• Kisah Hujan

    Hati, tubuh, jiwa, bisa terganti. Namun tulisan-tulisan kita (kemarin) akan selalu abadi. Entah dimana, di negerinya sendiri.

  • Menerka Hujan

    Percayakah kamu kalau saat hujan turun doa kita lebih bisa terkabul? Jadi kenapa tidak mengubah rindu menjadi doa, lalu semoga semuanya baik saja :)

  • Firasat Hujan

    Di Kota Hujan, kadang karena terlalu dingin, jadi terasa perih.

  • Sajak Hujan

    Puisi-puisiku berlari dalam hujan menuju rindu paling deras; kamu.

  • Senandung Hujan

    Ada senandung Tuhan, dalam tiap tetes hujan. Hujan akan tetap menjadi hujan, nikmat Nya yang tak bisa di dustakan.

  • Kota Hujan

    Hujan tahu kapan harus membasahi kota ini. Hujan juga tahu kapan harus berhenti.

  • Hujan dan Kopi

    Karena aroma secangkir kopi juga sebuah cinta.

  • Dongeng Hujan

    Ada yang percaya bahwa di dalam hujan terdapat lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang rindu. Senandung rindu yang bisa meresonansi ingatan masa lalu.

S P E K T R U M (I wanna play with shadows)

Sabtu, 10 Desember 2011
Pada lautan air mata kita belajar,
untuk kepedihan yang mendidik kita agar tak gentar.........
Bertahan menjadi akar, dan bersemi pada keteguhan yang mekar.
Begitulah sejarah menuntut kita untuk melangkah kembali,
meniti tangga hari, berdiri, dan bangkit untuk kemudian berlari...

Kau tahu jiwa tentang yang bernyanyi? Ia selalu bermesraan di sepertiga malam. Ia terkadang berbisik. Terkadang merintih. Terkadang merangkai kata. Hanya untuk memenuhi hasrat cintanya. Pada apa yang digariskan Tuhannya. 
Kau tahu tentang jiwa yang menari? Ia selalu terdiam pada siang yang terik. Mengusap peluh perlahan, dan berjanji untuk mimpi yang terbaik. Hanya untuk menyeka air mata saudaranya yang tercabik, atau sekedar memenuhi hasrat rindunya. Pada apa yang diisyaratkan Tuhannya.

#Menulis tentang Dinda...

          Gadis manis dengan dua lesung pipit bersemi di pipi kanan dan kirinya. Tubuhnya kurus, matanya bersinar jeli, dan suaranya melengking tinggi di antara kawan-kawanya. Seolah tak pernah ada kesedihan yang tersirat di wajah mentarinya. Gadis yang ramah di mataku. Selalu ada sapaan hangat yang keluar dari mulutnya di saat kita bertemu. Masih kuingat, bagaimana wajahnya berbinar penuh harapan ketika dengan malu-malu ia meminta ijin untuk mengikuti kelasku. Masih teraba dengan jelas, bagaimana usahanya untuk membuatku tampak senang karena ia senantiasa mengikuti instruksiku dengan baik. Pun masih terekam dalam ingatan, betapa aku tampak sangat terkejut melihat kehadirannya diacuhkan oleh kawan sepermainannya.
          Malam itu ia menangis sesenggukan di hadapanku. Jilbab putihnya basah oleh air mata yang tampak begitu memerihkan. Tubuh mungilnya terguncang hebat. Wajahnya tampak acak-acakan dengan anak rambut yang berlarian keluar dari balik kerudungnya. Ahh..andai kau tau, Dinda. Aku sungguh tak pernah ingin mendengar tangis itu di balik keceriaanmu. Andai mampu kuputar waktu sesuai mauku, tentu takkan pernah kubiarkan kau menangis sendirian di atas kasurmu karena nilaimu yang merosot tajam di sekolah. Andai aku mampu menggandakan diriku satu setengah tahun yang lalu, dan berada di sini sebagai konselingmu....tentu takkan pernah kubiarkan mereka menyakitimu, menuduhmu, dan melukaimu sedalam itu. Bahkan andai sekarang aku menjadi jenius dan mampu menciptakan ruang waktu, tentu akan kuhapuskan memori tentang sayatan yang kini telah berkarat di hatimu.
“Aku memang udah ga punya orang tua, Ustadzah. Tapi aku masih ingat, ketika aku kecil...Ibu selalu mengajarkanku kejujuran dalam segala hal. Jadi ga mungkin aku yang mencuri uang teman-teman.” Katamu payah, dalam sesenggukan yang tak kunjung reda.
“Dinda, coba dengar saya. Kamu bisa menjadi apapun yang kamu inginkan. Selama mentari masih bersinar, dan bumi masih berputar..tentu akan ada harapan bagi setiap perubahan. Ketika kamu merasa seluruh dunia menentangmu dan memandangmu sebelah mata, maka buktikan..bahwa kau layak dipandang dengan kedua belah mata mereka.” Kataku perlahan, kalut.
“Lalu siapa yang akan mempercayaiku? Ketika semua orang telah memikirkan hal yang sama dan menghakimiku dengan pikiran mereka masing-masing?” Keraguan  terucap jelas dari mulutmu.
“Saya. Jika di antara sekian ratus kawanmu, hanya saya yang akan mempercayaimu dengan hati dan bukan karena saya konselingmu..maka apakah kamu akan mengecewakan saya kelak?”
Hening...dan isak tangis itu perlahan menghilang. Kepercayaan adalah sesuatu yang dilahirkan, dan bukan dibuat berdasarkan kebutuhan.

