• Kisah Hujan

    Hati, tubuh, jiwa, bisa terganti. Namun tulisan-tulisan kita (kemarin) akan selalu abadi. Entah dimana, di negerinya sendiri.

  • Menerka Hujan

    Percayakah kamu kalau saat hujan turun doa kita lebih bisa terkabul? Jadi kenapa tidak mengubah rindu menjadi doa, lalu semoga semuanya baik saja :)

  • Firasat Hujan

    Di Kota Hujan, kadang karena terlalu dingin, jadi terasa perih.

  • Sajak Hujan

    Puisi-puisiku berlari dalam hujan menuju rindu paling deras; kamu.

  • Senandung Hujan

    Ada senandung Tuhan, dalam tiap tetes hujan. Hujan akan tetap menjadi hujan, nikmat Nya yang tak bisa di dustakan.

  • Kota Hujan

    Hujan tahu kapan harus membasahi kota ini. Hujan juga tahu kapan harus berhenti.

  • Hujan dan Kopi

    Karena aroma secangkir kopi juga sebuah cinta.

  • Dongeng Hujan

    Ada yang percaya bahwa di dalam hujan terdapat lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang rindu. Senandung rindu yang bisa meresonansi ingatan masa lalu.

Solitude Hujan dan Bintang

Senin, 12 September 2011


Aku sedang ingin menulis. Aku ingin menulis tentang kehidupan pribadiku. Entah apa yang akan kalian rasakan setelah membaca kisahku ini. Tapi aku berharap...kalian iri padaku ya...hahahaha...#stres
“Tahun pun turun membuka sayapnya,
ke luas jauh benua-benua
Laut membias : warna biru langit tua
Zaman menderas : manusia tetap setia.”
Pernahkah kau lihat bagaimana mentari berbicara tentang lelah pada sinarnya? Pernahkah kau lihat, bagaimana deburan ombak meneriakkan keluh..menghembuskan kesah pada tiap-tiap tepian pantai yang pernah ia jumpa? Atau,,,pernahkah kau dengar bisikan perlahan dari gumpalan awan hitam, untuk rinai hujan yang selalu membuatnya tertahan? Aku tersentak dalam diam...bergeming..dan mengaitkan jemari pada kekalutan panjang.
Mars  :  Kenapa kau meminangku, mau menikahiku, dan menjadikanku sebagai bagian dari hidupmu?? 
Venus : Sebab tanpamu, takkan pernah ada pernikahan bagiku...
                                            .......(hening)........
Bangku panjang yang kududuki terasa begitu dingin. Desiran angin membuatku mengatupkan rahang lebih erat. Kucoba memberikan aliran hangat pada ujung jemari yang terasa membeku, juga sebuah energi baru pada dinding-dinding syal yang mulai rapuh dan mengembun demi menahan serpihan gunung es yang berdiri tegak tak jauh dari tempatku termangu. Perlu sejuta ketegaran untuk membuatku tetap bertahan dan berpijak pada ruang yang tak terhempas.

Mataku beralih pada sebuah sudut temaram, di mana siluet dua sosok usia senja tampak berpadu pada waktu yang telah berpaling dan membiarkan mereka kusam dalam putaran zaman. Seolah tak peduli pada gilasan masa, mereka saling melindungi dari dingin dan berbagi kehangatan. Entah sudah berapa generasi telah mereka lewati dengan mengabaikan kesedihan dan menyuarakan tawa berdua saja. Aku beringsut dari tempatku beradu dengan nurani. Menjauh perlahan. Namun aku tahu pasti, bahwa harapanku masih tergantung di sana.

Seperti seseorang di titian masa yang tengah kehilangan arah, aku kembali menelusuri jalan itu dengan perasaan tak menentu. Jalan ‘mengejar matahari’, begitu katamu dulu. Dengan sebuah kertas yang kau lambaikan perlahan di hadapanku, kau mencoba menguraikan tentang arti kesetiaan dengan senyum yang tak kunjung hilang dari wajahmu. Katamu, persahabatan adalah sebuah ikatan untuk kesetiaan cinta yang tak mungkin usai. Benarkah? Ahh...aku sampai lelah berpikir...mengapa dulu aku begitu mempercaimu, bahkan hingga sekarang...aku tak berhenti untuk terus mengagumimu.

