• Kisah Hujan

    Hati, tubuh, jiwa, bisa terganti. Namun tulisan-tulisan kita (kemarin) akan selalu abadi. Entah dimana, di negerinya sendiri.

  • Menerka Hujan

    Percayakah kamu kalau saat hujan turun doa kita lebih bisa terkabul? Jadi kenapa tidak mengubah rindu menjadi doa, lalu semoga semuanya baik saja :)

  • Firasat Hujan

    Di Kota Hujan, kadang karena terlalu dingin, jadi terasa perih.

  • Sajak Hujan

    Puisi-puisiku berlari dalam hujan menuju rindu paling deras; kamu.

  • Senandung Hujan

    Ada senandung Tuhan, dalam tiap tetes hujan. Hujan akan tetap menjadi hujan, nikmat Nya yang tak bisa di dustakan.

  • Kota Hujan

    Hujan tahu kapan harus membasahi kota ini. Hujan juga tahu kapan harus berhenti.

  • Hujan dan Kopi

    Karena aroma secangkir kopi juga sebuah cinta.

  • Dongeng Hujan

    Ada yang percaya bahwa di dalam hujan terdapat lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang rindu. Senandung rindu yang bisa meresonansi ingatan masa lalu.

All We Need is L O V E

Kamis, 13 Oktober 2011
"Pernah kah  kau berpikir, bahwa dunia tempatmu berpijak teramat luas...
hingga sejenak kau terlupa, bahwa ada begitu banyak sudut di sekelilingmu....
....................................mengitari tiap langkahmu.......................................
dan setelah begitu jauh kau melangkah dan berlari, kau tersadar...
tentang bisikan sudut yang terus memperhatikanmu, menyayangimu dalam tiap desahan, dan menantikan tawamu meski perlahan....
Lihatlah...!! Dia masih di sana, hingga kau tak mampu lagi percaya..."

Yogyakarta, 18 Juni 2011
Assalamu'alaikum, Kakak...
Selamat pagi....semoga harimu indah, Kakakku. Kuatkan langkahmu ya, usap air matamu, dan berlarilah ke arah yang jauh untuk tiap tawamu. 
Kak...bolehkah aku sedikit bercerita tentangmu pagi ini? Sedikit kisah tentangmu, dan tentang kita. Sejenak terdiam...untuk mengingat arti kehadiran pada tiap-tiap partikel yang berputar dalam imagi kita. Boleh ya?

Ada jarak belasan tahun terbentang antara kita. Ada rentang masa begitu jauh antara dunia kita. Ada perbedaan yang tak mampu kita tutupi dalam kebersamaan ini. Namun tentu saja, tak pernah ada protes yang cukup berarti tentang semua itu. Karena aku dan kamu sama-sama tahu dan mengerti, bahwa itu lah takdir kita.

Di saat kau mulai sibuk berlari dengan seragam putih abu-abu kebangganmu dan meneriakkan kedewasaanmu, aku masih di sini, Kak....menatapmu dalam diam dan kekagumanku, seraya menggumam dalam hati, bahwa suatu saat aku pun ingin sepertimu.

Di saat ayah dan bunda menciummu penuh haru ketika kau kembali mendapat peringkat pertama di bangku SMU tingkat akhir, aku pun masih di sini menatapmu malu-malu...dan terus berharap, bahwa kelak peluk dan cium itu juga menjadi milikku...

Lalu kau pun menginjak masa-masa kuliah. Siapa yang tak mengenalmu di kampus itu? Seorang gadis belia dengan segudang prestasi dan keceriaan yang seolah tanpa terbatas. Sementara kau di sana mencoba berjuang untuk gelar sarjanamu, aku masih di sini dan tertatih memasuki bangku SD kelas satu.

Seperti yang kukatakan sebelumnya, jarak kita begitu jauh Kak....hingga kadang, kita terlalu letih untuk meraba dan menyulam tiap jeda yang tercipta.
Pagi itu kau begitu cantik di mataku, Kak. Seraut wajah mentari berbalut kerudung jingga, dengan sebuah terusan senada. Kau tautkan wajahmu di depan kaca kamar kita. Kau coba serasikan warna, rapikan ransel, juga poleskan sedikit warna di wajah ceriamu. Kau tau...aku begitu menyayangi dan mengagumimu...pagi ini...pagi yang lalu...juga pagi-pagi berikutnya. 

Sementara kau bersenandung riang di sana, aku pun tengah bersiap untuk memasuki hari pertamaku di bangku SD kelas dua. Bunda masih membantuku berkemas, sementara kau terlihat begitu mandiri dan membuatku sedikit iri. Ini hari pertamamu masuk kerja, Kak.... Dan di saat yang sama, ada begitu banyak sarjana yang lelah berputar-putar ke sana kemari dengan secarik kertas ijazah yang tak jua dilirik oleh lembaga bergengsi di negri kita Tapi kau justru mendapat panggilan kerja dengan begitu mudahnya hingga kau harus memilih yang terbaik di antara mereka. Padahal, kau masih harus menyelesaikan semester 8mu dan juga skripsi yang akan menjadikanmu seorang sarjana. Ahh...sekali lagi..aku sungguh ingin sepertimu, Kak...