#Melukis tentang Atra...

          Pandangan matanya lurus menatap langit-langit kelas, dinding-dinding ruang, dan sudut-sudut kertas yang berserakan. Ada sebuah kepolosan di sana. Aku tak pernah benar-benar mengerti. Ada sepercik harapan di sana. Pun aku masih tak mengerti. Digumamkannya huruf-huruf yang bertebaran pada lembaran buku di hadapannya. Sama sepertinya yang tampak bimbang, aku pun tengah kalut dan bertahan dengan kecamuk pikiranku. Huruf itu makin tak beraturan dibuatnya. Terlipat-lipat. Terbolak-balik. Tercabik-cabik. Dan akhirnya terbaca dengan liar.
          Diseleksia. Retardasi mental. Adakah kata lain yang lebih nyaman untuk membahasakan kisah ini bagi seorang Atra? Tentang Atra dan dunianya. Mungkin aku hanyalah bagian terkecil dari kebahagiaannya. Bahkan mungkin ia sangat membenci huruf-huruf yang kerap kali kusodorkan, begitu pula dengan kehadiranku pada tiap imaginya. Setidaknya itulah yang selalu kupikirkan tiap kali bertatapan dengan bening telaga di wajahnya. Hingga suatu hari, sebuah pelukan hangat mencoba membahasakan kerinduan. Tubuh mungilnya hinggap dan menguatkanku. Membuatku kembali yakin, bahwa aku akan mampu merubahnya menjadi "seseorang" di masa yang akan datang dengan segala keunikan yang ia punya.

#Merangkai tentang kita 

          Cukup. Aku sedang tidak ingin membicarakan tentang siapapun dan apapun. Aku hanya ingin kembali menulis. Itu saja. Ketika hujan ini datang, aku hanya ingin menghadirkan distorsi yang mmbentuk bahasa manis dalam aksara kata. Mulanya aku mencoba menulis tentangmu. Menjadikanmu sebagai poros ide pada setiap bait yang kurangkai. Namun rumit. Sulit. Menghimpit. Meski pada kenyataannya kau pernah mengijinkanku menulis untukmu, tapi tetap saja aku tak mampu. Mungkin itulah sekian dari ketidak sempurnanaanku dalam dimensi kita. Terkadang, itu pula yang membuatku ingin berkata pada Tuhan untuk menghapus sedikit saja jarak yang tergores. Atau setidaknya, memberiku kekuatan penuh untuk tetap berlari pada masa depan yang sama denganmu. Karena sejujurnya aku enggan menjadi utara dan membiarkanmu menjadi selatan. Lalu kita sama-sama kebingungan, menentukan arah dan titik untuk bertemu.

          Menurutmu aku sedang menulis apa? Menulis tentang hidupku yang berupa hamparan kertas, atau menulis tentang kamu yang menjadi gunting dalam tiap gulunganku? Jujur saja, terkadang aku ingin menjadi bagian dalam salah satu kisah rekaanmu. Karena kurasa, hidup ini sudah terlanjur rumit. Dan aku bosan menjadi satu bagian saja dalam hari-harimu. Mungkin hanya siang, tapi tidak menjadi malam. Atau mungkin hanya malam, dan tidak menjadi siang.


Photobucket
         
         :: Aku memandang senja dari balik jendela kamar. Langit berwarna keemasan, bersenyawa dengan ratusan warna yang membias muncrat memenuhi mega. Senja kali ini muram,seperti kemarin dan kemarinnya lagi. Aku tidak galau. Tidak juga rindu. Terlebih lagi gerimis. Entah kenapa akhir-akhir ini aku hanya ingin menulis tentang banyak hal yang berbeda, berserak, untuk kemudian menyatukannya meski aku sendiri tak mengerti. Rasanya melayang. Seperti kupu-kupu bersayap elok yang terbang melintasi beranda, ranting pepohonan, bubungan rumah, hingga menuju angkasa. Bebas. Tanpa sedikitpun cemas. Seperti gerimis yang mampu membawa pelangi di senja hari, aku ingin sekuat itu.
          Hidup ini mungkin seperti lembaran novel. Ada bagian yang ingin kucatat ulang untuk kemudian kuhapalkan baris demi barisnya. Adapula bagian yang tak ingin kusentuh sama sekali. Tiap-tiap bagian adalah sebuah karya. Tentunya bukan mahakarya yang tak pernah ingin kau selesaikan bukan? Aku ingin mengukir jalanku. Ada banyak hal yang menunggu untuk kau renungi, kau hadapi, juga kau raba kembali. Membaca ulang tentang Dinda, Atra, ataupun sang inspirator yang takkan pernah kutemui lagi di kemudian hari. Begitu pula dengan kisahmu hari ini. Hargailah sang waktu, dan cintailah apa yang ada di hadapanmu meski kau tak ingin. ::
“Karena kamu suka hujan, menjadilah seperti ia.” Katamu.


Pernahkah kau menulis tanpa rasa? Maka beginilah (mungkin) yang saya maksud...hambar..tanpa saya pun mengerti apa yang saya tulis.. -____- *penat*
Read More - S P E K T R U M (I wanna play with shadows)