Mencintaimu Dengan Baik

Senin, 16 Desember 2013
Hallo (cinta),
Sudah berapa lama kita tidak saling bersua?

Satu bulan..
  Dua bulan..
    Tiga bulan..
      Empat bulan..
        Atau bahkan satu dekade..

Ada banyak kisah saat kamu tak ada. Tentu saja, bukan melulu tentang cinta kita yang semakin menua. Kita sama-sama belajar mendewasa. Seperti kamu tau, kita bukan lagi remaja merah merona dengan senyum malu-malu, tangan berkeringat, dan degupan jantung serupa desing peluru saat harus kembali bertemu. Banyak memori kita acuhkan begitu saja, mungkin karena terkadang kita perlu jeda dalam perjalanan ini.

Seringkali, kita menghabiskan waktu jumpa dengan sekedar bercerita. Bukan. Bukan saling bercerita seperti seharusnya, karena kamu hanya sibuk mendengarkan saja. Aku berceloteh tentang banyak hal; impian-impian kita, kekesalan-kekesalan yang tertunda, bahkan buku yang baru saja habis kubaca. Dan kamu tak pernah bosan mendengarkan semua cerita, juga semua doa di sela-selanya.

Terkadang aku memaksamu bercerita. Bercerita tentang apa saja. Semua cerita itu tak pernah benar-benar penting buatku, karena kehadiranmu adalah yang paling penting, dan mencintaimu tetaplah menjadi bagian terfavoritku dari semua cerita. Karena bahagia selalu sederhana. Bahagia menuliskan tiap lembar yang tersisa pada buku harianku dengan seluruh cerita-ceritamu, lalu menyelipkan beberapa bagian penting di dalamnya; sepertiga dengan namamu, sepertiga dengan namaku, dan sepertiga lagi dengan doa tentang kita. Tanpa perlu dipisahkan dari masing-masing bagiannya.

Belakangan, betapa aku merindukan suara kita yang tertawa, yang bahkan aku hampir lupa bagaimana bunyinya. Dengan dua bola mata yang berbinar-binar bahagia, dan senyum dengan deretan gigi manis yang kamu banggakan setiap kita jumpa, kamu selalu berhasil membuatku bahagia.

"Bukankah luka ini masih terlalu pagi, untuk membuat kita berhenti." Katamu tiap kali kita menjelma arakan gelombang emosi yang menderu. Karena tentu saja, mencintai adalah perihal menghadapi kesedihan-kesedihan dan tiap tetes air mata bersama-sama.

Lalu suatu hari kita berjalan bersama. Seperti katamu, cukup langkahkan kaki perlahan saja. Tak perlu dengan langkah lebar dan tergesa, karena jemari kita masih harus saling menggenggam. Kita nikmati saja, karena kita masih harus sampai pada ujung perjalanan ini.

Maka jika cinta kita benar-benar tua suatu saat, selalu ada doa yang aku ucapkan diam-diam, “Tuhan, jadikan cintaku cinta yang baik untuk sepasang telinga yang kerap kali mendengarkan cerita ini. Dan jadikan aku mampu mencintainya dengan baik. Cinta yang selalu mengerti, bahwa dibalik punggung yang bergegas pergi, ada aku yang sedang menunggu,”


Tenang saja. Akan ada seseorang yang tidak akan kemana-mana sekalipun kamu dan dia terjebak dalam diam yang lama, sekaligus tetap tinggal mendengarkan dengan saksama, ketika kamu terlalu egois dan sibuk sendirian bercerita. _Karin


dari sini

32 komentar :

  1. halo cerewet :3
    kali ini klo Kèkè baca dia bisa ngambek, karena namanya gak disebut :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo juga, papa jelek...(ɔˇз(˘⌣˘c)♥
      Biarin aja...nama dia aku tulis di hati aku separuh sendiri...nama papa 1/24....hahahhaa... :p

      Hapus
  2. aku ingin mencintaimu dengan baik *ehemm :3

    aku favo-in paragraf 2 & 3 ya bunda keniaaaa >,<

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ehemm...aku juga ingin selalu mencintaimu dg baik mbak yuni...eaaaa...(´▽`ʃƪ)

      Hapus
  3. tuliisannya agak beda waktu dulu masih abegeh dengan sekarang yang mantan abegeh.
    btw tetep keren dan nikmat dibaca, senikmat kopi panas yang dihidangkan di pagi hari

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mas Insan; wkwkwkwk...iya dong bapaak..ah, ntar kalo tulisanku masi sama kaya dulu...dikira maci single...hahahaha...

      Hapus
    2. Mbak Tia; wkwkwkkw...ntar mb pasti rasain deh....eaaaaa...(´▽`ʃƪ)

      Hapus
  4. aahhh.... bikin senyum2 sendiri bacanya mbaa :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Awas ntar dikira knp2 syif...senyum2 gitu..hahaha

      Hapus
  5. wah tergambar keindahannya ya,,, :) selalu speechless dah :)

    BalasHapus
  6. Balasan
    1. ini awa yah? ganti username...jd pangling..eaaa..

      Hapus
  7. wah tulisanya bagus, bisa kebawa suasananya saat baca

    BalasHapus
  8. Halooo kawan. Sudah lama saya tidak main ke sini, huuuuffft.... ternyata langsuuuuuung....
    Disodorkan dengan.....
    "tarian cinta".hahahahaaaaa
    hingga terbayangkan untuk ber'segera'.hahahahaaa
    nice posting sister.:-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihihih...ayoo ayooo bersegeraa kawaann...wkwkwk *kaya nyemangatin apa aja.. :P

      Hapus
  9. Tulisan mbak nik knpa selalu menghipnotis..
    Selalu speechless. Awesome nd Love it {}

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha...aku ga beda sama uya kuya dong kalo gt.. :D

      Hapus
  10. Tulisannya bagus. Salam kenal.

    BalasHapus
  11. Sedang mencari info tentang ritual tarian hujan jepang.. terdampar di coretan tidak penting namun begitu mempesona ini..

    izin menjadikan beberapa bagian kata sebagai bahan tulisan saya..

    Salam,

    Pengagum terbaru anda :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi....seneng deh punya penggemar baru, meski nyasar...makasih ya.. :)

      Hapus
  12. wew.. bunda keikei, tulisanmu mengahangatkan di tengah tarian hujan yang sepekan ini hampir tanpa absen menemani

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwkwk...keikei...panggilan baru...hahaha

      Hapus
  13. Keikei sudah bisa mandi hujan belum bunda :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha...bukan Keikei panggilannya, unca...panggilannya Aya (keajaiban). Oiya, dek juna udah bisa apa, unca?

      Hapus
  14. Tidak tergeser sedetikpun dipikirannya, tetap fokus

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan sebuah jejak persahabatan di sini :)