• Kisah Hujan

    Hati, tubuh, jiwa, bisa terganti. Namun tulisan-tulisan kita (kemarin) akan selalu abadi. Entah dimana, di negerinya sendiri.

  • Menerka Hujan

    Percayakah kamu kalau saat hujan turun doa kita lebih bisa terkabul? Jadi kenapa tidak mengubah rindu menjadi doa, lalu semoga semuanya baik saja :)

  • Firasat Hujan

    Di Kota Hujan, kadang karena terlalu dingin, jadi terasa perih.

  • Sajak Hujan

    Puisi-puisiku berlari dalam hujan menuju rindu paling deras; kamu.

  • Senandung Hujan

    Ada senandung Tuhan, dalam tiap tetes hujan. Hujan akan tetap menjadi hujan, nikmat Nya yang tak bisa di dustakan.

  • Kota Hujan

    Hujan tahu kapan harus membasahi kota ini. Hujan juga tahu kapan harus berhenti.

  • Hujan dan Kopi

    Karena aroma secangkir kopi juga sebuah cinta.

  • Dongeng Hujan

    Ada yang percaya bahwa di dalam hujan terdapat lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang rindu. Senandung rindu yang bisa meresonansi ingatan masa lalu.

Untitled

Rabu, 23 Mei 2012
Terkadang aku terlalu takut untuk terus berjalan. Menapaki langkah-langkah baru, dan meninggalkan jejak-jejak rekat berdebu. Tanpa tahu kapan aku mampu menoleh lagi ke belakang. Sekedar meredakan butiran pasir yang terhempas dan mengabur, atau merapihkan setapak yang terserak di ujung perjalanan. Aku takut.

|| Rindu datang di jam 5 kurang.
Ketika arsip kantor telah terkemas rapi,
dan peluh menginginkan rebah untuk melepas letih pada sebuah senja.

Rindu datang dalam diam.
Di antara meja yang sedang dirapikan,
tas yang diselempang, dan kaki yang melangkah perlahan.

Rindu datang mengingatkan
Bahwa diantara setumpuk deadline,
kamu tetap menjadi bagian dari perasaan. 

Halo, ini aku.
Sekarang sedang mampir di cubicle-mu.
Menatap layar pada bait-baitmu.
Mencoba merasakan apa yang tengah kau rasakan,
menangkap jejak jarimu yang sempat pernah ada disitu.

Hai, ini aku.
Hari ini aku sedang rindu. 
Cuma bisa disampaikan dengan cara itu. ||

Sebenarnya kita sama-sama saling mengetahui, hanya saja kita sama-sama saling menunggu. Begitu kah?
Aku takut. Suatu hari nanti waktu akan menelan spasi dan melebarkannya. Aku takut. Suatu hari nanti doa-doa itu tak lagi beterbangan di langit pada sayap-sayap malaikat yang pernah kita pinjam di ujung senja. Aku takut. Kita terlalu nyaman berjalan bersisian, hingga terlupa...bahwa tangan kita tak lagi bergandengan. Aku takut.

Kalau suatu hari nanti antum harus menikah, jangan pernah berubah sikap ya... ;))
*broadcast messages...hahaha...saling mendoakan ya...


Photobucket 

Dedicated for: My Sophie, My Phipi, My Osis, and My Bloofers ...
Read More - Untitled

Sebuah Lagu Untuk Persahabatan ...

Senin, 26 Maret 2012
Jogja of Friendship ...

"Persahabatan itu seperti apa?"

"Haruskah ada kecemburuan dan kegalauan di dalamnya?"

 (hening)

"Entah."

"Buatku, terkadang bukan karena kita acuh maka persahabatan itu menjadi retak. Karena pada kenyataannya, aku masi tetap di sini. Masih menjadi seseorang yang sama seperti yang dulu mereka kenal. Hanya saja, merekalah yang perlahan menjauh. Maybe I'm getting older and older, but for me...friendship's never aging."