Siang ini aku pulang cepat, Kak....karena di sekolahku akan ada ada rapat komite. Kau tau? Betapa senangnya aku ketika  mendapatimu tengah duduk bersantai di ruang tengah. Aku merindukanmu. Begitu sulit kuingat, sejak kapan kita tak lagi tertawa bersama. Kita tak lagi bermain hujan, atau pun saling menebak kata seperti yang dulu sering kita lakukan di waktu senggang.

Beberapa detik dalam keheningan, dan aku hanya mampu mendesah kecewa. Sebuah ketukan halus terdengar di pintu rumah kita. Tak lama berselang, kau kembali tertawa ceria. Ada mereka di sisi kanan dan kirimu. Ada kebahagiaan yang tak pernah mampu kuraba tentangmu. Ada kisah yang tak pernah mampu kuterka tentang hidupmu. Mungkin bagimu, hanya merekalah yang akan mengerti tentang letupanmu di masa dewasa. Mungkin dalam benakmu, hanya merekalah yang mampu memahami luka liku kisah cinta dalam hidupmu. Karena sekali lagi....terlalu jauh jarak rentang terbentang antara kita berdua, Kak. Kau dan kawan-kawan kampusmu, kau dan kawan-kawan kantormu, kau dan sahabat-sahabat mayamu. Ahh...jarak ini terkadang menyisihkanku, Kak....

Kemudian aku kembali ke dalam duniaku. Dunia di mana aku harus mendengar begitu banyak suara tentang kesuksesanmu. Dunia di mana aku tak mampu mengenyahkan jurang menganga antara kita berdua. Aku merindukanmu, Kak....

Maka pagi ini aku ingin menulis sedikit tentangmu. Kak, aku sangat menyayangimu. Ada ribuan mil jarak terbentang dalam rekaman memori kita. Ada ratusan ide berjejalan meletup tak beraturan dalam dimensi ruang kita. Namun kau tau, kak? Aku tak pernah peduli...!! Karena aku hanya membutuhkan sedikit waktumu di antara sekian rutinitas yang ada dalam agendamu. Sedikit saja. Mungkin kita bisa bermain halma bersama, menulis bersama, menyanyi bersama, atau...apa saja yang kau mau, Kak....
Asalkan itu denganmu....maka aku akan bahagia.
Karena terkadang..buka keramaian yang kita inginkan,
melainkan secuil hening, yang hadir bersama sebuah pelukan hangat....
Mungkin kau akan marah ketika membaca tulisanku tentangmu, namun aku hanya ingin kau tau sesuatu. Kelak, saat aku tlah dewasa....aku tentu akan menjadi sepertimu...dan aku takut, jika kita saling melupakan tentang sebuah sudut, di mana kita pernah mampu saling menatap dan sejenak membisu,,,untuk kemudian berbisik perlahan...bahwa aku dan kamu mungkin saja pertautan mentari dan senja. Di mana pada sebuah titik,,,kita lebur dan berjalan searah tanpa menoleh ke belakang untuk menatap bumi yang hampir lumat oleh guratan masa lalu. Maka sekarang aku akan menulis tentangmu, dan berbisik di telingamu dalam tidurmu yang lelap... 
"Kak, aku mencintaimu. Dan tentu saja, merindukan tiap celoteh tentangmu....dan tentang KITA..."

Salam cinta selalu, adikmu...
di antara ribuan jarak yang angkuh membatasi pertautan kita...

"Note ini saya tulis, karena saya terinspirasi oleh adik saya... di mana pada suatu senja, saya pernah mendengar celotehnya samar melalui pintu kamar saya, "Mi, mbak Nick ke mana sih..?? Kok sekarang sering menghilang gitu aja ya...kadang ada, eh..dan tiba-tiba udah pergi lagi...."
Ringan ya....tapi cobalah kau rasakan sebuah hempasan keras...saat ternyata, ada seseorang di sebuah sudut yg terus memperhatikanmu....dan mencoba meraih waktu tentang tawamu meski tanpa kau sadari...(dalam diam)..."     <<Eh, tapi yang ini fiktif lho yaaaaa.... :P>>
Dedicated to : All my friends...in my circle of friendship..Do u know? That u're like a sibling in my life..
"Cobalah sejenak kau pejamkan matamu, rebahlah dari aktivitas lelahmu...dan pandanglah    sekelilingmu. Akan kau temukan berjuta warna menjadi bayangmu, memandangmu dari tiap penjuru,,,dan tentu saja menyayangimu. Maka pastikan, bahwa kau akan membalas C I N T A mereka..!!"  ^_^








                                                                                                                                    








Read More - All We Need is L O V E