Tentang Senja

Rabu, 24 Juni 2015

Yogyakarta, Ramadhan hari ke 6 at 02;15 am.


Sebuah perjalanan, bagaimana pun bentuknya, akan memberi persepsi baru tentang hidup.

Pukul tiga, aku tergesa gesa. 
Segera kurapikan meja, membersihkan jendela, lalu memastikan tak ada debu yang menempel di sana. Aku harus bergegas sebelum pukul lima, sebelum senja menampakan jingganya, sebelum kamu tiba terlebih dahulu di sana.

Lalu senja itu kita bicara dalam diam, hanya kita yang mengerti.
Aku. Kamu. Menikmati waktu.
Aku. Kamu.
Sepotong senja.
Tentang aku, secangkir kopi, dan sebuah ingatan.
Seperti biasa, meski di langit mana pun senja kita tetaplah begitu.
Senja yang teramat sederhana. Tapi selalu kusuka.
Karena senja tak pernah berdusta soal warna. Katamu.

Ah ya, aku sudah bilang padamu belum? Sekarang, aku sedang belajar untuk tidak lagi minum kopi saat senja tiba.


Beberapa hal mungkin tak pernah kamu dengar dariku. Bahwa cinta pernah kumiliki serupa debar yang tak pernah bisa kujelaskan mengapa. Aku hanya sanggup berjanji tidak akan melukaimu. Itu saja.
Namun ternyata benar, setiap manusia berhak untuk merasa lelah tanpa dipaksa bangkit, berhak untuk merasa sedih tanpa dipaksa senyum. Segala luka akan sembuh pada waktunya. Karena Tuhanku senantiasa mencintaiku lebih dari yang aku perlu :)

Untuk setiap tawa yang Kau hadirkan dalam keseharian, Tuhanku, terima kasih banyak ya.
Untuk semua teman baik serta menyenangkan yang Kau datangkan dari mana saja, Tuhanku, beribu ucapan terima kasih pun rasanya tidak akan pernah cukup.
Untuk segala doa yang terus menerus merengkuhku dari jauh, untuk semua kebaikan yang selalu berebut datang kepadaku,
juga untuk semesta yang tak pernah alpa tersedia, aku sungguh-sungguh mengucap terima kasih.
Untuk segala doa dari seseorang rahasia yang menemaniku belakangan, terima kasih telah mempertemukan kami dipersimpangan jalan sehingga kami bisa saling mengerti.

Maka nikmat Tuhanmu mana lagi yang dapat kau dustakan?
Jawabannya tentu saja tidak ada, Tuhanku.
Tidak akan pernah ada.
Terima kasih banyak karenanya.


 Permisi. Kau masih ingat hati yang dulu kau hancurkan?
Ternyata ia selamat dan bertambah kuat.
Tapi maaf, bukan lagi untukmu :)



*dedicated to; my best friend Diana from Sudra caste. Huahahaha.

8 komentar :

  1. makasih bebeph buat tulisannya,,,,sesuatu banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hallo bebep kesayangan akooh.. :P

      Hapus
  2. hmm,,selalu..kalo kata ilma,,bikin spechless... :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. ciyee...ilma lagii..ilma lagii :D

      Hapus
  3. bahasa kekinian sekarang tuh pasti "nikmat tuhan mana yang engkau dustakan?" hahaha kerenkeren

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha...itu bahasa al quran yang ternyata egitu kekinian :D

      Hapus
  4. Klakson untuk segala kendaraan klakson telolet
    blog ku blog iseng nulis
    Blog pribadiku Mas doni
    Info kesehatan penyebab impotensi
    Suka game pc ? saya jual game pc
    Blog pribadiku silahkan diklik
    Blog pribadiku silahkan diklik

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan sebuah jejak persahabatan di sini :)