"Sama. Aku pun begitu."

"Persahabatan adalah rasa nyaman. Di mana aku melukis pelangi, dan kau menyempurnakan warnanya. Di mana aku mengeja hujan, dan kau menyatukannya. Di mana aku meraba dalam gelap, dan kau meneranginya. Di mana kau menyihir awan, dan aku menjadi keajaibannya. Di mana kau menjejak mega, dan aku meneguhkannya. Di mana kau mengikat hening, dan aku membunuhnya perlahan."


Kusentuh hidungku dengan jari-jari yang hampir mati rasa, dingin. Telapak tanganku sedingin pecahan es batu yang biasa menari-nari di dalam segelas fluida. Mataku tampak sedikit nanar menatap tiap sudut kota yang paling kucintai. Ahh, baru kali ini aku merasa tak nyaman, melupakan hujan, bahkan sangat ingin menangis sekaligus menahannya dalam-dalam.

Pengamen jalanan mulai beraksi, menyuguhkan lagu-lagu menyayat hati. Tangannya sigap menyodorkan kemasan plastik bekas kepada para penumpang sebagai tempat untuk menerima receh-receh, krincing, dan lembaran usang para penikmat jalan raya. Sendu. Merdu. Buatku.

Akan sangat mudah untukku saat harus menangis dalam sunyi. Namun terkadang persahabatan akan selalu menguatkanku, membuatku mampu berdiri tegak lebih lama, dan mendorongku terus berjalan meski perih dan tak ingin.  Mereka menjagaku tetap berada dalam keramain saat aku hanya ingin sebuah keheningan dan keputusasaan.

Rasanya sulit membayangkan, bahwa suatu saat aku pun harus menuliskan tentang sebuah kehilangan. Sebuah jarak dalam lintasan ruang dan waktu tak pernah menjadi beban bagi tiap persahabatan dan genggaman tangan. Membunuh tiap-tiap penat dan kerinduan yang tak pernah mampu kuberi nama dalam sebuah jeda. Ada tawa yang tak pernah mampu kau mengerti bahasanya, ada kisah-kisah yang tak pernah kau tau indahnya, ada sesak yang terhempas dan enyah saat bersamanya. Menembus tiap batas dan kecanggungan. Melawan tiap kesepian yang terasa memuakkan. Lalu seperti sebuah garis, yang kemudian menghilang ke belakang. Menyematkan tiap-tiap kenangan pada nama-nama yang tersimpan hangat. Kami. Ah, kau takkan pernah mengerti. Betapa nyamannya bersandar pada sosok-sosok yang kau sayangi meski tak kau jumpai. Kami. Nama-nama yang terus kurajut, kuletupkan, dan kukunci perlahan pada sebuah ruang yang....ahh, sekali lagi kau takkan pernah mengerti.

Tersentak. Kemudian sekali lagi aku tersadar. Bahwa aku memang telah benar-benar kehilangan. Dan sekali lagi, aku meragu. Selalu. Persahabatan selalu begitu. Bahkan ketika otakku tak mampu merangkai kata apapun, saat tubuhku terasa tak lagi ingin menapaki bayang-bayang tanah yang menggurat, dan saat debarku menjadi kepayahan yang tak kumengerti...persahabatan menjadi sebuah lagu hangat yang membuatku kembali tersadar. Membangunkanku dari mimpi buruk yang menyesakkan. Menguatkan. Memberikan harapan. Bahkan meski ia pun lelah dalam kegamangan.

Terimakasih atas persahabatan yang hangat malam itu. Kalian tau? Menemukan senyuman hangat yang menenangkan dalam setiap kehilangan, adalah seperti merasakan kehadiran tangan Tuhan pada setiap rengkuhan....

