• Kisah Hujan

    Hati, tubuh, jiwa, bisa terganti. Namun tulisan-tulisan kita (kemarin) akan selalu abadi. Entah dimana, di negerinya sendiri.

  • Menerka Hujan

    Percayakah kamu kalau saat hujan turun doa kita lebih bisa terkabul? Jadi kenapa tidak mengubah rindu menjadi doa, lalu semoga semuanya baik saja :)

  • Firasat Hujan

    Di Kota Hujan, kadang karena terlalu dingin, jadi terasa perih.

  • Sajak Hujan

    Puisi-puisiku berlari dalam hujan menuju rindu paling deras; kamu.

  • Senandung Hujan

    Ada senandung Tuhan, dalam tiap tetes hujan. Hujan akan tetap menjadi hujan, nikmat Nya yang tak bisa di dustakan.

  • Kota Hujan

    Hujan tahu kapan harus membasahi kota ini. Hujan juga tahu kapan harus berhenti.

  • Hujan dan Kopi

    Karena aroma secangkir kopi juga sebuah cinta.

  • Dongeng Hujan

    Ada yang percaya bahwa di dalam hujan terdapat lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang rindu. Senandung rindu yang bisa meresonansi ingatan masa lalu.

Penyihir

Kamis, 26 Maret 2015



Siang begitu terik.
Secangkir moccacino panas di dalam cubicle tetap menjadi pilihan yang terbaik untukku.
Tapi buatmu, selalu espresso lah yang paling pantas menemani berlalunya hari.
Selera yang masih tetap berbeda, seperti biasa. Mungkin karena sedalam apapun cara kita menyesap secangkir kopi; tetaplah sesapan itu terkadang harus terhenti, untuk kemudian diteguk kembali dengan perlahan atau pun tergesa, dengan kedalaman rasa yang berbeda.

Terkadang aku ingin menjadi penyihir saja. Penyihir yang punya ribuan mantra; menyulap setiap hati yang terluka menjadi bahagia, menyulap kita untuk terbang lebih tinggi di angkasa, menyulap setiap impian untuk kemudian menjadi nyata.

Lalu ketika kelak kopi-kopi kita menua menjadi ampas kopi yang berkerak pada setiap dasar cangkirnya, maka sebagai penyihir aku akan mengubahnya kembali hangat dan penuh cerita senja. Bahkan ketika cangkir itu menumpahkan kopinya karena tangan-tangan rusuh kita, aku pun dengan mudah akan mampu mengubahnya menjadi utuh seperti sediakala.


Ah. Aku sedang tidak ingin menjadi seorang pendidik, aku sedang ingin menjadi penyihir saja.

*Sepertimu; ketika menyihirku menjadi tegar dan dewasa, tentu saja :)

Read More - Penyihir

-thought under the rain-

Rabu, 18 Maret 2015


Di antara banyak kesempatan yang hidup sudah berikan,
ada kalanya kamu sedang tidak ingin peduli;
apakah saat ini kerudungmu berantakan, kulitmu mulai memucat,
atau sepatu kesayangan basah terendam hujan.
Apakah letih masih ditemukan dalam kebersamaan,
apa perjalanan cinta kelak mencapai ujung jalan;
dan apakah kamu akhirnya bahagia bersama sang pangeran.

Tapi diam-diam sesuatu tetap menggelitik pelan.
Di antara sekian banyak ketidakpedulian yang berusaha kau abaikan,
kamu tahu hati kecilmu tetap merindukan keajaiban,
menghidupi kembali cinta yang dibiarkan tergeletak di pojokan.

Lalu kamu mengijinkan seseorang untuk melukis harapan-harapan.

Tentang keberanian untuk menghampiri terang,
yang biasanya cuma diintip diam-diam;
padahal di sana lah tiap bagian darimu disempurnakan.
Tentang iman bersayap yang membuat langit terbuka,
tentang jiwa yang hidup ketika berani bahagia.


...dan kemudian di bawah hujan, kamu berpikir;
untuk kembali peduli.
Read More - -thought under the rain-

Sesederhana itu...

Jumat, 13 Maret 2015
"Mencintaiku tentu tak perlu menjadi sesuatu.
Cukup menjadi dirimu.
Dengan balutan cinta yang menyatu di segala waktu.
Sesederhana itu."


Maka ketika terkirim sebuah cinta, tentu cinta yang sederhana saja.
Karena kurasa ia adalah seseorang teristimewa,
sebab Tuhan telah memintanya menjaga seorang wanita; yang biasa saja.


*dan kemudian tulisan pertama di bulan Maret; setelah semua luka, tawa, air mata, juga melupa. Entahlah.
Read More - Sesederhana itu...