Masih kuingat bagaimana senja itu kau berlari menghampiriku di bawah sengatan mentari yang mulai redup menyilaukan. Hanya demi sebuah pena dan sebuah kertas lusuh yang ingin kau tunjukkan, peluh harus membanjiri kemeja kebanggaanmu dan nafas tersengal kepayahan akibat berlari membuatku tertegun dalam diam.
“Untuk apa?” Kataku acuh meski mataku hampir meloncat ingin tahu. 
“Untuk menuliskan semua mimpi-mimpimu.” Katamu dengan mata berbinar-binar (satu hal yang selalu aku suka darimu sejak dulu).
“Hanya itu?” Ucapku tak percaya.
 “Aku bahkan mempunyai puluhan buku berisi cita dan mimpiku.” Sahutku enggan.
“Ayolah...tuliskan saja 5 mimpimu tentangku, tentangmu, dan tentang kita.” Enggan...kuayunkan penaku di atas kertas lusuh menyebalkan senja itu.
“Sudah?”
“Ya...”
“Sekarang lihat aku.”Perlahan tapi pasti...ia menghapus seluruh tulisanku senja itu. Menjadikan kertas lusuh itu makin lusuh, dengan bekas goretan pena di sana-sini. Aku kesal. Tapi kau bilang,
“Begitulah kehidupan, Tuhan telah memberikanmu pena untuk menulis semua kisah, cita, juga kesetiaan yang kita inginkan. Tapi kau tau...Tuhan juga telah menyimpan penghapus untuk setiap goresan penamu.”
Huufftt...percakapan itu sudah lama sekali ya, kawan. Aku bahkan mulai lupa bagaimana binar-binar itu kemudian menjadi sebuah kejora yang membuatku makin mengagumimu. Tanpa kusadari, perlahan senyumku mengembang pada tiap kenangan dan jejak yang pernah menjadi hari tak terlupakan bagi seorang gadis sepertiku.

Pluk! Sebuah jaket hangat berwarna violet tiba-tiba menghampiri tubuhku yang mulai gemetar kedinginan oleh fajar yang menggigit.
“Masuklah sayang..sepertinya salju akan segera turun di kota ini.” Ucapmu sambil tersenyum hangat. Ahh..sebuah senyuman yang pernah kutunggu selama hampir 3 tahun itu kini menjelma nyata di hadapanku.
“Apakah kau tengah menyesali karena telah menjaga kesetiaan sebuah bintang untuk turunnya hujan?” 
Aku hanya terdiam dan berkata dalam hati, “Kau tau...semenjak mengenalmu..aku bahkan mulai lupa, bahwa pada hakikatnya hujan dan bintang saling meniadai.”
Lalu kami pun beranjak perlahan meninggalkan jejak-jejak yang tak terkikis pada sebuah fajar yang masih temaram.


Sebuah apartemen, dengan hamparan tulip dan salju...

Amsterdam, 14 September 2012

Bagaimana? Kalian sudah iri belum...dengan keromantisan saya dan belahan jiwa saya di ujung sana? #siapa coba?? Halah...hahahaha...mengkhayal banget deehh...


Hohohooo....maaf...cerita yang baru saja anda baca ini hanyalah fiktif belaka. Apabila ada kesalahan dalam penulisan, mohon dimaafkan...karena penulis belum pernah menginjakkan kakinya di kota bersalju, namun berharap akan mampu mewujudkannya. Amin.. Oiya, kisah ini saya persembahkan spesial untuk sahabat-sahabat saya di dunia maya ; Phipi, Putri, dan Zii...semoga penantian kalian segera berakhir ya....hahahaha.... Karena akan selalu ada simpul yang indah untuk setiap kesabaran dalam sebuah keimanan.... Juga untuk mimpi-mimpi saya yang tak lagi sabar menyentuh butiran salju dan menyimpan keceriaan warna tulip dalam kornea mata saya...(˘ʃƪ˘) 
Read More - Solitude Hujan dan Bintang