Dedicated sangat special to : 

  • Seseorang dengan keletihan yang sangat namun rela menyibak tiap kerumunan untuk kembali mencari dan terus menerus memberikan sebuah senyuman hangat sekaligus kekuatan, bahkan kemudian meminjamkan sesuatu yang sangat ia butuhkan untuk menekan tiap ketakutan dan kehilangan yang kurasakan. 
  • Seseorang yang menggenggam tanganku erat pada sebuah kendaraan roda dua yang melaju lambat. Menguatkanku dan mengatakan, bahwa semua akan baik-baik saja. Menyadarkanku tanpa sedikitpun melukaiku.
  • Mereka yang terus menyemangatiku, mengantarkanku pada arah jalan pulang yang tak lagi tersesat. Menegakkanku dan membantuku tetap tersenyum dalam banyak waktu.
  • Seseorang yang ikut dalam kepanikan meski ia sendiri pun tak mengerti benar tentang apa yang terjadi. Bahkan membantuku menjelaskan, hingga aku tak jadi lumat oleh sebuah amarah.
  • Seseorang yang teramat sangat spesial dalam kisah persahabatanku, seseorang yang selalu ada dalam tiap desahan persahabatan di ruang itu. Menjadi tempat bagi tiap kisah dalam perjalananku. Menjadi tempat sampah bagi tiap ketakutanku. 


Akan ada segudang kerinduan untuk tiap kenangan yang tertinggal di sebuah sudut kemacetan kota. Maafkan atas jalan-jalan yang tak pernah kuhapal dengan sempurna. Semoga kelak tak akan ada kehilangan lagi saat kita ditakdirkan bertemu kembali... :D
"Betapa persahabatan itu benar-benar tanpa syarat...
ketika melihatnya terbatas...
tapi aku tau cintanya luas dan bebas..." @nicksalsabiila

Read More - Sebuah Lagu Untuk Persahabatan ...

Mengeja Hujan ☂

Jumat, 03 Februari 2012
Photobucket
Tadi pagi saya ngobrol sama Hujan. Sudah lama sekali rasanya kita tak pernah punya waktu berdua saja seperti ini. Ada begitu banyak kisah yang ingin saya tumpahkan sampai berbusa-busa pada tiap teduhnya. Seperti biasa, dia selalu menyambut hangat kehadiran saya, meski saya tahu, ia sedang tidak enak badan. Tubuhnya tampak sedikit memucat dan menggigil kedinginan. Hari ini ia bahkan tampak jauh lebih kurus dibanding sebulan lalu, saat terakhir kali saya curhat padanya tentang pangeran dari negri seberang. Maka pagi itu saya tawarkan sebuah jaket hangat untuknya. Jaket kesayangan saya -yang kata dia- saya selalu tampak serasi saat mengenakannya. Ahh, Hujan...kamu selalu saja meninggalkan kenangan yang bisa buat saya senyum-senyum sendiri saat melamun.
Tapi pagi ini dia menolak jaket yang saya angsurkan padanya, katanya, kamu akan lebih nyaman cerita sama saya kalau saya terlihat lebih kuat untuk tempatmu bersandar. Saya  diam. Saya ingin dia tahu bahwa saya pun kuat sepertinya. Tidak boleh menangis. Lalu mulailah saya bercerita padanya, seperti biasa ... tanpa mampu menatap pijar matanya. Karena saya takut akan menangis, dan terlihat cengeng untuk kesekian kalinya.

“Saya lelah. Itu saja. Maka boleh kah saya berhenti?” Kata saya sesak.

“Berhentilah. Bahkan untuk selamanya jika itu membuatmu sakit. Kamu tahu? Saya lebih terluka saat melihat kamu merasa payah.”Kata Hujan perlahan. Menenangkan. Seperti biasa.

“Tapi saya tak pernah ingin menyerah. Saya hanya takut, akan berjalan sendirian saja.” Kata saya lagi.

