalasHapus
  47. @nur..."Love u too.." kata dandelion...hahaa

    BalasHapus
  48. Great!! baru baca sekarang. dari dulu suka filosofi dandelion. posting ini bikin makin cinta dandelion.. keep writing dear!! :))

    BalasHapus
  49. @unknown...thanks a lot mbak cantiikk..^__^

    BalasHapus
  50. ternyata namamu Dandelion (bunga putih, lembut nan tangguh),..^_^

    BalasHapus
  51. Nia
    Yupe mbak...namanya dandelion..^_^

    BalasHapus
  52. wah..saya selalu suka semua hal tentang dandelion,
    salam kenal mbak :)

    BalasHapus
  53. Bintang Dandelion - Widie
    hai..haii...salam kenal jugaaa....
    dandelion memang cantik yah mbak...^__^

    BalasHapus
  54. MasyaAllah deh. . .its awesome. . .no more word can say
    dandelion, ternyata memang dandelion ^_____^

    BalasHapus
  55. Kaito Kidd
    thanks a lot my friend...^_=

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan sebuah jejak persahabatan di sini :)