Penyihir

Kamis, 26 Maret 2015



Siang begitu terik.
Secangkir moccacino panas di dalam cubicle tetap menjadi pilihan yang terbaik untukku.
Tapi buatmu, selalu espresso lah yang paling pantas menemani berlalunya hari.
Selera yang masih tetap berbeda, seperti biasa. Mungkin karena sedalam apapun cara kita menyesap secangkir kopi; tetaplah sesapan itu terkadang harus terhenti, untuk kemudian diteguk kembali dengan perlahan atau pun tergesa, dengan kedalaman rasa yang berbeda.

Terkadang aku ingin menjadi penyihir saja. Penyihir yang punya ribuan mantra; menyulap setiap hati yang terluka menjadi bahagia, menyulap kita untuk terbang lebih tinggi di angkasa, menyulap setiap impian untuk kemudian menjadi nyata.

Lalu ketika kelak kopi-kopi kita menua menjadi ampas kopi yang berkerak pada setiap dasar cangkirnya, maka sebagai penyihir aku akan mengubahnya kembali hangat dan penuh cerita senja. Bahkan ketika cangkir itu menumpahkan kopinya karena tangan-tangan rusuh kita, aku pun dengan mudah akan mampu mengubahnya menjadi utuh seperti sediakala.


Ah. Aku sedang tidak ingin menjadi seorang pendidik, aku sedang ingin menjadi penyihir saja.

*Sepertimu; ketika menyihirku menjadi tegar dan dewasa, tentu saja :)

2 komentar :

  1. akhirnya..bisa mampir lagi, sampil menyeruput coffe late n ditemeni backsound nya...
    whatever your condition is, become a "pendidik" is a noble things to do.. and yo can be a "pendidik" and "penyihir" in the same time.... #okemulaimeracau #abaikan
    Glad to be here nik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahaha. I see. Be a penyihir and pendidik in the same time. Sounds so good and joyful, hahahaa :D

      Hapus

Terima kasih telah meninggalkan sebuah jejak persahabatan di sini :)