Napas saya mulai tidak teratur. Sebisa mungkin saya hentikan tiap kristal yang melesak pada retina mata saya. Berdesakan, seolah ingin segera tumpah ruah dan muncrat menyatu pada selisik mega. Hujan terdiam. Dipalingkan wajahnya menjauh. Ia enggan menatap saya. Mungkin benci melihat betapa cengengnya saya.

“Saya ingat, kamu pernah sendirian tanpa saya sebelum kita saling menyapa. Hari itu kamu terbangun dari tidurmu, membuka jendelamu, dan melanjutkan hidupmu dengan penuh ketegaran. Saya ingat, kamu pun pernah sekuat itu. Berlari pada batas mimpi dan impianmu, terjaga dari letihmu, dan mencoba bersisian dengan terik yang kau benci. Bukan kah begitu?”Hujan berkata serak.

Saya tahu, saat ini mungkin tubuhnya tak lagi sekedar hangat. Melainkan sudah mulai limbung dan terasa berat karena suhu demam yang terus meninggi. Tapi dia mencoba tetap berdiri tegak di hadapan saya. Dia tau, saya akan sangat kecewa melihatnya sakit dan tak berdaya.

Hening pun merajai detik-detik yang berlalu di antara kami berdua. Seperti Hujan yang mulai lenyap, saya pun merasa patah dan takut.

Lalu kami mulai saling meniadai. Dia pergi dan mendatangkan pelangi, agar saya tak pernah merasa sendiri.

Jika kamu kehilangan, kamu bisa mencariku. Dan akan menemukanku dari waktu ke waktu.”


Tepi sebuah jendela; Yogyakarta, 3 Februari 2012
Read More - Mengeja Hujan ☂

(Masih) Tentang Cinta Dalam Diam

Kamis, 12 Januari 2012
Untuk seseorang yang seringkali, bahkan hampir selalu menjadi inspirasiku ...

“Selamat pagiiiii ...”
Senang melihatmu masih bisa terbangun dan menatap cahaya berkilauan di luar sana pagi ini. Senang melihatmu kembali bersemangat menjalani hari. Meski kutahu, ada hal-hal yang begitu berat tanpa boleh kau ceritakan padaku dan harus menjadi rahasia-rahasia kecil yang lucu bagi hari-hari kita.

“Selamat bekerjaaa ... “
Bolehkah aku melihatmu dengan mata hati ku saja, untuk hari ini dan seterusnya?
Aku tahu, pagi ini tentu kau telah duduk manis di depan meja kerjamu yang tampak sedikit monoton bagimu. Tapi di sanalah kau akan mulai berkarya dan menumpahkan setidaknya sebagian idemu yang begitu istimewa. Dan, hey ... betapa aku selalu bangga padamu yang mampu menyimpan segala resah dengan begitu rapi. Menyimpannya dalam peti. Untuk kemudian membuangnya jauh pada hamparan stepa mati suatu saat nanti. Entah bersamaku, ataupun kau akan lakukan seorang diri saja. Lalu jemarimu akan mulai mengetikkan angka-angka yang tak pernah kumengerti. Ahh, tak seluruhnya aku tak mengerti, mungkin ada beberapa yang kupahami. Karena sekali lagi, aku selalu melihatmu dan memperhatikanku dengan mata hati ku, meski kau tak pernah tahu.
Aku tak pernah punya banyak kata jika harus bercerita tentangmu. Karena sosokmu sendiri adalah kumpulan kata yang tak pernah mampu kususun sesuai maumu.

Tapi pagi ini aku ingin bercerita padamu. Aku tak peduli jika kau akan mendengarnya sambil lalu ataupun mengacuhkanku karena bosan pada permainan kataku yang itu-itu saja. Karena akulah yang telah mengatur penaku sendiri, agar hanya kau saja yang menjadi inspirasiku. 

