Gerbong Kereta

Rabu, 08 April 2015
Pada suatu hari, aku menemukanmu;
di sisi gerbong kereta.

Kedua tanganmu bertumpu pada meja kecil di tepian bangku, menyangga sebuah dagu dan sepasang mata yang menatap keluar jendela, pada sebuah perjalanan dalam ribuan perjalanan di pikiranmu.
Sebuah perjalanan panjang yang ditumbuhi pepohonan rindang, tiang listrik yang tampak berjalan, angin semilir, dan padang rumput yang bergoyang-goyang.

Suara berisik roda kereta yang beradu pada rel besi panjang, hiruk pikuk para penjaja yang memaksa masuk, dan teriakan peluh menjadi terabaikan oleh teduh di peluhmu.

Semenjak itu, 
aku ingin mengenalmu. 
Aku ingin membuka satu gerbong kereta khusus tentangmu; yang namanya adalah namamu, dengan gelas kertas berisikan kopi pekat pada tiap tepian jendela kacanya. 
Dan di bangku panjangnya, ada sebagian dari hidupku dengan kata-kata yang tersusun rapi tentang perasaan yang rumit. 
Lalu di luar kereta, akan membentang berhektar ladang yang dihiasi lampu pijar temaram pada malam-malam yang menjelang.

Tentu saja. Masih di gerbong kereta khusus tentangmu; yang namanya adalah namamu.


6 komentar :

  1. Yang namanya sudah tercatat di Laul mahfuz... :D

    BalasHapus
  2. Manis puisinya ditambah latar musik blognya. <3

    Salam kenal ya, kita sama-sama mencintai hujan ternyata ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasi yah mba..udah bkunjung ke negri hujan :)

      Hapus

Terima kasih telah meninggalkan sebuah jejak persahabatan di sini :)