Inspirasiku, kau tau tidak? Akhir-akhir ini aku sangat menyukai (tepatnya kembali menyukai) kisah-kisah dongeng di masa kecilku. Di mana kau dan aku belumlah saling mengenal. Di mana kau belum menjadi inspirasiku, dan aku bukanlah sosok yang ada dalam pikiranmu (ah...meski saat ini mungkin juga tidak). Kau tentu tahu tentang kisah Putri Salju, di mana sang putri harus rela tertidur dan menunggu seorang pangeran datang dari negeri jauh untuk menyelamatkan hidupnya. Lalu kisah Cinderella yang harus berlari pontang-panting saat jarum jam menunjukkan pukul 12.00 dan semua keajaiban yang melekat di tubuhnya pun menghilang begitu saja. Kemudian kisah Pangeran Kodok yang harus mendapatkan kecupan seorang putri demi mengembalikan wujud aslinya yang rupawan. Ataupun kisah Rapunzell si putri rambut panjang yang harus rela menjadikan rambutnya dijadikan anak  tangga bagi seorang ksatria pembunuh naga. Bahkan ada juga kisah sepasang bawang (merah dan putih) yang memperebutkan keberadaan seekor ikan ajaib dalam penggorengan.


Inspirasiku, bagimu yang diciptakan dan ditakdirkan tidak se-touchscreen (red. sensitif) aku mungkin hanya akan sekilas pandang dan melupakan kisah-kisah aneh itu begitu saja. Tapi aku dan beberapa perempuan lain di dunia ini mungkin akan terus mengenang dan menyimpannya rapih dalam ingatan. Meski tak harus mempunyai kehidupan sesempurna para putri dalam nageri dongeng, namun kau tentu tahu, kalimat yang sama pada hampir setiap akhir dongeng adalah impian kita semua bukan? And they live happily forever.  Ah, ending kalimat yang benar-benar sempurna.

Photobucket
Dan semalam, aku baru saja merenung dan berpikir tentang aku, kamu, dan semua kisah dongeng masa kecil kita. Tidak. Kupikir tidak semua kisah dongeng itu akan berbeda dan berjalan bersimpangan arah dengan langkah kita di kehidupan nyata. Hanya saja ada sedikit perbedaan. Seperti kisah Putri Salju yang menanti cinta sejatinya dalam tidur panjang misalnya. Bedanya, di kehidupan nyata sang putri tak hanya menunggu dengan tertidur dan memejamkan mata, tetapi ia harus pergi ke sekolah, ke kampus, bahkan ke kantor untuk menemukan sendiri pangeran yang akan menyelamatkannya.

Lalu kisah tentang Cinderella yang harus susah payah mengembalikan atribut ajaibnya pada tengah malam karena terikat janji dengan ibu peri. Tentunya di dunia nyata juga sama. Hanya saja di dunia nyata, sang putri sudah lebih pandai membagi waktu sehingga tidak harus meninggalkan sebelah sepatunya di kantor untuk sekedar meninggalkan jejak. Bahkan mungkin, sang putri sudah lebih berani untuk menanyakan nomor hape dan berpura-pura harus menghubungi sang pangeran dalam urusan pekerjaan untuk lebih dari sekedar meninggalkan kesan.

Tentang kisah Pangeran Kodok pun tak jauh berbeda, hanya saja di dunia nyata ada banyak kodok yang tersebar di muka bumi. Hingga sang putri mungkin harus mengetes satu persatu kodok mana yang akan ia kecup dan ia tolong, agar bukan kodok buruk rupa yang ia dapatkan nantinya. Begitu pula dengan kisah Rapunzell dengan rambut menjuntai hingga bawah menara. Mungkin di dunia nyata si Rapunzell sudah menutup rambutnya dengan hijab, sehingga sang ksatria tak perlu memanjat rambutnya untuk mengalahkan naga, melainkan sekedar naik turun tangga untuk meminang sang putri dari dekapan sayang sang raja, ayahnya. #hahahaha

Dan terakhir tentang kisah Bawang Merah dan Bawang Putih pun tak jauh berbeda. Hanya saja di kehidupan nyata, nama sang tokoh sudah semakin indah karena nama putri negeri dongeng tersebut telah menjadi nama bahan rempah yang lezat. Dan kini mereka tak lagi harus berebut ikan ajaib dalam penggorengan, melainkan menggoreng sendiri ikan-ikan yang telah dibeli di supermarket dan menghidangkannya dengan resep terbaik untuk sang pangeran.

Ahh...aku makin ngelantur ya...
Hai inspirasiku, aku harap kau tidak terang-terangan menertawakan imaginasiku yang sedikit berputar arah ini ya. Andai kau tau, sebenarnya khayalanku ini pun terinspirasi oleh kehadiranmu dalam hidupku. Maka kelak jika kita memang ditakdirkan hidup bersama dan bahagia selama-lamanya seperti para putri dalam dongeng, aku ingin sekali bertanya padamu sejauh mana kau mampu menuliskan tentang hidup. Bisa jadi nantinya kisah tentang hidup yang pernah kurangkai pun akan sangat jauh berbeda di masa yang akan datang.

Karena buatku saat ini,
Hidup itu tentang menunggu hujan di balik jendela dan mengukur teduhnya perlahan melalui bidikan kamera yang serba tidak profesional.
Hidup itu tentang mengerjakan rutinitas yang padat dengan muka pucat, lalu tiba-tiba tersenyum saat mengingat sebuah bayang.
Hidup itu tentang pilihan untuk bersandar di bahu  seseorang meski di sampingnya terhampar sebuah kasur empuk yang tampak jauh lebih nyaman.
Hidup itu tentang berjalan pada arah yang bersimpangan dengan idealisme saat harus dihadapkan pada sebuah kenyataan.
Hidup itu tentang konspirasi Tuhan yang membiarkannya berjalan pada terjalan, tanjakan, juga dataran tanpa tahu pasti arah ranjau akan datang.
Hidup itu tentang tawa kagum pada pelangi yang muncul setelah badan menggigil kebasahan di bawah sebuah atap usang.
Hidup itu tentang berlari mengejar waktu dan terengah karena tak ada tempat yang tersisa dalam sebuah ruang.
Hidup itu tentang menikmati kesunyian di tengah keramaian.
Hidup itu tentang menghitung ruas jalan dan mengukur ketinggian untuk mencapai tujuan.
Hidup itu tentang desahan napas gundah di antara dentingan piano dan petikan gitar.
Hidup itu tentang menggila bersama kawan dan sejenak melupakan jeda dan kesedihan. 
Hidup itu tentang berpijak di atas sebuah bola sakti raksasa yang berputar.
Hidup itu tentang mengingat hal-hal dimasa lalu dan kemudian menertawakannya.
Hidup itu tentang perjalanan waktu, mengulang detik, menit, jam, hari, tanggal, bulan, dan pergantian tahun. 
Hidup itu tentang memilih menggenggam tangan orang lain padahal manusia diciptakan memiliki sepasang tangan yang bisa saling menggenggam tanpa kehadiran tangan lain.
Hidup itu tentang makhluk bernama manusia yang diberkahi Tuhan dengan akal pikiran namun terkadang lebih memilih untuk menjadi hilang akal sejenak ...
Hidup itu tentang .... aku, kamu, kita, dan persahabatan.

Ahh sudahlah, aku takut kamu akan bosan mendengar kicauanku yang tak menentu. Padahal jujur saja, pagi ini aku hanya ingin sedikit menyemangatimu dan membiarkanmu tersenyum lebih lama karena kehadiranku. Terimakasih telah menjadi inspirasi sekaligus imaginasi yang sempurna buatku.

*Seringkali ketika kita hilang harapan, kita selalu berpikir ini adalah akhir dari segalanya. Padahal saat itu Tuhan sedang tersenyum menyaksikan kepanikan kita, seraya berkata, “Tenang sayang, itu hanyalah belokan, bukan akhir dari segalanya.”

milkysmilemilkysmile 
hahahaha ... aku nulis apa sih ya?? jadi bingung sendiri ... hahaha .. kenapa ya? ada yang aneh dan meloncat-loncat dalam batinku tentangmu :P
Read More - (Masih) Tentang Cinta Dalam Diam

There's Never a Perfect Life for a Princess

Minggu, 01 Januari 2012
"Cakrawala. Seperti layar yang memutar adegan demi adegan. Cinta kita. Sandiwara kita. Pelukan-pelukan erat, hingga tangan yang melepas genggaman begitu berat.
Dulu. Dulu sekali. Ketika kau adalah hujan, aku begitu ingin menjadi hutan. Hutan yang menampung semesta hujan. Hingga di suatu hari yang sangat ingin dilupakan, hujan menjelma selangit bah. Menghanyutkan kota. Memporak-porandakan hutan.
Kita saling melawan arah jalan. Melewati jalan-jalan baru. Menuju rumah baru. Sambil ragu berharap ada lagi sebuah pertemuan. Laut menengadahkan tangannya. Seakan siap menerima apa saja yang hendak jatuh dari langit.
Kita tanggalkan siapa diri kita sebenarnya. Malam ini. Masa lalu dan masa sekarang, tak benar-benar berbeda buat kita." #SihirHujan

(( Kadang, kita mencintai seseorang begitu rupa ... hingga tak menyisakan sedikitpun ruang bagi orang lain, bahkan untuk sekedar bertanya "Inikah kebahagiaan yang sebenarnya?" ))

Photobucket

The little story, about a little princess;

Setiap orang ingin mempunyai sebuah kerajaan kecil dalam hidupnya. Mempunyai singgasananya sendiri, tongkat ajaib yang bersinar-sinar cahaya, seekor kuda putih bersayap malaikat, gaun yang indah, mahkota cantik yang merekah mewah, dan seseorang yang mau menjadi bagian terpenting dalam kerajaannya untuk kemudian menempati singgasana terindah di samping tahtanya.

Hidup sang putri akan terasa begitu sempurna. Gemerlap putri impian bagi tiap gadis pada masanya telah menjadi hal yang lumrah bagi takdirnya. Lalu suatu ketika sang waktu akan mulai menjalankan perannya dengan memberikan kutukan-kutukan kecil bagi sebuah kerajaan yang nampak begitu sempurna. Akan ada air mata di sana, akan ada kesedihan menyapa, dan akan ada masa lalu yang tak pernah mampu terlupa.

Sang waktu mengajarkan putri tentang rasa resah, rasa gundah, juga sedikit sesak di dada. Istana yang megah, pengawal yang berbaris tabah, dan harta yang berlimpah kemudian berbisik lirih. Mencoba mengabarkan tentang sedikit perbedaan. Bahwa terkadang, cinta juga mampu berselisih dan tak sejalan.

Kemudian sang putri mencoba mengingat-ingat tentang semua pagi yang alpa ia syukuri karena masih bisa terbangun dan tersenyum untuk cintanya. Semua siang yang ia habiskan dengan merindukannya, juga malam-malam yang ia tutup dengan doa memohon kebahagiaan untuknya. Lalu seperti air mengalir, cinta pun akan mengalir menuju muaranya: keikhlasan.


*Boleh saja kau mengingkari tiap kesedihan, kesakitan, juga letih yang kau rasakan dan mengatakan, “Percayalah, Aku akan baik-baik saja .” Namun ingatlah, alam pun terkadang mendengar desahanmu. Dan Tuhan terus memelukmu erat meski tanpa kau sadari. 

Photobucket






Dedicated to my closefriends; may Allah always giving u happiness,
healing u from the pain,
and give you the most beautiful love ...

Happy New Year, my friends. Then may our dream come true in 2012.
Read More - There's Never a Perfect Life for a Princess